Mengintip Kebudayaan di Desa Sumurgung Tuban

Oleh: Fitri Susanti

Indonesia terkenal dengan Bhinneka Tungkal Ika dimana memiliki kekayaan ragam budaya yang luhur.Budaya merupakan sebuah aset utama Bangsa Indonesia yang harus dilestarikan dan dijaga keeksistensiannya. Provinsi Jawa Timur menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2015 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan disebutkan sebagai bagian dari jumlah 34 Provinsi di Indonesia. Di Provinsi ini terdapat sebanyak 7.724 Desa, 777 Kelurahan dan 664 Kecamatan yang tersebar di 29 Kabupaten dan 9 kota. Salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur adalah Kabupaten Tuban.

Kabupaten Tuban terdapat 311 Desa dan 17 Kelurahan yang tersebar di 20 Kecamatan.Dengan jumlah tersebut, Kabupaten Tuban berada di Peringkat Ke–9 dalam Daftar Kabupaten atau Kota dengan jumlah desa terbanyak di Provinsi Jawa Timur.Sebagai salah satu daerah tujuan wisata religi, Kabupaten Tuban tak hanya memiliki lokasi wisata bernafaskan Islam peninggalan Wali Songo. Kota berjuluk “Bumi Wali” ini ternyata juga menyimpan keindahan akan budaya yang terus melekat di masing-masing desa.

Tepatnya di Desa Sumurgung yang masih menanamkan nilai kebudayaan dan memiliki potensi akan industri batik, tempat pendidikan (Taman Kanak-kanak, Raudatul Athfal, Sekolah Dasar Negeri, Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah), lahan pertanian hingga usaha mikro kecil menengah lainnya. Perkampungan ini masih dalam lingkup Kecamatan Tuban.

Desa Sumurgung mempunyai adat istiadat yang berawal pada zaman Agama Hindhu–Budha dengan mengadakan upacara kepada dewa atau persembahan agar semua makhluk yang ada di bumi ini mendapatkan perlindungan dan keselamatan, kemudian dengan masuknya Agama Islam, adat tersebut berubah dengan kemasan yang lebih islami.


Pertama adalah adanya adat Bari’an yang bermakna syukuran atau istilah jawa juga disebut banca’an. Secara pokok bertujuan untuk menolak balak, memohon diri atau berdoa kepada sang pencipta agar warga masyarakat dijauhkan dari penyakit maupun balak serta rejeki bertambah. Bari’an pertama kali dilakukan saat Desa Sumurgung diserang wabah penyakit yang sangat berbahaya, dengan istilah pagi sakit sore mati dan sore sakit pagi mati.Dari permasalahan tersebut, para sesepuh desa mengadakan rembukan agar warga segera melakukan bari’an. Dan bari’an ini dilaksanakan setahun 7 kali setelah panen padi, dimulai dari hari Rabu Wage berturut-turut dan berakhir di Rabu Legi dengan membawa “Bucu Tulak” (bermakna tolak balak) yang dibawa ke masjid  untuk dibacakan doa kemudian dimakan bersama-sama.

Hari Rabu kedua dengan membawa makanan berupa “segoadem” yang bertujuan bahwa warga Desa Sumurgung adem tentrem, ayem dan tenang tidak ada permasalahan yang menimpa masyarakat. Rabu ketiga bari’an ditandai dengan membawa “udukbiru” yang berharap bahwa penduduk tidak ada yang memprovokasi dalam kehidupan bermasyarakat.Hari keempat berbeda lagi, yakni dengan membawa jajan pasar yang mana tujuannya adalah agar Desa Sumurgung menjadi desa yang ramai, makmur dan sentosa.Hari Rabu Kelima yaitu dengan membawa serabi agar penduduk tetap satu lingkaran yang bersatu padu dalam mempertahankan agar tetap aman.Hari yang keenam dengan membawa kue arang-arang kambang.  Kue ini terbuat dari beras ketan yang dimasak dan diberi gula merah.

Tujuannya agar penduduk mempunyai hati yang lemah lembut dan bertatakrama memegang teguh etika atau moralitas dengan penuh keberanian.Pada hari Rabu Legi merupakan bari’an yang terakhir dengan membuat “ketupat luar” yang bermakna bahwa warga masyarakat tetap dalam ikatan persatuan dan kesatuan dalam kemakmuran.


Adat istiadat yang kedua yaitu dengan adanya sedekah kubur atau biasa disebut manganan.Desa Sumurgung terdapat empat Makam, jadi manganan dilakukan empat kali. Adapun pelaksanaan biasanya pada bulan Mei atau Juni  pada hari Senin Pahing, Kamis Kliwon, Kamis Pahing dan yang terakhir Kamis Wage. Ini sudah menjadikan adat bagi para petani setelah panen padi.Bagi orang yang mempunyai rejeki banyak ada yang memotong kambing sebagai sedekah untuk dimakan bersama-sama.


Ketiga adalah Kupatan Sepasar, Pasca hari raya atau tujuh hari setelah Idul Fitri akan serentak membuat ketupat yang biasanya didampingi oleh lepet (Sejenis ketan yang dicampur garam, gula, parutan kelapa dan dibungkus menggunakan daun kelapa atau lontar) kemudian dibawa untuk dido’akan dan saling memaafkan jika ada kesalahan sikap. Hal tersebut biasanya dilakukan di perempatan masing-masing dusun atau Masjid Al-Mutamakkin, Masjid Besar Desa Sumurgung.


Tepat di tanggal 17 Agustus 2018, tujuh puluh tiga tahun merupakan usia Negara Kesatuan Republik Indonesia. Waktu cukup lama untuk tetap memegang teguh segala nilai-nilai yang terkandung dalam setiap perilaku di sudut terkecil. Bukan hanya menikmati segala perubahan dari susah ke mudah. Namun yang menjadi masalah baru adalah mempertahankan nilai budaya ke dalam ranah pendidikan. Setiap perkembangan apapun akan selalu diiringi oleh rasa kehilangan, entah kita tersadar atau sebaliknya. Tiada tempat yang sia-sia untuk merubah pandangan.

Kita dapat mencoba dalam pelaksanaan penanaman nilai nasionalisme pada anak usia dini yakni dengan menggunakan media wayang kardus sebagai media pembelajaran. Wayang kulit akan dimodifikasi sebagai berikut:

  1. Wayang kulit terbuat dari bahan kardus bekas yang sudah tidak terpakai. Hal ini bertujuan agar anak-anak mengetahui dari apa wayang ini dibuat maka membuat mereka berimajinasi untuk dapat membuatnya sendiri, karena bahan yang digunakan sangat mudah ditemui. Selain itu, penggunaan bahan bekas ini bertujuan agar barang bekas menjadi lebih termanfaatkan dan mengurangi penumpukan sampah
  2. Wayang kulit dibuat dengan semenarik mungkin. Yakni wayang-wayang kulit dibuat dari bahan-bahan kardus bekas dengan bentuk asli dari masing-masing tokoh diubah dan didesain menjadi wajah animasi tanpa menghilangkan karakter dari tokoh wayang sebenarnya serta pemberian warna yang memadai.Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian para siswa.Wayang kardus berupa animasi dapat didesain dengan bantuan aplikasi Corel Draw atau semacamnya. Tokoh-tokoh yang digunakan sama dengan tokoh wayang kulit pada umumnya dan ditambah dengan tokoh-tokoh pahlawan Indonesia. Agar peserta didik juga mengetahui para pejuang bangsa Indonesia. Setelah wayang sudah jadi, maka tahapan selanjutnya adalah dalam penyampaiannya kepada peserta didik anak usia dini, yakni sebagai berikut:
    Sebelum disampaikan kepada peserta didik. Hal yang pertama adalah penyusunan buku cerita pewayangan yang dapat digunakan guru sebagai panduan dalam bercerita.
    Penyampaian dilakukan dengan metode bercerita dengan menyisipkan nilai- nilai nasionalisme. Dengan bercerita dapat ditanamkan berbagai nilai, baik nilai budaya, nilai moral, dan lain-lain. Guru harus mampu memahami cerita yang akan dibawakan agar pesan-pesan yang terkandung dalam cerita dapat tersampaikan. Dalam penyampaian, guru juga harus dapat membawakan dengan semenarik mungkin agar para siswa penasaran dengan cerita dan tertarik untuk mendengarkannya.
    Dalam penyampaiannya guru harus menggunakan bahasa daerah yakni bahasa jawa yang santun/halus. Hal ini bertujuan agar peserta didik juga belajar penggunaan bahasa daerah yakni bahasa jawa. Sehingga dengan penggunaan bahasa daerah pada saat bercerita dapat meminimalisir punahnya bahasa daerah atau bahasa lokal. Media wayang kardus ini diharapkan dapat memperkenalkan budaya Indonesia dan juga menumbuhkan jiwa nasionalisme pada siswa serta dapat mempertahankan bahasa daerah atau bahasa lokal Indonesia. Sehingga dengan demikian akan tercipta generasi penerus bangsa Indonesia yang memiliki jiwa nasionalisme.
    Perbaikan apapun dapat dilakukan dari akar tersebut berada, bukan hanya menebas sembarang arah.Tuban yang kokoh dapat dilihat kehebatannya dari elemen terkecil yakni kemajuan desa. Kota tidak akan disebut berhasil jika keberadaan desa telah terlupakan. Desa terdapat Rukun Warga hingga beberapa Rukun Tetangga dan jika perubahan tersebut diinginkan, maka perbaikilah tanpa meninggalkan budaya yang perlu dipertahankan.

*Fitri Susanti, Lahir di Tuban, tanggal 7 September 1996. Masih berstatus Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Surabaya.Untuk saat ini ia berdomisili di Jalan Dinoyo Tengah No. 43 Surabaya. Sedangkan alamat aslinya adalah di Dusun Bongkol Desa Sumurgung Kecamatan Tuban. Alamat Email :[email protected]

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *