Ini 14 Pemuda Potensial untuk Jadi Anggota DPRD Tuban 2019

Oleh : Amrullah AM

Pendaftaran calon anggota legislatif telah dibuka. Tapi, partai masih klabakan. Proses kaderisasi belum tuntas hingga bingung menjadi siapa akan ditaruh mana dan dijadikan apa.

Di Tuban anggota legeslatif ya itu-itu saja orangnya. Rerata mereka berumur di atas 40 tahun. Padahal konstituennya sekarang banyak dari generasi muda. Akhirnya ide dan gagasan anak muda pun sering mentah. Semua menjadi kepentingan generasi tua.

Jadi, perlu ada tambahan warga di dalam Anggota dewan periode mendatang. Jangan semua dikuasai yang tua-tua. Ayolah kasih ruang sedikit mereka yang muda-muda untuk berkesempatan di anggota DPRD Tuban 2019.

Saya pun menyodorkan 14 nama. Sesuai jumlah partai yang ikut Pileg nanti. Hanya, umur saya batasi. Semua berumur di bawah 30 tahun. Mentok ya 30 tahun. Lainnya di bawah itu. Mengapa demikian, para generasi umur 30 tahun inilah yang kini pemegang kendali zaman. Mereka masih muda. Idenya segar. Jiwanya menggelora.

Jadi, maaf kalau tidam masuk nominasi ini. Boleh kok buat nominasi sendiri.

Soal urutan tidak berpengaruh pada tingkat kekerenan. Jadi, nomer berapa saja sama. Oke sudah siap. Berikut ini nama-namanya.

M Fu’adi Luthfi :
Saya memanggilnya Fuad. Dia lahir di Jatirogo. Rumahnya nyelempit. Anak orang biasa-biasa saja. Dari keluarga biasa. Tapi, cara mendidiknya yang luar biasa. Sedari kecil dia santri. Sampai sekarang pun demikian.

Mengapa harus seorang Fuad yang harus muncul? Tenang. Dia masih muda. Belum ada tiga puluh tahun. Baru saja menikah. Anaknua baru satu. Soal politik dia cukup mumpuni. Meski pernah kalah saat berduel memperebutkan posisi tertentu tapi justru membuat dirinya mencorong. Gaya komunikasi khas santrinya cukup bisa mengambil hati masyarakat.

Oiya, dia memang dekat dengan PKB. Wajib lah kalau PKB segera merekomnya untuk menjadi caleg di 2019 nanti. Memang kini dia kerja di Jakarta. Bukan hal yang mudah untuk tinggal di sana. Dia benar-benar berangkat dari nol. Akses di beberapa elit di beberapa kementerian setidaknya bisa digunakan bekal untuk mengembangkan Tuban. Kelak, sebagai anggota dewan akses itu bisa di spek lagi.

Satu hal, makannya nggak aneh-aneh. Dia cukup dengan sambel. Oseng kangkung dan tempe goreng saja sudah. Beres kan.

Siti Kalimah :
Saya sudah lama tidak ketemu dengan Kalim. Nama lengkapnya Siti Khalimah. Jelas masih muda. Imut-imut wajahnya. Apalagi kalau sudah pakai kaca mata. Mak deg. Siapa saja bakal tersepona eh terpesona.

Dia tinggal di Merakurak. Asli sana. Jadi, pasti tahu saat merakurak banjir dan ikut merasakannya. Dia lulusan sarjana hubungan internasional. Piye keren tora? Tenang tapi dia bukan seorang perempuan yang mlete. Anaknya biasa saja. Woles dan nyengkuyung konco. Itu jelas.

Kalau sambutan. Mirip-mirip lah seperti Bu Haeny mantan Bupati Tuban yang ayu itu. Artikulasinya jelas pelan dan mantab. Ini perempuan yang beda pastinya. Walhasil saya kira Khalim tepat lah kalau diusung Partai Golkar untuk maju di pileg nanti.

Soal penguasaan politik jelas sudah tuntas. Setidaknya dari matakuliah politik internasional dia sudah tahu betul cara bagaiaman berpolitik yang sehat.

Adi Wardhana:
Kami memanggilnya Danang. Tapi, namanya Adi Wardana. Lha, kalau soal nama panggilannya Danang. Silakan tanyakan sendiri. Dia termasuk orang yang ulet. Pejuang dan pekerja keras. Sumpah saya ndak mbujuk. Cita-citanya memang ingin ke ITB tapi pupus. Ndak apa-apa. Dia justru berhasil lulus sebagai dokter hewan.

Apakah dia buka praktek dokter hewan? Tidak sodara-sodara. Dia sekarang bukan travel. Nyaris beberapa instansi di Tuban, Bojonegoro, Rembang, Lamongan dan Mojokerto menggunakan travelnya. Piye keren pora? Seorang dokter hewan yang membuka peluang kerja untuk mereka yang sudah berjalan-jalan.

Dia orang taat. Solatnya kenceng. Kemampuannya membaca peluang ini yang membuat dia bisa terus mengembangkan konsep pariwisata di Tuban. Jadi, tenang setua apapun kepala dinas pariwisata nanti dia tetap bisa momong. Nah, kalau partainya siapa saja boleh meminang. Tapi, saran saya PAN, PKS dan Gerindra akan punya kans diterima oleh Danang.

Nang, sori kalau jenengmu tak sebut.

Ikal Hidayat Noor :
Bagi mereka pegiat sastra dan literasi namanya pasti tidak asing. Konon jomblo eh maaf maksudnya pemuda ini sangat inspiratif. Tinggal di Tuban selatan. Bangilan tepatnya. Mengapa harus ada Ikal di nama-nama ini? Perlu ada anggota dewan yang paham sasatra. Dia adalah Ketua komunitas Kali Kening.

Asupan sastra bagi seorang politisi itu penting. Sebab, dengan sentuan sastra gedung dewan saya pastikan tidak lagi serem atau terlihat elit. Itu tugas ikal saya yakin bisa mengawalnya.

Karya buku cerpen dan puisi-puisinya cukup mewakili pemikirannya. Cadas sodara-sodara. Kelak, saat dia didapuk menjadi anggota dewan, dinas sebangsa dinas kearsipan dan perpustakaan serta dinas pendidikan akan mendapat nafas segar. Ide-idenya akan mengubah dunia.

Untuk partai. Silakan PKS bisa merapat. Partai baru juga boleh. Misalkan PSI, Garuda, Perindo, Berkarya. Boleh semua. Asal perlu mahar buku bacaan yang banyak. Sudah itu saja.

Wahyu Eka Setyawan :
Eng ing eng. Siapa yang tak kenal pemuda idaman perempuan. Dia seorang aktivia lingkungan. Pemikarannya mbois. Soal tata lingkungan hingga bagaiamana menyikapi persoalan-persoalan yang bergejolak di masyarakat dia bisa menuntaskan.

Sebagai seorang keturunan warga Tambakboyo dia tahu betul bagaiamana industri dan masyarakat terdampak industri. Pemikiran khas orang-orang eropa. Berbaga kota konflik telah didatangi. Dia hadir sebagai oase.

Kelak, dia bisa duduk sebagai ketua Komisi A. Sebagai garda depan mengawal kebijakan pemerintahan dan hukum di sana. Saya yakin, perda-perda tak akan sekedar menyadur perda kota lain. Dia akan membuat perda-perda itu dengan gaya dan rigidnya pemikir.

Wahai partai nahdliyin silakan merapat. Boleh juga partai kaum marhen bisa merangkulnya. Asal, bawalah pisang setundun dikali berat badannya agar dia mau menjadi caleg.

Ilmi Zada:
Kalau sosok ini tak perlu saya ulas panjang. Dia bisa dianggap sebagai senior dari nama-nama yang saya sebutkan jika kelak mereka sekantor. Ilmi adalah pria muda yang unyu-unyu sudah jadi anggota dewan. Dia politisi Partai Demokrat.

Peran ilmi sederhana. Kelak jika maju dan jadi lagi. Dia bisa menjadi pemandu para juniornya. Misalkan, di mana letak toilet. Atau tempat duduk di anggota dewan. Dan lain sebagainya. Ilmi ini muda dan berbakat. Dia punya segudang semangat. Sayang, teman mudanya tidak ada. Jadi, nama-nama ini kelak bisa menjadi temannya untuk memberi warna di kantor dewan.

Hendra Try Ardianto
Jauh sebelum dia kuliah. Saya sudah membayangkan jika pada saatnya nanti Hendra akan menjadi ketua DPRD. Jujur, itu bayangan saya. Ternyata tebakan saya tidak bleset. Dia kuliah di jurusan pemerintahan. Ini keren. Sampai magister pula. Konsep pemerintahan tuntas. Bahkan, mau tanya buku apa saja soal pemerintahan dia hafal sampai ke halaman berapa dia bisa menyebut. Termasuk paragrafnya.

Hendra sesosok pemuda Desa Klotok Plumpang ini telah menembus berbagai dimensi kehidupan. Dia pernah meneliti di tempat terpencil Papua hingga hingar bingar Jakarta. Kini, dia tengah menjadi seorang akademisi di sebuah kampus bonafit. Tapi, saya yakin jika dia pulang dan diberi tempat duduk sebagai ketua DPRD siapapun bupatinya akan kelagepan. Segala data dia punya. Konsep pemikirannya jelas.

Dan, yang terpenting dia paham betuk tentang bagaimana berpolitik yang sehat dan membahagiakan. Oiya, dia pernah menulis buku tentang mitos tambang untuk kesejahteraan. Ini penting untuk masa depan Tuban yang lebih baik.

Tenang, Hendra orangnya sangat membumi. Di tingkatan root telah banyak yang mengenal. Silakan Partai Nasdem untuk mengkonsolidasikannya. Salam restorasi.

Nang Engki Anom Suseno:
Perlu ada sosok yang paham hukum di lembaga legeslatif. Kalau ahli Tarbiyah semua repot jadinya.

Sebenarnya banyak ahli hukum di Tuban. Tapi, saya rasa Nang Engki lebih tepat. Dia bisa mewakili masyarakat Palang Widang Plumpang dan sekitarnya. Dia cukup lantang jika melihat kesewenang-wenangan. Nang, punya kans untuk menjadi politisi gaek. Dia punya jaringan di berbagai lini. Muda, modis dalam berpakaian. Satu hal, dia suka bola.

Sebagai seorang kader HMI, Nang punya kesempatan untuj duduk bersama dengan beberapa Kanda dan Yundanya. Berbicara secara gamblang tentang kondisi politik ke depan dan seperti apa carut marutnya.

Boleh lah Partai Demokrat atau Partai Golkar merapat padanya.

David Ahmad :
Urutannya pas nomor 9. Dia memang kader bintang sembilan. Asli aktivis PMII. Soal advokasi tuntas. Soal, wacana lebih dari tuntas. Buku bacaannya banyak. Nah, soal politik memang dia masih pendiam. Ibarat kata dia banyak mengalah. Caranya santun. Tidak kemaruk. David asli Montong. Itu lho kecamatan yang juga tempat tinggal Bupati Tuban.

Sebagai aktivis PMII di Jogja dia banyak makan asam garam. Gula juga dimakan. Sate juga. Iwak pe juga. Banyak yang telah di makan. Sekarang dia terlibat dalam aktivis buruh. Selain itu, sebagai generasi yang ramah dengan dunia digital. Dia sudah biasa tahu betul tentang apa saja kebutuhan anak muda di dunia maya.

Berbagai medos dia kuasai. Monotize tuntas. Meski sebagai anak muda. Bakat taninya tak pernah hilang. Dia tetap saja petani. Keringat petani dihafal. Saya yakin, dia cocok di partai apapun. Sembarang partai.

Soal di komisi mana. Dia akan tepat di komisi D. Komisi pembangunan.

Eddy Purnomo :
Perlu ada sosok Edy di jajaran nama-nama caleg muda potensial. Sebagai mantan pelajar STM dia patut diperhitungkan. Karakter anak STM patut diberi aplous sebab tahu segala medan. Dengan berbekal satu buku di saku celana belakang, dia bisa menguasai berbagai bidang ilmu teknik. Sekali lagi, hanya dengan satu buku yang dilipat, ilmu ngelas sampai dandan mesin tatas semuanya.
Ini yang jarang orang perhitungkan dari lulusan STM. Dia adalah generasi sakti.

Edy, kini telah menjelma sebagai bos media. Di usia mudanya sebuah media lokal ada ditangannya. Keren sodara. Andai ada sinetron dia pasti masuk nominator judul. Silakan ketik judulnya sendiri.

Edy dengan kekuatannya saya yakin orang bakal melirik. Gaya komunikasi hingga cara menempatkan diri sangat lihai sekali. Gimana cara makan agar tak sampai gendut pun dia menguasai.

Oke saya akan serius mengulas tentang Edy. Sebagai seorang jurnalis dia punya pengaruh dalam setiap tulisannya. Tajam, analitik dan benar-benar bernas. Itu ciri khas Edy saat liputan. Orang-orang seperti Edy ini penting dalam tubuh parlemen. Bukan sembarang wartawan. Parlemen akan menjadi institusi yang terhormat jika Edy ada di dalamnya.

Partai apa yang cocok. Bebas. Dia orang fleksibel sekali. Jenis dan model partai apapun cocok. Seorang pluralis tak akan menolak jika harus dipinang PPP atau PBB. Bahkan, Partainya Roma Irama Sekalipun.

Nibrosu Rohid :
Saya kenal luar dalam. Niha ini orang baik. Cara kerja cekatan. Cara mikirnya cag ceg wat wet. Asli anak ideologis Bung Karno. Sebagai seorang marhen dia benar-benar telah mengaplikasikanya. Sebagai seorang magister ilmu komunikasi tepat sekali jika dia menjadi anggota dewan.

Nuansa kantor dewan akan ada oase baru. Apa itu, ide-ide cadas seorang Niha. Dia banyak menerima pengalaman dari berbagai orang dan jaringannya. Dia juga dari kalangan santri. Bisa dikata dia adalah penggabungan marhenis nahdliyin. Jadi, kader-kader banteng pasti akan memberi support.

Sebagai kader GMNI dia punya segudang jaringan daerah hingga pusat. Kelak, komisi yang membidangi kesejahteraan masyarakat dia bisa didudukan. Soal partai PDI P akan menyesal kalau tak mendesak dia untuk maju tahu ini. Masih muda. Briliyan pula idenya.

Yayan Te Es
Pemuda jaman now kalau istilah anak sekarang. Paling tahu kebutuhan anak muda. Pemilih pemula bakalan kesengsem sama cara bicara dan gaya diplomasinya. Yayan memang dilahirkan untuk menghidupkan estetika. Di tengah Tuban yang kering hiburan perlu ada sosok muda yang Wani dan memperjuangkan seni di Tuban.

Kelak, dia akan “menggedor” meja kepala dinas yang miskin imajinasi. Kepala dinas yang masih itung-itungan saat menjalankan program untuk perwajahan Tuban. Hingga kepala dinas yang ruwet-ruwet. Yayan orang yang konkrit. Tas tes. Tidak bertele-tele. Tapi, unggah-ungguhnya masih ada. Dia masih Jawa meski sudah keliling di Singapura.

Saya berkeyakinan, regulasi-regulasi baru tentang kesenian akan tergarap apik jika anak muda ini duduk di kursi dewan. Tetap woles dalam berpakaian cadas dalam pemikiran.

Muhammad Yusuf
Tuban tak bisa dilepaskan dari laut. Laut adalah Tuban. Dan Tuban adalah laut. Jika generasi tani dan gunung sudah saya sebut. Maka generasi nelayan perlu saya munculkan. M Yusuf, pemuda pesisir yang bergelut dengan ombak. Sejak dari lahir dia sudah Muhammadiyah. Generasi emas Muhammadiyah menurut saya. Dia akrab sekali dengan bau amis laut. Dekat dengan keringat nelayan dan tahu betul kehidupan pesisir.

Sebagai seorang magister ilmu manajemen Yusuf telah berhasil membawa dirinya sebagai seorang akademisi. Yusuf adalah produk lokal. Asli lulusan Unirow yang memiliki jam terbang regilonal.

Ide dan gagasan pasti reformis dan berkemajuan. Pengabdiannya pada Muhammadiyah tak bisa disepelekan. Ini sepengatahuan saya. Kalau ada pengurus muda muhammadiyah yang iri kenapa yang tidak menyebut namanya saya mohon maaf. Sebab, bagi saya Yusuf adalah aset.

Dia telah lama mendalami dunia pendidikan. Merawat sekolah Muhammadiyah. Dia punya pengalaman itu hingga membina mahasiswa. Dia paling lihai. Jadi, perda-perda inisiatif nanti akan banyak muncul jika pemuda ini duduk di gedung itu.

Halindra (Mas Lindra)
Jelas ini muda sekali. Dia adalah ketua Partai Golkar Tuban. Keren lur belum 30 tahun sudah jadi ketua partai. Sayang, saya tidak kenal. Saya lebih kenal ibunya. Namanya Haeny Relawati Rini Widyastuti. Wis gitu aja.

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: