Sunan Kalijaga; Tembang, Wayang dan Waringin Sungsang

Oleh Taufiq Ahmad*

Anglaras ilineng banyu, angeli ananging ora keli. Mangasah mingising budhi, memasuh malaning bhumi, memayu hayuning bhawana. (Sunan Kalijaga)

Sunan Bonang membangunkan muridnya dari pertapaan. Raden Said, si mantan pimpinan berandal Lokajaya, diangkat jadi Sunan. Mungkin karena pertapaannya di pinggir kali, ia diberi gelar Sunan Kalijaga.

Kali, sungai, atau bengawan, memang punya sejarahnya sendiri yang teramat panjang. Sungai bukan semata tempat mengambil air, mandi dan mencuci, melainkan sebagai urat nadi peradaban. Peradaban-peradaban klasik yang adiluhung banyak ditemui di sekujur sungai. Sebut saja sungai Eufrat dan Tigris di Mesopotamia, Indus dan Gangga di India, Nil di Mesir, Mekong di Tiongkok, dan seterusnya.

Di Jawa, kali Brantas dan Bengawan Solo menjadi urat nadi bagi bentangan sejarah peradaban kerajaan-kerajaan besar, seperti Singhasari dan Majapahit. Dan kita tahu, era Sunan Kalijaga (atau era Walisongo) adalah era dimana Majapahit diambang keruntuhannya. Para pujangga menamainya “sandyokalaning modjopahit”.

Maka, Sunan Kalijaga sebagai sebuah nama, tentu bukan sembarangan. Keruntuhan kerajaan besar adalah bencana. Namun, bencana harus disikapi, agar keruntuhan total bisa dihindari. Kalijaga bisa bermakna sebuah tugas yang sangat mendasar: menjaga urat nadi bangsa Jawa.

Pertanyaan atas Narasi Keberhasilan Walisongo

Ketika Said kembali ke masyarakat dan berperan sebagai Sunan, ia menyadari bahwa yang dihadapi sesungguhnya masih sama seperti saat masih berandal. Kemunduran Majapahit sejak Perang Paregreg (1404-1406) antara istana barat pimpinan Wikramawardhana dengan istana timur pimpinan Bhre Wirabhumi, membawa perpecahan menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Dan Raden Said adalah putra dari salah satu raja kecil itu, Adipati Wilwatikta.

Perpecahan membawa beban yang tak tertanggungkan bagi kaum kawula. Beban upeti kian berat. Kawula kian melarat. Pendeknya, Jawa sedang sekarat.

Namun Said juga tahu, merampok penguasa untuk diberikan ke kawula jelata bukan solusi. Kawula tak akan pernah berdikari. Ia tak mau mengulang kegagalan kembali. Tak perlu. (Baca: http://www.tubanliterasi.com/opini/berandal-lokajaya-tidak-pernah-merampok-rakyat/)

Maka, bersama para Sunan lain terutama dalam Walisongo, siasat disusun. Beban rakyat harus diringankan, tapi bukan dengan ikut campur dalam pertikaian.

Narasi sejarah yang berkembang kemudian adalah Sunan Kalijaga menggubah tembang, kidung-kidung penggetar malam, juga menjadi dalang atas jenis seni yang baru ia cipta: wayang. Wayang Kulit tepatnya. Sebab Wayang Beber sudah ada. Dan dari tembang dan wayang, risalah Islam diselipkan. Dan berhasil. Padahal sebelumnya, Islam sudah masuk Nusantara jauh-jauh hari sejak Abad ke-7 Masehi, tepatnya era Khalifah Ali bin Abi Thalib. Namun Islam tak mampu menembus bangsa Jawa.

Para sejarawan menulis, berdasarkan sumber dari catatan Ying-ya-sheng-lan karya Ma Huan, sekretaris Cheng Ho ketika melakukan pelayaran ketujuh (1433 M), bahwa penduduk Jawa saat itu terdiri dari tiga komunitas, yakni dari daerah barat (Arab-Persia) dan Tionghoa yang beragama Islam, sementara pribumi Jawa mayoritas belum Islam. Namun, ketika Tome Pires datang pada 1513, ia mencatat bahwa sepanjang pantai utara Jawa, mayoritas sudah memeluk Islam. Artinya, ada era yang cukup singkat dalam pengislaman Jawa. Dan itulah era Walisongo, yang di dalamnya termasuk Sunan Kalijaga, yang berdakwah dengan nembang dan ndalang itu.

Saya tidak mengingkari narasi tersebut. Namun, soalnya adalah apakah kelaparan yang mendera dan ketakutan pada penguasa bisa kenyang dan merasa aman dengan melantunkan tembang dan nonton wayang? Bukankah justru aksi berandal Lokajaya lebih solutif karena perut yang lapar langsung diberi sembako dan kondisi terancam langsung dapat pembela?
Kemudian apa yang membuat orang berbondong-bondong masuk Islam jika gerakan budaya itu tidak secara langsung memberi solusi kongkrit dalam persoalan hidup rakyat jelata itu? Apakah mereka puas dengan sekedar harapan-harapan palsu yang menjadi candu?

Adapun dalam konteks kemerosotan bangsa Jawa, apakah alunan tembang dan dan gubahan wayang mampu menghadang kemerosotan bangsa Jawa? Apakah gerakan budaya mampu menyatukan bangsa Jawa dengan badai bangsa Barat menerpa?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengiang di kepala saya. Dan sepertinya memang tidak ada jawaban yang memadai. Tapi dalam tulisan ini tetap akan saya coba..

Islam, Risalah Pembebasan?

Risalah Islam dibawa Nabi Muhammad pada Abad ke-7 Masehi di Mekah, di tanah Arab. Suatu tanah gurun nan tandus, dengan peradaban yang masih sangat sederhana. Berbeda dengan Nusantara yang bertanah subur dan di abad yang sama yang sudah mampu membangun peradaban tinggi seperti Medang Kamulan dan Kedatuan Sriwijaya.

Di Arab saat itu, kesenian yang bisa dikatakan maju hanyalah syair, yang sering dilombakan di pasar Ukadh. Syair paling bagus akan ditulis dengan tinta emas dan digantung di dinding Ka’bah.

Adapun, secara ekonomi penduduk Mekah bermatapencaharian sebagai pedagang. Secara sosial, masyarakat Arab ashobiah-nya sangat kental. Sementara stratifikasi sosialnya yaitu kelas pemodal, dan pekerja dan budak sebagai mustad’afien. Nabi Muhammad sendiri sebelumnya adalah seorang pedagang-pekerja, bukan pemodal. Ini yang sering disalahpahami oleh pegiat entrepreneurship, yang menempatkan Nabi seolah seorang kapitalis syariah yang sukses.

Ketika Nabi membawa risalah Islam, yang paling semarak menyambut adalah golongan mustad’afien. Sementara itu, Islam mendapat penentangan yang keras oleh elit-elit masyarakatnya. Fakta itu menunjukkan bahwa Islam bukan sekedar seruan kosong, tapi suatu daya yang bakal mendobrak struktur masyarakat yang menindas, yang dikenal dengan jahiliyah.

Seruan Tauhid dalam Islam bukan semata agar seseorang mengakui keberadaan Tuhannya, tapi membawa implikasi yang tidak ringan. Dalam Alquran ada aksioma-aksioma yang menghantam jantung masyarakat jahiliyah. Seperti kesetaraan manusia di hadapan Allah. Lalu larangan keras atas praktik riba, berlebihan, mubazir, takatsur (akumulasi), bagy dan fakhsya.’ Sesuatu yang lazim dalam masyarakat Arab waktu itu.

Daya dobrak itulah yang membuat elit-elit Makkah merasa terancam dari status quo, sehingga segala upaya mereka lakukan untuk menghadangnya. Mulai bujuk rayu hingga ancaman pembunuhan pada diri Nabi. Hingga penyiksaan dan pemboikotan bagi pengikut Nabi.

Nabi kemudian hijrah ke Yastrib, dan penduduk kota itu menyambut baik dan malah menjadikannya sebagai pemimpin. Di Yatsrib Nabi mendirikan masyarakat baru, dengan Piagam Madinah dijadikan landasan. Suatu piagam yang sangat progresif pada zamannya.

Keberhasilan Islam di Yastrib (Madinah), membuat Makkah ketar-ketir. Madinah adalah jalur perdagangan tradisional Qurays ketika hendak berdagang ke Syam. Sebab itu, elit-elit Makkah menyusun kekuatan untuk menguasai Madinah. Dan perang pun terjadi berkali-kali. Hingga akhirnya justru Makkah takhluk di bawah pimpinan Islam.

Ada hal penting yang perlu diketahui dalam penakhlukan Mekah. Yakni bahwa Nabi tidak membalas dendam atas penduduk Mekah yang selama ini memeranginya. “Ini hari kasih saying, bukan hari pembalasan dendam,” begitu orasi Nabi yang mengharukan.

Penakhlukan Mekah membawa pembebasan. Struktur sosial jahiliyah dibongkar, masyarakat baru dibangun. Usai Nabi wafat, Islam menjadi spirit baru bagi pembebasan masyarakat Arab dari struktur dan kultur jahiliyah, dan spirit it uterus menyebar ke penjuru bumi. Masyarakat Islam kemudian menjadi poros kejayaan dunia sepanjang delapan abad setelahnya.

Islam dalam Silang Nusa Jawa

Sepanjang delapan Abad yang sama, Nusantara adalah masa kejayaan kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha, yang silih berganti dari Mataram Kuno dan Sriwijaya, hingga kemaharajaan Majapahit. Sepanjang itu pula Islam yang dibawa para saudagar dan para muballigh, kesulitan untuk bisa diterima masyarakat Nusantara.

Dalam masyarakat Jawa, kesulitan itu karena struktur masyarakat yang menempatkan golongan saudagar dan orang asing dalam kasta rendah, yakni Sudra dan Mleccha. Di atas itu ada triwangsa, yakni brahmana (begawan), ksatria (bangsawan), dan waisya (petani, alias rakyat kebanyakan). Artinya ketika Islam dibawa saudagar, sudah pasti tidak didengar.

Baru ketika Majapahit dalam fase keruntuhannya, Islam mulai bisa diterima secara massif. Faktor-faktor penerimaan itu, menurut para sejarawan, pertama karena status penyebar, yang kedua soal strategi.

Hubungan Majapahit dengan kerajaan Islam Campa cukup bagus. Apalagi ketika prabu Brawijaya mempersunting putri kerajaan Campa, yang kemudian mengislamkan sang Prabu.

Hubungan juga berlangsung dengan penerimaan para ulama dari Campa, seperti Sunan Samarkandi (keponakan putrid Campa), dengan dua anaknya, Ali Murtadho dan Ali Rahmat. Ali Murtadho diberi jabatan sebagai Raja Pandita, semacam departemen keagamaan khusus Islam. Sementara Ali Rahmat berperan sebagai tabib dan imam masjid, yang kemudian dikenal dengan Sunan Ampel.

Ketika pada 1471 Campa mengalami penakhlukan oleh Raja Koci (Vietnam), berlangsunglah eksodus besar-besaran para bangsawan Campa ke Nusantara termasuk Jawa. Sekeliling Ngampel Denta di Surabaya kemudian banyak orang Islam pelarian dari Campa (Lombard, 2008: 43).

Warisan-warisan Campa yang bisa dilihat sekarang adalah adanya beberapa makam Putri Campa di Jawa, seperti di Lasem, Gresik dan Trowulan. Sementara itu, warisan-warisan tradisi Islam Campa bisa ditemui dalam upacara-upacaka kematian, seperti upacara 3, 7, 40 dan 100, dan 1000 hari.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel kemudian dikenal sebagai pelopor Walisongo, suatu perkumpulan para Sunan yang punya misi untuk menyebarkan Islam di Jawa. Dan Walisongo memang yang membuat Jawa dalam waktu yang relatif singkat penduduknya masuk Islam secara massif.

Penerimaan Islam di Jawa sejauh ini dikait-eratkan dengan strategi kebudayaan Walisongo yang secara canggih memasukkan unsur-unsur keislaman. Namun, yang perlu lebih dipahami menurut saya adalah kehadiran Walisongo ada dalam momentum yang tepat. Jiwa bangsa Jawa yang sekarat membutuhkan obatnya. Dan Walisongo menyediakan hal itu.

Dalam sejarah, kita kenal istilah trilogi politik klasik Jawa, yaitu wangsa, cacah dan tlatah. Wangsa adalah pemilik cacah dan tlatah, sehingga dalam struktur social politik dikenal dua kelas: kelas atas yaitu wangsa atau dikenal dengan gusti, dan kelas bawah yaitu kawula. Bentuk hubungan antar kelas adalah wangsa atau gusti sebagai penentu segala kebijakan yang menyangkut nagari, sementara peran kawula adalah memenuhi seluruh perintah gusti, dan bentuk yang paling dasar adalah upeti.

Pada era kemerosotan Majapahit, antar penguasa-penguasa local bertikai. Dan pertikaian memerlukan biaya besar. Dan biaya itu yang dibebankan pada kawula, dalam bentuk upeti yang tinggi. Sementara siapapun kawula yang tak mampu membayar upeti siap-siap disiksa. Para kawula diliputi kesengsaraan dan ketakutan pada penguasa.

Sebagai bagian dari keluarga keraton yang kesehariannya bergumul dengan kaum kawula, Raden Said merasa tak tahan. Kesewenang-wenangan harus diberi pelajaran. Kesengsaraan harus dihentikan. Itulah yang membuatnya melakukan aksi perampokan yang hasilnya untuk rakyat jelata. Hingga ia sadar, itu aksi yang sia-sia.

Raden Said kini jadi Sunan Kalijaga, bagian sah dari Walisongo. Dan Walisongo adalah para ulama yang bukan sekedar mengabarkan Islam sebagai seruan kosong, tapi Islam harus jadi obat bagi jiwa bangsa Jawa yang sekarat. Islam harus hadir sebagai solusi kongkrit bagi kawula yang sengsara dan melarat.

Sunan Kalijaga Sekedar Jualan Candu?

Di belahan dunia yang jauh pada Abad XIX, filsuf berjenggot tebal bernama Karl Marx menyatakan bahwa agama adalah candu, lalu komunisme adalah hantu. Mungkin Marx sedang berpuisi, tapi dua frase itu seperti kutukan bagi pengikutnya.

Kata-kata Marx kemudian membelah bumi. Komunisme berhadap-hadapan dengan agama. Dan, ketika di suatu belahan bumi komunis membantai jutaan manusia, jutaan komunis juga dibantai di belahan lainnya. Marx mungkin menyesalinya di akhirat sana. Lalu kembali kedunia menjadi hantu yang ingin merevisi kata-katanya. Tapi sayangnya, hantu hanya mampu menghantui, tak bakal kuasa merevisi.

Namun, agama memang punya candunya sendiri. Dan candu tak mesti buruk. Dosis yang tepat bisa sangat berguna, seperti dalam dunia medis. Dalam masyarakat yang teramat sengsara, agama berguna untuk menenangkan, menenteramkan, agar tidak bunuh-bunuhan, atau satu persatu diam-diam bunuh diri karena derita sudah tak tertahankan. Bahwa candu agama berfungsi menyediakan penawar segala lara yang mendera manusia di sekujur bumi. Bahwa meski di dunia hidup melarat dan sengsara karena kapitalisme industrial, asal dengan sabar menerima takdirNya, di akhirat sana akan berbuah surga.

Dan ketika Sunan Kalijogo nembang dan ndalang sambil mengajarkan Islam, bisa saja itu disebut sebagai candu jika memang tujuannya agar melalaikan masyarakat atas keadaan yang dialami dan harus dirombaknya. Tapi kita tahu, tembang dan wayang besutan Sunan Kalijaga bukan semata hiburan yang memabukkan. Ada emansipasi di sana. Dan emansipasi termasuk inti dari ajaran Islam.

Bentuk emansipasi itu nampak dalam berbagai karya Sunan Kalijaga. Dalam cerita pewayangan, misalnya Mahabarata yang cerita dasarnya adalah pertarungan “kelas atas” belaka, yakni Pandawa dan Kurawa, oleh Sunan Kalijaga dimunculkan tokoh rakyat jelata, yakni Punokawan yaitu Semar, gareng, Petruk, Bagong.

Semar adalah gambaran dewa tertinggi tapi memilih menjadi rakyat jelata. Sunan Kalijaga seperti hendak memberi pesan bahwa rakyat tak bisa disepelekan, direndahkan. Rakyat jelata bukan semata obyek (maf’ul), tapi dijadikan subyek (fa’il) dalam cerita itu. Artinya Islam yang dibawa Walisongo bukanlah agama yang menjadi candu.

Ajian Waringin Sungsang

Warisan Walisongo yang kita kenal saat ini dan sangat progresif adalah ajaran manunggaling kawula gusti. Kawula dan gusti dilebur, diganti istilah baru yang diambil dari ajaran Islam, yakni masyarakat.

Kata masyarakat merujuk pada kata “musyarokah” yang artinya orang-orang yang saling kerjasama. Dalam masyarakat, setiap anggota bisa berkata “ingsun” untuk menyebut dirinya. Suatu sebutan yang sebelumnya hanya kelas atas saja yang boleh menggunakan. Sementara kelas bawah adalah kula, kawula, abdi, hamba, atau sahaya, yang artinya sama: budak. “Ingsun” masih kita warisi terutama di pesantren-pesantren ketika mengaji kitab kuning.

Perombakan struktural terus dilangsungkan, terutama ketika Walisongo menginisiasi kerajaan baru: Demak Bintoro, dengan seorang raja bernama Muhammad Al-Fattah, putera Prabu Brawijaya V dengan istri seorang selir yang dikenal sebagai Puteri Cempo.

Pada zaman Demak, tanah-tanah perdikan mulai diperbanyak, untuk kemudian dijadikan tanah rakyat. Bahkan ada kisah seorang adipati, yaitu Ki Ageng Penging, yang memilih melebur bersama rakyat jelata, dengan membagi tuntas tlatah yang ada dalam kekuasaannya.

Selain itu, kalau melihat manuskrip-manuskrip warisan Walisongo, peran Sunan memang bukan sekedar mengajarkan fiqh, tapi juga mengembangkan berbagai jenis keilmuan, mulai dari Mantiq (logika), Falaq, hingga metalurgi.

Fakta-fakta itulah yang kalau kita cermati, gerakan Walisongo itu didalamnya mengampu suatu gerakan meretas kelas, sekaligus upaya mengembalikan martabat manusia Jawa.

Dalam dunia persilatan, ada satu ajian paling sakti warisan Sunan Kalijaga, yaitu ajian Waringin Sungsang. Waringin Sungsang memang lebih dikenal sebagai ajian sakti pelumpuh kekuatan lawan dengan mengambil posisi kebalikannya.

Namun, izinkan saya menafsiri bahwa waringin sungsang adalah upaya Sunan Kalijaga membalikkan keadaan manusia Jawa yang mengalami kemerosotan. Dan apakah upaya itu berhasil?
Bangsa Barat keburu datang. Sementara Nusantara belum sembuh dari sakitnya.

Bantul, Senin Kliwon, 15 April 2019


*Penulis kelahiran Senori. Aktif di Kincir Institute, Yogyakarta.

Referensi:
Denys Lombard. Nusa Jawa Silang Budaya jilid II dan III.
Agus Sunyoto. Atlas Walisongo.
Husain Mu’nis. Sejarah Otentik Nabi Muhammad.
Karl Marx. Communist Manifesto.

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *