Piye Perasaanmu Nek Dadi Korban Ambrolnya Jembatan Widang-Babat?

Oleh : Amrullah AM

Saya di kedai kopi milik Pak Dul. Tapi saya tak pesan kopi. Saya pilih pesan es teh. Siang itu panas sekali. Es teh menjadi pilihan tepat untuk diteguk. Seorang teman mengirim gambar melalui wasap. Dia mengirim foto tentang peristiwa ambrolnya jembatan Widang-Babat. Tiga puluh menit setelah peritiwa itu terjadi.

Ada dua belas gambar yang dikirim. Dari berbagai sisi. Tapi, kalau dilihat secara cermat dia hanya ambil gambar di sisi selatan. Bukan di utara jembatan. Ada truk yang masuk ke Sungai Bengawan Solo. Ada foto orang ramai-ramai melihat.

Mereka yang melihat bukan hanya melihat. Mereka mengeluarkan gawainya. Memotret merekam dan menyebarkan di akun media sosial masing-masing. Sebaran itu kembali disebarkan orang lain yang melihatnya. Tak hanya di medsos. Di grup-grup wasap pun cepat menyebar.

Saya pun termasuk orang yang ikut menyebar ke beberapa grup wasap. Tapi, setelah beberapa jam kemudian saya merasa bersalah atas tingkah polah saya mengirim foto jembatan ambruk berserta truk yang masih di dalam air.

Saya berfikir. Bagaimana kalau yang jadi korban itu adalah saya sendiri atau teman dekat bahkan keluarga. Saya jadi berpikir keras saat semua orang berlomba-lomba melihat lalu merekam dan memotret kemudian menyebarkannya. Apa itu justru membuat kebahagian anda setelah merekam? Setelah memotret anda lebih bahagia? Kalau memang kebahagian itu didapat dari memotret jembatan ambruk atau evakuasi silakan saja.

Tapi, mbok ayo kita mikir bersama. Apa setiap peristiwa harus anda foto dan ada rekam lalu di unggah di media sosial? Anda merasa bangga gitu kalau sudah banyak yang like atau menshare hasil jepretan anda? Kalau ada kecelakaan terus anda motret apa ndak berfikir kalau misalkan itu anda sendiri yang jadi korban. Gimana?

Ayolah biar mereka para pekerja jurnalistik dan aparat saja yang ada di lokasi kejadian. Beri mereka ksempatan untuk melakukan penelusuran dengan kapasitas profesinya masing-masing.

Apa? anda bilang pendapat saya ndak adil karena ini jaman kebebasan jadi siapa saja boleh ikut motret dan ikut memvideo? Oke-oke. Jika itu pilihan anda saya memang tak berhak melarang. Saya juga mengajak untuk berandai-andai saja kalau yang jadi sopir truk adalah anda. Terus anda melihat banyak orang di atas namun justru memotret bukan menolong. Gimana perasaan anda?

Mungkin anda akan marah pada saya mengapa harus berandai-andai saja. Apalagi andai-andainya membawa kesengsaraan. Baik. Saya cukupkan saja soal jembatan dan aksi foto-foto anda yang sudah terlanjur disebar itu.

Mari kita membahas sopir truk yang truknya menjadi korban. Apalagi, ada korban yang konon naik sepeda motor juga kecemplung sungai saat jembatan itu ambrol. Bagi para sopir yang budiman. Saya turut prihatin karena ada rekan seprofesi anda menjadi korban jembatan ambrol.

Sopir truk dan sopir bis pastilah berbeda. Bukan soal kendaraannya. Tapi cara mengemudikannya. Kita lihat saja. Ada sopir truk yang kebut-kebutan di saat muatannya ada isi? Dipastikan tidak. Mereka memilih berhati-hati saat mengemudikannya. Pelan dan pasti.

Tapi, jika sopir bus yang penuh penumpangnya? Bisa dipastikan mereka akan melaku kencang karena sudah tidak mungkin ada yang naik. Terlebih bus jalur surabaya-jogja atau surabaya-semarang. Mereka akan balapan.

Begitulah sopir truk dan perjuangannya. Dia menjaga amanah yang diberikan. Mengantar muatan sampai tujuan. Para sopir truk seringkali dikonotasikan negatif. Sopir truk dianggap sering berhenti di tempat-tempat mesum dan tempat lainnya. Itu manusiawi. Tapi, banyak juga sopir truk yang tetap berhenti saat ada azan berkumandang. Mereka menepi fan menuju ke masjid.

Jadi, sopir truk adalah segala-galanya di era transportasi darat masih menjadi idola. Berbagai barang dikirim menggunakan truk termasuk sempak, beha dan odol-odolmu itu dikirim menggunakan truk.

Wahai teman-teman. Sudahailah memotret kecelakaan. Termasuk truk yang jadi kotban ambrolnya jembatan babat-widang. Lebih baik doakan saja. Semoga, kelak pembangunan infrastruktur tidak membawa korban. (*)

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

One thought on “Piye Perasaanmu Nek Dadi Korban Ambrolnya Jembatan Widang-Babat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: