Fonetik : Fonem Khas Bahasa Jawa di Kabupaten Tuban

Note : Publikasi ini hanya sebagai bahan referensi mungkin ada yang membutuhkan referensi kajian serupa. So, jadilah pembaca yang cerdas. Stop plagiarism!

 

BAB I

PENDAHULUAN

 1.1    LATAR BELAKANG

Masyarakat dan bahasa adalah entitas yang tidak bisa dipisahkan. Oleh sebab itu, bahasa yang digunakan dalam hidup bermasyarakat bersifat dinamis dan berubah dari waktu ke waktu. Dari dinamika inilah bahasa yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi berbeda-beda dari kelompok penutur yang satu dengan yang lain. Perbedaan ini bukan hanya disebabkan oleh sebuah kebudayaan tertentu, namun juga letak geografis dan sifat historis penyebaran bahasa itu sendiri. Berdasarkan Kramsch (1998:3-7), berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, bahasa merupakan ekpresi dan perwujudan budaya. Sesama masyakrakat pendukung budaya sekaligus penutur suatu bahasa tersebut mempunyai kode linguistik serupa, baik gramatikal, leksikal, fitur fonologi, dan unsur kebahasaan lain, yang mana aspek-aspek spesifik itu tidak sama antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Sehingga, satu bahasa selalu mempunyai karakteristik dan ciri linguistik masing-masing.

Terkait dengan unsur kebahasaan, fitur fonetik dan fonologi suatu bahasa mempunyai variasi yang unik. Selain itu, proses penghasilan bunyi dapat diidentifikasi guna penentuan karakteristik bahasa tertentu, yang nantinya wujud bunyi dari proses fonetis itu akan menjadi sesuatu yang unik dalam bahasa. Mengutip ide dari Fromkin dkk (2014:191-192) bahwa terdapat proses produksi bunyi khas dalam fonem tertentu yang diproduksi oleh penutur. Keunikan setiap fonem yang dimiliki penutur tersebut tentu sangat lekat kaitannya dengan kesepakatan pengucapan bahasa tertulis dalam bentuk alfabet setiap kelompok penuturnya. Sehingga, akan ada perbedaan gelombang suara atau bentuk bunyi yang mewakili simbol alfabet yang sama dari bahasa-bahasa tertentu.

Dalam kajian fonetik ini, penulis lebih berfokus terhadap bahasa yang menjadi bahasa primer hampir seluruh penduduk Indonesia, yaitu Bahasa Jawa. Berdasarkan Poedjosoedarmo (1982:5), Bahasa Jawa mempunyai jumlah penutur 47% dari populasi Indonesia, sehingga Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa terpenting diantara bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Pada kenyataannya, meskipun Bahasa Jawa mempunyai dasar yang sama, setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing, baik dari segi diksi maupun fonem yang berkembang dalam interaksi antar penuturnya. Sebagai batasan area kajian, penulis memfokuskan pada Bahasa Jawa yang berkembang di Kabupaten Tuban karena memang beberapa pengucapan fonem, Bahasa Jawa Tuban berbeda dengan dialek Bahasa Jawa yang berkembang, yaitu dialek Surabaya, Yogyakarta, dan Banyumas meskipun Kabupaten Tuban terletak di Jawa Timur yang identic dengan dialek Surabaya.

Oleh karena itu, keunikan tersebut harus digali agar penutur semakin memahami pola kebahasaan yang mereka gunakan karena nantinya dalam kehidupan bermasyarakat mereka akan mengalami kontak budaya dan bahasa dengan masyarakat lain. Bahkan, tidak bisa dipungkiri bahwa para penutur Bahasa Jawa sudah mempelajari bahasa-bahasa lain, baik nasional (Bahasa Indonesia) maupun internasional, seperti Bahasa Inggris. Namun, dalam proses pembelajaran, penutur Bahasa Jawa sedikit banyak dan tidak sengaja melakukan kesalahan pengucapan fonem bahasa asing tersebut. Seperti pada pengucapan vokal [æ] pada kata cat, penutur Bahasa Jawa, terutama daerah Tuban dan sekitarnya, lebih sering mengganti bunyi [æ] menjadi [I] seperti pada kata mulih (dibaca mul[I]h).

Untuk mengurangi kesalahan produksi bunyi-bunyi ketika para penutur asli bahasa daerah, terutama Bahasa Jawa, dalam proses mempelajari bahasa lain, kajian fonetik mendalam mengenai bunyi-bunyi khas Bahasa Jawa daerah Tuban harus dikembangkan. Sebagai kontribusinya, pemaparan gagasan tentang beberapa konsonan Bahasa Jawa di Kabupaten Tuban yang sering bersinggungan dengan konsonan bahasa lain ketika diucapkan akan membantu pembaca lebih mengenali perbedaan letak sumber bunyi masing-masing fonem serta bagaimana bunyi-bunyi khusus tersebut diproduksi. Sehingga, kepekaan bahasa penutur Bahasa Jawa dalam mempelajari bahasa-bahasa lain akan memudahkan mereka menguasai bahasa-bahasa tersebut.

1.2    RUMUSAN MASALAH

  • Bagaimana penggunaan bunyi vokal [I] dan [ə] dalam Bahasa Jawa di Kabupaten Tuban?
  • Bagaimana perbandingan area artikulasi bunyi [t], [ŧ], [d], [đ], [ñ] dalam Bahasa Jawa Kabupaten Tuban?
  • Bagaimana cara artikulasi masing-masing bunyi [t], [ŧ], [d], [đ], [ñ] dalam Bahasa Jawa Kabupaten Tuban?

1.3   TUJUAN

  • Menjelaskan penggunaan bunyi vokal [I] dan [ə] dalam Bahasa Jawa di Kabupaten Tuban
  • Menjelaskan perbandingan area artikulasi bunyi [t], [ŧ], [d], [đ], [ñ] dalam Bahasa Jawa Kabupaten Tuban
  • Menjelaskan cara artikulasi masing-masing bunyi [t], [ŧ], [d], [đ], [ñ] dalam Bahasa Jawa Kabupaten

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       FONETIK

Kajian penulis mengenai bunyi-bunyi khas beberapa konsonan fonem Bahasa Jawa dapat dipaparkan berdasarkan landasan teori ilmu fonetik. Menurut Verhaar (1996:19), fonetik merupakan ilmu yang mempelajari tentang unsur fisik bunyi-bunyi bahasa, dimana unsur fisik tersebut dibagi menjadi dua, yaitu segi penggunaan alat-alat ucap untuk memproduksi bunyi dan segi sifat akustik bunyi yang dihasilkan. Serupa dengan gagasan Verhaar, Genetti (2014:25) juga mendeskripsikan fonetik sebagai bidang ilmu yang dapat menjawab pertanyaan berkaitan dengan tinggi rendah bunyi yang diproduksi seorang penutur, bagaimana perubahan bunyi dapat terjadi dalam bahasa baik bahasa nada maupun bukan nada, juga bagaimana penekanan kata dibedakan antara kelas kata satu dengan yang lain. Dengan demikian, teori fonetik sangat erat kaitannya dengan produksi bunyi-bunyi tertentu dalam suatu bahasa.

2.2       JENIS-JENIS FONETIK

2.2.1    Fonetik Akustik

Fonetik akustis berkaitan dengan penyelidikan bunyi sebagai getaran udara Verhaar (1996:20). Dalam penjelasannya, Verhaar memaparkan tentang pembentukan gelombang akibat pergerakan partikel-partikel udara dan tabrakan antar partikel. Maka, ketika berbicara tentang gelombang, fonetik akustik erat kaitannya dengan kajian frekuensi bunyi, amplitudo, dan resonansi.

2.2.2    Fonetik Auditoris

Fonetik audiotoris disebut juga disebut juga fonetik perseptual, yaitu bidang fonetik yang fokus terhadap kajian penerima gelombang suara, serta melalui alat pendengaran (Yule 2010:26).

2.2.3    Fonetik Artikulatoris

Ketika manusia memproduksi suara, ada proses udara keluar dari paru-paru menuju rongga-rongga mulut atau rongga hidung. Dengan adanya hambatan, bunyi dapat diproduksi oleh pita-pita suara melalui proses penyempitan, sehingga udara akan bergetar. Menurut Ladefoged (2001:11-13), berdasarkan tempat hambatan dan penyempitan udara, area artikulasi dapat dikelompokkan menjadi :

  • Bilabial : bunyi ini dihasilkan oleh bibir atas dan bibir bawah
  • Labiodental : dihasilkan dengan menggerakkan bibir bawah untuk menyentuh gigi atas bagian depan.
  • Dental : diproduksi di antara ujung lidah dan gigi atas bagian depan. Menghasilkan bunyi ini dapat dilakukan dengan cara menyisipkan ujung lidang ke gigi depan atas.
  • Alveolar : terletak di antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi atas. Bunyi alveolar dapat dihasilkan ketika ujung lidah menyentuh lengkung kaki gigi atas dengan beberapa posisi lidah yang berbeda sehingga menghasilkan beberapa bunyi..
  • Retoflex : dihasilkan oleh di antara ujung lidah dan langit-langit keras.
  • Palato-Alveolar : dihasilkan antara daun lidah dan lengkung kaki gigi belakang. Bunyi ini dapat diproduksi ketika ujung lidah berada di belakang gigi depan bagian bawah atau berada di atas dekat lengkung kaki gigi dengan daun lidah selalu berdekatan dengan sisi belakang lengkung kaki gigi.
  • Palatal : bunyi ini terjadi di antara bagian depan lidah dan langit-langit keras dengan cara mengangkat lidah hingga menyentuh langit-langit keras.
  • Velar : diproduksi di antara pangkal lidah dan langit-langit lunak.
  • Glottal : bunyi ini terjadi jika aliran udara melewati celah suara kemudian lidah dan bibir seperti akan menghasilkan bunyi vokal.

Alat-alat ucap tersebut menghasilkan berbagai macam bunyi konsonan tergantung dimana pergerakan lidah menyentuh titik tertentu dalam rongga mulut. Dalam ilmu fonetik, bunyi konsonan dapat dibedakan menjadi 9 berdasarkan cara artikulasinya (Verhaar, 1996:34-37)

  • Konsonan letupan : dihasilkan karena hambatan udara di tempat artikulasi tertentu kemudian udara tersebut dilepaskan sehingga berbentuk letupan. Letupan tersebut dapat dihasilkan di antara bibir, antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, antara ujung lidah dan langit-langit keras, antara tengah lidah dan langit-langit keras, dan antara pangkal lidah dan langit-langit tekak.
  • Konsonan kontinuan : anggota dari konsonan kontinuan adalah semua konsonan kecuali konsonan letupan. Maksudnya kontinuan adalah dapat dilanjutkan pelafalannya/diikuti vokal langsung dan adanya halangan terhadap udara.
  • Konsonan sengau : diproduksi akibat arus udara yang terjebak dalam rongga mulut kemudian mencari jalan keluar melalui rongga hidung. Tempat terjadinya cara artikulasi ini yaitu di antara bibir, antara ujung lidah dan lengkung gigi atas, antara tengah lidah dan langit-langit keras, antara pangkal lidah dan langit-langit lunak.
  • Konsonan sampingan : dihasilkan karena adanya halangan udara sehingga hanya dapat keluar melalui sisi lidah saja. Tempat artikulasi konsonan sampingan adalah antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi.
  • Konsonan frikatif : dihasilkan sebagai akibat dari sebagian besar arus udara yang terhambat pada beberapa tempat, seperti antara pangkal lidah dan anak tekak, antara akar lidah dan langit-langit lunak, antara pangkal lidah dan langit-langit keras, antara daun lidah dan lengkung kaki gigi, antara ujung lidah dan gigi atas, antara bibir bawah dan gigi atas, serta antara kedua bibir.
  • Konsonan afrikat : dihasilkan dengan cara menghambat udara pada tempat artikulasi tertentu kemudian dilepaskan dengan cara seperti menghasilkan bunyi frikatif. Tempat artikulasi yang dapat memproduksi konsonan afrikat adalah antara tengah lidah dan langit-langit keras dan antara daun lidah dan lengkung kaki gigi.
  • Konsonan getaran : merupakan campuran antara frikatif dan letupan, sehingga adanya pengulangan cepat antara penghambatan dan pelepasan udara. Tempat artikulasi getaran adalah alveolar, dimana ujung lidah menyentuh lengkung kaki gusi, dilepaskan, lalu menyentuh kembali.
  • Konsonan aliran : merupakan konsonan kontinuan yang tidak frikatif.
  • Konsonan kembar : terjadi karena adanya perpanjangan pelafalan menurut tempat artikulasi konsonan yang bersangkutan.

 

2.3       BUNYI KHAS BAHASA JAWA KABUPATEN TUBAN

2.3.1    Bunyi vokal [I]

Meskipun semua dialek Bahasa Jawa mempunyai bunyi vokal sama yang terdiri atas bunyi [a], [i], [u], [e], [o], [ε], [ə], [ʊ], dan [I], tiap-tiap dialek memiliki perbedaan dalam penggunaannya. Di kabupaten Tuban, ternyata terjadi percampuran dialek karena kabupaten Tuban terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Akibatnya, ada beberapa dialek yang berbeda dari dialek Bahasa Jawa pada umumnya, khususnya bentuk pengucapan bunyi vokal [I].

Pada Bahasa Jawa yang berkembang menjadi bahasa primer masyarakat Tuban, simbol alfabet “i” yang terletak di suku kata akhir sebelum bunyi glottal [h] tidak diucapkan seperti dialek Surabaya. Jika dalam dialek Surabaya, simbol alfabet “i” seperti dalam kata “putih” selalu diucapkan dengan bunyi [e], maka dalam Bahasa Jawa Kabupaten Tuban, bunyi “i” tersebut akan diucapkan dengan bunyi [I]. Uniknya, perbedaan pengucapan bunyi vokal tersebut hanya ada dalam tingkat tutur ngoko (tingkat tutur paling rendah). Selebihnya, dalam tingkat tutur madya (tingkat tutur menengah) dan krama (tingkat tutur tertinggi), Bahasa Jawa dialek Surabaya tidak memiliki perbedaan dengan Bahasa Jawa di Kabupaten Tuban. Berikut adalah contoh bunyi unik [I] dalam Bahasa Jawa Kabupaten Tuban:

Capture

2.3.2    Bunyi vokal [ə]

Semua dialek Bahasa Jawa memiliki bunyi [ə] baik di suku kata awal, tengah, maupun akhir. Namun, Bahasa Jawa yang berkembang di Kabupaten Tuban memiliki ciri khas dalam penggunaan bunyi [ə] di akhir suku kata sebelum konsonan bilabial [m]. Jika semua dialek Bahasa Jawa memiliki bunyi [ə] di akhir suku kata sebelum konsonan bilabial [m] seperti pada kata adem (dingin), tentrem (tenteram), merem (memejamkan mata), dan kosakata standar Bahasa Jawa yang lain, para penutur asli Kabupaten Tuban selain sama-sama memiliki kosakata tersebut, mereka juga memiliki bunyi [ə] diikuti konsonan [m] untuk menunjukkan kepemilikan (mu) seperti pada dialek Bahasa Jawa pada umumnya. Sehingga, Bahasa Jawa ciri khas tuban mempunyai banyak bunyi vokal [ə] diikuti konsonan [m]. Seperti hal nya penggunaan bunyi [I] dalam penjelasan sebelumnya, penggunaan bunyi vokal [ə] hanya terdapat dalam tingkat tutur ngoko. Perbedaan antara ekspresi kepemilikan dalam Bahasa Jawa standar Bahasa Jawa di Tuban adalah seperti berikut:

Ngoko
Kosakata Bahasa Jawa Dialek Surabaya Bahasa Jawa di Tuban
Drijimu (Jarimu)Bapakmu (Bapakmu)

Ibumu (Ibumu)

Sikilmu (Kakimu)

Dengkulmu (Lututmu)

 

DrijimuBapakmu

Ibumu

Sikilmu

Dengkulmu

Drijinem : drijin[ə]mBapakem : bapak[ə]m

Ibunem   : ibun[ə]m

Sikilem   : sikil[ə]m

Dengkulem : dengkul[ə]m

Madya/krama
Untumu (gigimu) Wajanipun sampean/panjenengan Wajanipun sampean/panjenengan
Tanganmu (tanganmu) Astanipun sampean/panjenengan Astanipun sampean/panjenengan
Dhuwitmu (uangmu) Yatranipun sampean/Artanipun panjenengan Yatranipun sampean/Artanipun panjenengan
Omahmu (rumahmu) Dalemipun sampean/panjenengan Dalemipun sampean/panjenengan
Klambimu (bajumu) Agemanipun sampean/panjenengan Agemanipun sampean/panjenengan

 

2.3.3    Bunyi [t] dan [ŧ]

Dalam Bahasa Jawa Kabupaten Tuban, kosakata Bahasa Jawa baik dalam NgokoMadya, maupun Krama, mempunyai banyak perbendaharaan kata yang menggunakan bunyi [t] dan [d]. Bunyi [t] yang terdapat dalam kata timbo (ember) sangat berbeda pengartikulasinya dengan bunyi [ŧ] yang ada pada kata pethak (krama) dari kata putih. Bunyi [t] dan [ŧ] dalam Bahasa Jawa Kabupaten Tuban sama dengan bunyi yang ada pada Bahasa Jawa standar atau dialek Surabaya.

Perbandingan kedua bunyi tersebut dapat dilihat dari tempat artikulasi dan cara artikulasinya. Perbedaannya adalah bunyi [t] dapat diproduksi penutur di antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi atas. Maka, tempat artikulasi bunyi ini adalah alveolar. Sedangkan bunyi [ŧ] dalam kata pethak dihasilkan di antara ujung lidah dan langit-langit keras. Artinya, bunyi ini berada pada retoflek. Meskipun terletak di awal, tengah, atau akhir kata, kedua bunyi ini tidak memiliki perbedaan tempat artikulasi, namun seringkali bunyi [ŧ] terletak di suku kata tengah dan akhir. Bunyi-bunyi tersebut terdapat dalam ketiga tingkat tutur Bahasa Jawa dengan beberapa perubahan. Adakalanya bunyi [t] yang terdapat dalam ngoko berubah menjadi bunyi [ŧ] ketika kosakata tersebut dalam tingkat Madya/krama. Contoh-contoh bunyi [t] dan [ŧ] dalam Bahasa Jawa di masing-masing tingkat tuturnya adalah adalah berikut ini :

Ada perubahan bunyi [t] –> [ŧ]
Ngoko Madya/ Krama
putih (putih) : pu[t]ih Pethak : pe[ŧ]ak
   
   
Tidak ada perubahan
tuku (membeli) : [t]uku tumbas/ mundhut : [t]umbas/mundhu[t]
turah (lebih)      : [t]urah Tirah       : [t]irah
tampa (terima)  : [t]ampa tampi      : [t]ampi
watuk (batuk)   : wa[t]uk Watuk     : wa[t]uk
ganti (ganti)     : gan[t]i gantos     : gan[t]os
thuthuk (memukul) : [ŧ]u[ŧ]uk thuthuk  : [ŧ]u[ŧ]uk
bathuk (dahi)      : ba[ŧ]uk bathuk    : ba[ŧ]uk

 

Di sisi lain, bunyi [t] dan [ŧ] ternyata memiliki persamaan pada cara artikulasinya, yaitu menghambat udara di tempat artikulasi tertentu kemudian udara dilepaskan dalam bentuk letupan. Maka, kedua bunyi tersebut sama-sama konsonan letupan, hanya saja tempat untuk menghambat udaranya yang berbeda. Bunyi [t] dihambat di antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, namun bunyi [ŧ] dihambat di retoflek.

Perbedaan artikulasi bunyi-bunyi tersebut berpengaruh ketika penutur asli Bahasa Jawa mempelajari bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Umumnya penutur Jawa mengalami kesulitan dalam pembedaan bunyi alveolar [t] dan bunyi labiodental [ð] seperti dalam kata teach (alveolar) dan think (labiodental)Karena memang tidak ada bunyi [ð] dalam Bahasa Jawa, para penutur seringkali mengucapkan bunyi [ð] dengan cara seperti mengucapkan bunyi [t] pada kata think.

2.3.4    Bunyi [d] dan [đ]

Seperti hal nya bunyi [t] dan [ŧ], bunyi [d] dan [đ] juga menjadi ciri khas Bahasa Jawa, baik Bahasa Jawa standar maupun Bahasa Jawa di Kabupaten Tuban. Semua tingkat tutur Bahasa Jawa mengandung bunyi tersebut, namun jika seorang penutur bukan asli orang Jawa akan sedikit sulit membedakan kedua bunyi ini. Bahkan, ketika bahasa lisan merupakan bahasa primer yang dikuasai penutur sejak lahir, anak-anak dibawah 7 tahun masih belum menguasai bunyi [d] dan [đ] ketika diaplikasikan dalam kata-kata sehari-hari.

Berdasarkan tempat artikulasinya, kedua bunyi tersebut sangat berbeda. Bunyi [d] memiliki persamaan tempat artikulasi dengan bunyi [t], sedangkan bunyi [đ] mempunyai persamaan tempat artikulasi dengan bunyi [ŧ]. Artinya, bunyi [d] dapat dihasilkan di antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi atas – disebut alveolar – dan bunyi [đ] dihasilkan di antara ujung lidah dan langit-langit keras, disebut retoflek. Kedua bunyi tersebut dapat terletak di suku kata bagian depan, tengah, namun tidak di  belakang (untuk bunyi [đ]). Contoh-contoh bunyi [d] dan [đ] dalam Bahasa Jawa adalah berikut ini :

Ada perubahan bunyi [d] menjadi [đ]
Ngoko Madya/ Krama
duwe (punya)  : [d]uwe gadhah     : ga[đ]ah
kandha (memberitahu) : kan[đ]a ngendika : ngen[d]ika
wedhus (kambing)  : we[đ]us menda      : men[d]a
Tidak ada perubahan
dadi (jadi)    : [d]a[d]i dados      : [d]a[d]os
dina (hari)    : [d]ina dinten     : [d]inten
kudu (harus) : ku[d]u kedah     : ke[d]ah
joged (menari) : joge[d] joged      : joge[d]
sendhok (sendok) : sen[đ]ok sendhok : sen[đ]ok
cindhil (nama anak tikus) : cin[đ]il cindhil   : cin[đ]il
gludhug (petir)  : glu[đ]ug gludhug : glu[đ]uk

 

Selain perbedaan, bunyi [d] dan [đ] memiliki persamaan pada cara artikulasinya, yaitu menghambat udara di tempat artikulasi tertentu kemudian udara dilepaskan dalam bentuk letupan (sama seperti bunyi [t] dan [ŧ ] ). Maka, kedua bunyi tersebut sama-sama konsonan letupan, hanya saja tempat untuk menghambat udaranya yang berbeda. Bunyi [d] dihambat di antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, namun bunyi [đ] dihambat di retoflek.

Ketika penutur Bahasa Jawa mempelejari bahasa lain, Bahasa Inggris, mereka tidak akan kesulitan karena sudah terbiasa dengan pengucapan bunyi [đ]. Hanya saja, keunikan bunyi [d] dalam Bahasa Jawa tentu tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa lain yang banyak dipelajari oleh penutur Bahasa Jawa, yaitu Bahasa Inggris karena Bahasa Inggris hanya mempunyai satu bunyi yang terletak pada artikulasi alveolar.

2.3.5    Bunyi [ñ]

Bunyi konsonan khas yang lainnya dari semua dialek Bahasa Jawa, termasuk Bahasa Jawa di Tuban adalah bunyi [ñ]. Dalam Bahasa jawa, bunyi tersebut hanya terletak pada suku kata bagian depan dan tengah. Umumnya, bunyi [ñ] yang terletak pada suku kata bagian depanberfungsi sebagai kata kerja, seperti pada kata nyanyi (menyanyi). Sehingga, bunyi ini sudah biasa digunakan penutur Bahasa Jawa dalam berinteraksi sehari-hari.

Menurut tempat artikulasinya, bunyi [ñ] diproduksi di antara bagian depan lidah dan langit-langit keras, yaitu palatal. Cara artikulasi bunyi tersebut adalah dengan cara mencegah arus udara keluar melalui rongga mulut, lalu membuka jalan keluar melalui rongga hidung. Akibatnya akan muncul bunyi sengau ketika udara keluar melalui rongga hidung. Sehingga, bunyi [ñ] disebut juga konsonan sengau. Bunyi ini hanya berada pada ragam tingkat tutur Ngoko dan Madyanamun tingkat tutur yang identik dengan bunyi tersebut adalah Ngoko. Berikut adalah contoh kata-kata yang mengandung bunyi [ñ] :

Di bagian depan
Ngoko Madya Krama
nyilih (meminjam)  : [ñ]ilih nyambut : [ñ]ambut ngampil
nyekel (memegang) : [ñ]ekel nyepeng : [ñ]epeng ngasta
nyapu (menyapu)     : [ñ]apu
nyanyi (menyanyi)   : [ñ]a[ñ]i
Di bagian tengah
menyang (ke/di)   : me[ñ]ang dhateng
anyar (baru)          : a[ñ]ar enggal

Keistimewaan dari bunyi [ñ] dalam Bahasa Jawa dibandingkan dengan Bahasa Inggris adalah Bahasa Inggris tidak memiliki bunyi [ñ] karena meskipun Bahasa Inggris memiliki kata new atau knew yang diucapkan seolah-olah keduanya berbunyi nyu [ñu:], bunyi tersebut tetap berbeda pengucaannya. Ketika bunyi [ñ] dalam kata nyapu pada Bahasa Jawa diartikulasikan secara sengau, kata new dalam Bahasa Inggris harus diucapkan secara menghambat sepenuhnya udara dalam rongga mulut. Akibatnya, dalam simbol fonetiknya, kata new ditulis dengan [nju:], yang berarti tetap ada penekanan bunyi [n] sebelum bunyi [j], sedangkan dalam kata nyapu bunyi [ñ] diucapkan dengan menutup udara dalam rongga mulut lalu dikeluarkan melalui rongga hidung.

BAB III

PENUTUP

 3.1   KESIMPULAN

Setiap bahasa mempunyai bunyi khas yang dipengaruhi oleh letak geografis dan perkembangan bahasa dalam suatu masyarakat. Bahasa Jawa yang berkembang di daerah Kabupaten Tuban memiliki perbedaan fonem di beberapa kosakata dibandingkan dengan dialek utama Bahasa Jawa, yaitu dialek Surabaya, Yogyakarta-Surakarta, dan Banyumas. Meskipun Kabupaten Tuban terletak di provinsi Jawa Timur yang identic dengan dialek Surabaya, nyatanya Bahasa Jawa di Tuban mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki dialek Surabaya atau dialek lainnya.

Bunyi unik dari Bahasa Jawa di Tuban adalah bunyi vokal [I] yang terletak sebelum konsonan glottal [h] seperti pada kata mulih dan bunyi vokal [ə] yang terletak sebelum konsonan bilabial [m] sebagai penunjuk kepemilikan seperti pada kata sikilem. Bunyi-bunyi ini tidak ada dalam dialek Surabaya karena semua huruf alfabet “i” yang terletak sebelum konsonan glottal [h] akan dibaca [e], bukan [I]. Selain itu, bunyi konsonan [t], [ŧ], [d], [đ], dan [ñ] juga merupakan bunyi unik dalam Bahasa Jawa, termasuk Bahasa Jawa di Kabupaten Tuban. Pada perubahan tingkat tutur tertentu, konsonan [t] akan berubah menjadi [ŧ] dan konsonan [d] berubah menjadi [đ] atau sebaliknya, seperti pada kata putih (tingkat tutur ngoko) menjadi pethak à pe[ŧ]ak (tingkat tutur krama) atau kata duwe (tingkat tutur ngoko) menjadi gadhah à ga[đ]ah (tingkat tutur krama). Kemudian, bunyi [ñ] hanya terdapat dalam tingkat tutur ngoko dan madya, dimana bunyi tersebut tidak ada yang terletak di akhir kata. Contohnya adalah pada kata nyanyi (ngoko) à [ñ]a[ñ]i atau nyambut (madya) à [ñ]ambut.

 

3.2       SARAN

Dalam penulisan makalah kajian fonetik bunyi bahasa, hendaknya memilih bahasa yang mempunyai banyak variasi bunyi khas. Meskipun penulis selanjutnya belum menguasai bahasa tersebut, akan lebih baik jika mempelajarinya. Sehingga nantinya, kepenulisan selanjutnya akan memberikan kontribusi baru bagi pembaca. Disamping itu, untuk lebih memperkaya pembahasan, penulis berikutnya dapat memberikan contoh-contoh yang lebih banyak, bukan hanya dalam tataran kata, tetapi juga kalimat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Akmajian dkk. 2010. Linguistics : Introduction to Language and Communication. Massachusets : The MIT Press

Fromkin dkk. 2013. An Introduction to Language. Wadsworth : Cengage Learning

Kramsch, Claire. 1998. Language and Culture. Oxford : Oxford University Press

Ladefoged, Peter dan Keith Johnson. 2011. A Course in Phonetics. Wadsworth : Cengage Learning

Poedjosoedarmo, Soepomo. 1982. Javanese Influence on Indonesian. Canberra : A.N.U Printing Service

Sudaryanto. 1989. Pemanfaatan Potensi Bahasa. Yogyakarta : Kanisius

Verhaar, J.W.M. 2008. Asas-asas Linguistik umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

 

(*) Penulis adalah Pegiat Sastra Tuban yang Sedang Studi di PTN Yogyakarta.

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: