Politik Versi Kaum Sarungan

Oleh: Wawan Purwadi*

Bila Dalam Kehidupan Ini, kau tak mampu menjadi tetes air penyumbang kesegaran, maka janganlah menjadi percik api penyebab kebakaran, (GUS MUS).

Membahas soal politik ala kaum sarungan adalah bicara juga warga nahdliyin yang rata-rata basisnya adalah pesantren. Kaum sarungan mempunyai rumah besar NU, ormas islam terbesar di Indonesia yang selalu menjadi sorotan. Terlebih pada tahun politik saat ini. Baik kader, pengaruh tokoh maupun suara atau dukungan NU selalu menjadi rebutan.

NU punya bobot politis walaupun bukan partai politik. Sehingga Santri dan politik tidak dapat dipisahkan. Menurut Muchotob, didalam buku (menjadi politisi islam dalam fiqih politik). Bahwa, Islam dengan politik bagaikan gula dan manisnya, bagai garam dengan asinya, atau cabe dengan pedasnya.

Diakui atau tidak, politik adalah diskursus yang selalu menarik untuk dibahas dari jaman penjajahan sampai pada jaman hari ini, di era mileneal.

Kita sebagai makhluk politik (zoon politicon-Aristoteles) atau State of nature (Thomas Hobbes), wajarlah kalau wacana politik telah menyita banyak waktu, pikiran, tenaga dan emosi banyak orang. Bagaimana tidak, kecendrungan politik menurut banyak orang adalah hal yang kotor dan jalan kemunafikan. Tapi, menurut sebagian orang politik juga menyangkut hal baik untuk memperoleh tujuan secara bersama-sama. Semoga hal demikian terjadi degan campur tangan kaum sarungan. Politik membawa perubahan atau tidak, tergantung siapa yang mengerakkannya, apa tujuannya dan bagaimana manfaatnya berpolitik.

Politik ala kaum sarungan adalah, politiknya kaum santri, politik ala santri alumni pesantren yang kemudian ikut terjun dalam dunia politik. Kenapa demikian, para santri adalah generasi penerus bangsa yang benar-benar mengemban misi kebangsaan, misi keagamaan, terlebih adalah misi kemanusian yang ditempa selama di pesantren. Sehingga dengan demikian, kita harus mempunyai pandangan luas terhadap apa itu politik ala kaum sarungan, dan untuk apa gunanya santri berpolitik.? Karena santri diajari berbagai ilmu untuk menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Sehingga menjadi generasi yang siap masuk kedalam dunia tempur apapun.
Sebanyak apapun hal buruk yang kita lihat tentang politik, tentu masih terdapat serpihan kebaikan dari politik. Sehingga, sebelum kita menilai buruknya politik, kita juga harus bisa melihat sisi baiknya terlebih dahulu. Karena nuansa politik tidak semuanya bisa dipandang dengan penilaian yang buruk. Memang benar, bahwa pada hari ini kita sedang dihadapkan oleh politik yang sangat jauh dari niali-nilai demokrasi, bahkan nilai agama. Bagaimana tidak, pelaku politik pada hari ini sangat jauh dari harapan masyarakat pada umumnya.

Tujuannya sudah tidak lagi menjunjung tinggi kepentingan bersama. Bisa dikatakan politik amoral. Apa yang bisa dijual semua dijual dengan harga murah. Pokoknya apapun yang bisa dijual, entah itu harga diri, status, bahkan sampai agama juga diperjual belikan untuk mencari pengakuan dan bisa diterima menjadi grombolan penguasa. Ini menunjukan bahwa arus politik pada hari ini semakin tidak sehat.

Menurut Karl Marx, “Negara hanya sebuah organisasi besar yang dikuasai oleh kaum pemodal”. Ini menunjukan bahwa politik yang kotor hanya akan menjadi persoalan pertentangan kelas. Bagimana tidak, siapa yang menang disitulah yang akan menjadi penguasa, bukan menjadi seorang pemimpin yang mewakili rakyatnya. Karena yang akan diutamakan adalah kepentingan kelompok atau golongan, dan yang akan terjadi adalah penyalahgunaan wewenang pemerintahan, yang akan melanggar hukum dan common sense, dapat dilakukan terang-terangan ataupun tersembunyi.
Jika ini terus terjadi maka akan terus memperkuat warisan corak politik pemerintahan patrimonial, yaitu (bentuk pemerintahan dijalankan sesuai kehendak pribadi pemimpin). Dan bentuk pemerintahan itu sudah mengakar puluhan tahun, baik dari Orla, Orba ataupun pemerintahan transisi Habibie. Sehingga untuk memutus mata rantai pemerintahan patrimonial, seharusnya para politisi atau pemimpin baru membentuk lokomotif perubahan, dari pemerintahan patrimonial menuju pemerintahan modern (good governance). Jadi, mau atau tidak, para santri keluaran pesantren juga ikut andil menjadi bagian perubahan yang lebih berkakhlak. Karena melihat kondisi politik yang semakin tidak mendewasakan.

Menggeser Paradigma Politik

Kaum sarungan atau santri sudah mempunyai modal besar untuk mudah diterima kedalam struktur masayarakat untuk merubah pola pikir masyarakat yang pada hari ini juga ikut terseret kedalam jerat politik adu domba. Karena merubah hal buruk yang sudah dianggap lumrah. Adalah hal yang sangat sulit untuk dipecahkan. Sehingga untuk merubahnya butuh waktu yang sangat lama. Seperti halnya kondisi politik di Indonesia yang semakin tidak dewasa ini. Konstalasi politik hanya dijadikan rebut-rebutan kekuasaan, rebut-rebutan jatah kursi dan seterusnya. Dan kejadian itu selalu berulang-ulang. Sampai masyarakat merasa bosan melihat sosok tokoh yang tidak memperdulikan siapa yang harus diperjuangkan. Ini menjadi bukti bahwa politik yang santun masih menjadi harapan semu untuk kita lihat. Jika hal demikian selalu dianggap menjadi hal yang biasa, maka kita akan semakin sulit merubah sudut pandang masyarakat untuk percaya terhadap politik. Karena penilaian masyarakat menganggap, ganti pemimpin atau tidak, seolah tidak ada bedanya. Apa lagi di tahun 2019 ini, tepatnya pesta demokrasi yang akan terlaksana 17 april mendatang. Geliat pesta demokrasi semakin panas, menandakan waktu pergantian birokrat juga semakin dekat.

Masyarakat menunggu antara ide dan realisasi para birokrat. Masyarakat merindukan wakil rakyat yang amanat, atau bahkan berbalik kiblat terhadap rakyat menjadi mata rantai peghianat. kalimat ini hanya soal keraguan yang selalu menghantui masyarakat. Ketika antara ide dan realisasi jauh dari panggang api harapan. Keraguan itu muncul disebabkan krisis multidimensi di Indonesia yang masih belum sepenunya hilang sampai hari ini. Sehingga ini menunjukan bahwa reformasi birokrasi belum berhasil. Etika politisi semakin menjadi-jadi, korupsi masih terjadi.

Politik Generasi Melenial Kaum Sarungan

Kaum sarungan era generasi melenial adalah para generasi emas yang pada era kelahiran tahun 1990-2000 yang akan mewarisi kempemimpinan masa depan. Karena yang tua akan tergantikan oleh kaum muda dan dengan pemikiran pembaharu. Kenapa demikian.?, para calon pemimpin muda ini tentu mampunyai visi kedepan yang lebih memahami jaman sekarang. Bukan kemudian meninggalkan dari pemikiran orang tua, tapi lebih kepada relefansi tuntutan jaman. Apalagi kita bicara soal politik orang Indonesia ala kaum sarungan atau santri, tentu tidak bisa jauh dari peganggan ormas besar NU (Nahdlatul Ulama’), yang mengamalkan pemikiran para sesepuh atau para Kyai. Ruang besar yang dibanguan oleh para ulama’ tersebut adalah untuk ruang para santri terbaik sebagai calon pemimpin Negara harus tetap terjaga.

Kita boleh mereduksi politik barat, tapi tidak bisa meninggalkan politik yang bernafaskan pesantren. Tentunya dengan ajaran politik yang berkemanusian dan mencerminkan sebagai warga Negara Indonesia ala Islam Nusantra yang selalu mengedepankan adat ketimuran dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme.

Merefleksikan Kembali Politik Santun

Sebagai orang Indonesia yang mempunyai corak budaya adat ketimuran. Tentu, kita mempunyai ciri khas pembeda dari pada politik ala Negara eropa. Seperti halnya politik kaum sarungan yang berada pada Bumi Nusantara. Ini bukan soal apa.?. Tapi alasan kenapa istilah politik kaum sarungan dimunculkan.

Hal tersebut adalah untuk menumbuhkan sifat patriotisme para santri. Sehingga pada hari ini santri terbaik yang mencintai keberagaman dan menjunjung tinggi konsep sistem politik yang berkemanusiaan dan santun harus menjadi pengamalan untuk tetap bisa mempersatukan Negara Indonesia.

Sejak jaman Wali Songo sampai Hadratus Syikh Hasyim Asy’ari, Orang Indonesia atau orang nusantara selalu diajarkan politik yang santun. Sehingga dengan buah pemikiran yang ditinggalkan oleh beliau.

Kita harus merefleksikan kembali bahwa politik yang sedang terjadi pada akhir-akhir ini. Harus menjadi bagian refleksi bersama. Jangan sampai kecrobohan dalam mengamalkan pola politik yang kurang tepat akan manjadi bagian masalah yang nantinya sulit untuk diurai.

Sadar betul bahwa menguatnya aspirasi masyarakat itu menandakan sangat merindukan pemimpin yang bersih, bisa menjalankan pemerintahan, serta bisa berdiri diatas semua golongan merupakan harapan baik.

Referensi

Alfan, Alfan. 2016. Bandit-Bandit Segala Bidang. Bekasi. PENJURU ILMU SEJATI.
Azizy, Qodri, 2007. Change Management Dalam Refornasi Birokrasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Baso, Ahmad. 2013. PESANTREN STUDIES 4a Buku IV: Akar Histori dan Fondasi Normatif Ilmu Politik-Kenegaraan Pesantren, Jaringan dan Pergerakannya se-Nusantara Abad 17 dan 18.
Hamzah, Muchotob. 2004. Menjadi Politisi Islami (Fiqih Politik). Yogyakarta: Gema Media.
Indar, Khofifah, 2013. Islam NU dan Keindonesiaan. Bandung: NUANSA CENDEKIA.
Kompas, 2010. Perjalanan Politik GUS DUR. Jakarta: Kompas
Kristeva, Santoso, 2011. Negara Marxis dan Revolusi Proletariat. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
Penerjemah, Irham, Masturi dan Supar, Malik, 2001. Mukaddimah Ibnu Khaldun. Jakarta: PUSTAKA AL-KAUSTAR.

, , ,

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *