Maulid Nabi Muhammad SAW, Sebagai Sejarah Perlawanan

Oleh: Wahyu Eka S.

Maulid an-nabi, adalah peringatan hari lahir Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul awal dalam penanggalan Hijriyah. Maulid Nabi sering kita dengar dari berbagai literatur baik tertulis, maupun ceramah dari ulama. Terutama kisahnya yang epik, tentang penyerangan Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim (Abraham) oleh seorang kolonial bernama Abrahah. Semua kisah epik tersebut terangkum dalam surat Al- Fiil ayat 1-5.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)

1. Apakah kamu tidak memperhatikan hal yang telah diperbuat Tuhanmu terhadap rombongan bergajah? 2. Bukankah Dia telah menyebabkan tipu daya orang-orang itu menjadi sia-sia ?; 3. serta Dia hadirkan burung-burung yang berhamburan menyerbu orang-orang itu; 4. seraya melemparkan bebatuan pijar menghantam orang-orang itu. 5. Lalu Dia jadikan orang-orang itu menyerupai tunggul-tunggul jerami yang remuk.

Secara harfiah surat tersebut mengisahkan tentang pasukan gajah menyerang Ka’bah di Mekah. Abrahah al-Asyram al-Habsy, penguasa Yaman kala itu. Abrahah sendiri sebelum berkuasa di Yaman merupakan gubernur wilayah Abyssina di Habasyah (Sekarang Ethiopia) (Dictionary of African Christian Biographies. 2007).

Serangan ke Makkah dari Abrahah dapat dimaknai sebagai upaya ekspansi wilayah koloni. Melihat banyaknya pengunjung di Ka’bah maka dia ingin menciptakan tandingannya berupa katedral megah di Sana’a yang diberi nama Al-Qullais. Namun ternyata tak mampu menandingi lalu-lintas manusia ke Ka’bah kala itu (Edward Ullendorff, 1960. The Ethiopians: an Introduction to Country and People, second edition. Oxford:London).

Diskursus Imprealisme dan Kolonialisme

Ekspansi atas Mekah dilancarkan Abrahah dengan menaklukan Hijaz terlebih dahulu, sebagai gerbang menuju Mekah. Dengan pasukannya yang kuat berjumlah 60 ribu orang, senjata yang lengkap, mereka siap menggempur Mekah. Hijaz merupakan wilayah yang subur, memiliki nilai ekonomi tersendiri. Selain Abrahah ada bangsa Persia dan Romawi yang bernafsu menguasainya. Karena memang Hijaz merupakan negeri yang menjadi pusat ekonomi, selain Najd yang subur (Moenawar Ali. 2001. Kelengkapan tarikh Nabi Muhammad).

Hijaz menjadi sasaran kolonialisasi Abrahah, mengingat kepentingan ekonomi. Sedangkan penaklukan Mekah lebih ke unsur politis, diskursus penghancuran Ka’bah sebagai upaya pemberian kesan bahwa Abrahah-lah yang berkuasa. Relasi ekonomi yang kuat ditandai dengan inkonsistensinya perekonomian di jazirah arab. Salah satu yang terkena imbasnya ialah Yaman, yang kala itu merupakan daerah taklukan Abrahah. Banyaknya migrasi penduduk Yaman ke utara Hijaz, menandai adanya pusat ekonomi baru, dengan lahan yang bisa dimanfaatkan untuk perniagaan. Karena memang letak geografis Hijaz yang strategis.

Selain perniagaan, ada beberapa lahan yang subur seperti di daerah Thaif, yang merupakan lumbung pangan. Selain untuk memutus rantai perniagaan dan ekspansi ekonomi dengan model kolonialisasi, Abrahah juga berniat mengambil alur peziarah jika menguasai Mekah. Relasi politik Yaman era Abrahah tidak berdiri sendiri, dia yang merupakan seorang Nasrani harus menginduk pada Romawi. Ada kepentingan lain Romawi di Hijaz dan Mekah yaitu untuk memaksa wilayah tersebut menjadi bagian dari mereka. Ketika Mekah dikuasai, otomatis Ka’bah akan menjadi satu kesatuan dengan Romawi. Sehingga menegaskan posisi Romawi dan Nasrani dalam perpolitikan.

Di sisi lain Abraham memiliki perhitungan sendiri. Sebagai seorang Raja dari suatu wilayah yang berdiri sendiri, ditambah kondisi perekonomian yang tidak stabil. Maka peluang peningkatan ekonomi akan terbuka lebar, ketika Hijaz dikuasai maka peluang peningkatan keuntungan kerajaan akan meningkat pesat. Selain perniagaan, tentu juga sektor ziarah.

Upaya penguasaan dan penghancuran Ka’bah erat kaitannya, dengan ambisi Abrahah menciptakan masjid serupa Masjidil Haram dengan memindahkan Ka’bah ke dalamnya. Tentu guna mendapatkan untung lebih dari kondisi tersebut, selain itu kepentingan dominasi kuasa dalam ranah agama, secara politik akan menguatkan Abrahah.

Namun upaya Abrahah harus berbenturan dengan kepentingan Romawi dan Persia. Dua negera kuat tersebut juga berambisi menguasi wilayah tersebut. Bahkan upaya Abrahah juga harus terbentur dengan perlawan kaum Quraisy di bawah Kakek Nabi, Abdul Muthalib sebagai sang revolusioner yang menentang penjajahan atas tanah Hijaz dan Mekah. Peristiwa yang terjadi ini bukan hanya sekedar sebuah kisah epik, pertarungan agama sebagai yang paling benar. Namun lebih kepada upaya untuk penjajahan, atas tanah dan perekonomiannya (at-Tijani Abdul Qadir Hamid, 2001. Pemikiran politik dalam Al-Qur’an).

Upaya kolonisasi Abrahah pada saat sebelum Nabi Muhammad lahir, merupakan sebuah penggambaran jika faktor tanah dan arus ekonomi, menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan perang. Nantinya berujung pada penguasaan suatu wilayah. Imbasnya banyak manusia yang kehilangan nyawa dan alat produksi.

Ekspansi Abrahah sebenarnya dapat disambungkan dengan upaya suatu rezim atau korporasi yang ingin menghisap rakyatnya (umat). Lalu Allah mengutus burung Ababil untuk menghadang Abrahah, dapat diartikan bahwa ekspansi kapital (kolonialisasi) harus dihentikan, mengingat berhubungan dengan maslahah ammah atau kepentingan bersama.

Maulid Nabi Sebagai Peristiwa yang Progresif

Nabi Muhammad SAW, lahir dari peristiwa yang secara subtantif merupakan masa feodalisme. Di mana kapitalisme sudah ada, dengan bentuk yang berbeda dengan masa revolusi industri ataupun perang dunia ke dua. Kapitalisme di era tersebut lebih kepada pembaharuan dari zaman pra feodal. Namun lebih kompleks karena ada penguasaan jalur strategis, serta lahan untuk kepentingan suatu negara.

Kapitalisme era ini nanti akan berkembang ketika ada pembaruan di sektor pelayaran, dengan ditemukannya navigasi yang canggih dan lebih detailnya peta. Komoditas baru ditemukan, memunculkan kongsi-kongsi dagang yang menjadi sarana penguasaan perniagaan. Selain itu kapitalisme semakin berkembang, salah satunya merkantilisme (kapitalisme klasik) yang dibarengi dengan semboyan glory, gold dan gospel.

Kisah dalam Al Fiil ini secara tidak langsung merupakan realitas yang secara simbolik, mengajak kita untuk senantiasa melihat situasi dengan analisis yang mendalam. Bahwasannya di era tersebut terjadi rencana ekspansi Abrahah, Persia dan Romawi untuk menguasai hak milik orang lain.

Mengambil yang bukan miliknya, menindas dan menghisap orang lain untuk mendapatkan nilai lebih. Perjuangan revolusioner Abdul Muthalib dapat kita maknai sebagai sebuah jihad, melawan upaya kolonialisme yang akan menghancurkan kehidupan umat. Baik dalam kehidupan politik, agama dan ekonomi.

Kisah dibalik maulid Nabi Muhammad SAW, ini hendaknya kita maknai sebagai sebuah pelajaran penting. Bahwa ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, begitupun yang dilakukan oleh Abrahah dengan pasukan gajahnya. Penindasan, penghisapan dan upaya perampasan hak hidup sudah ada, baik sebelum beliau lahir hingga wafat.

Maulid Nabi dapat kita serap intisarinya, baik dalam perspektif diskursus kapitalisme awal, hingga bagimana elaborasi dari serangkaian peristiwa yang melatarbelakangi jalan revolusioner Nabi Muhammad, dalam memerangi Jahiliyah serta membela kaum mustadafin.

Allahumma Shalli Alla Muhammad.

Wallahu Muwafiq Ila Aqwamith Thariq.

(*) Penulis adalah Nahdliyin Independen

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: