Ternyata ini, Asal Usul Sugiharjo

Oleh: Krisna Ardhi Abdullah*

Desa Sugiharjo adalah salah satu desa dari tiga desa yang ada di Kecamatan Tuban. Ada tiga desa di Kecamatan Tuban yang belum diangkat menjadi kelurahan yaitu, Desa Kembangbilo, Desa Sugiharjo, dan Desa Sumurgung.

Ketiga desa tersebut belum diangkat menjadi kelurahan, karena di daerah desa tersebut masih banyak terdapat hamparan sawah yang masih luas dan sebagian masyarakatnya masih bermata pencaharian sebagai Petani.

Desa Sugiharjo terdapat dua Dusun yaitu, Dusun Mawot dan Dusun Winong. Kedua Dusun tersebut mempunyai asal usul yang sangat berbeda. Di mulai dari Asal usul Dusun Mawot, kata mawot tersusun atas kata asem dan wot (Jembatan).

Dahulu kala, di dusun ini terdapat sungai-sungai kecil yang memisahkan antara bagian barat dan bagian timur. Oleh warga sekitar membuat jembatan yang terbuat dari pohon asem. Warga sekitar menyebutnya Asema Wot dan lama-kelamaan warga pun menyebutnya dengan sebutan Mawot.

Di Dusun Mawot ada sebuah Dukuh yang dinamakan Dukuh Kaligede. Kaligede berasal dari kata Kali (sungai) dan Gede (Besar). Penduduk sekitar meyakini bahwa, dulunya ada seorang wali yang sangat sakti mandraguna yang membuat bengawan dengan cara menarik tongkatnya dari Dusun Winong (sekarang RT 2 RW 9), sampai ke Dukuh Kaligede (sekarang RT 2 RW 1).

Namun saat membuat bengawan, wali ini berpapasan dengan seorang tua renta memukul tampah (ayaman dari bambu). Seketika itu bengawan yang mulanya sudah hampir jadi, akhirnya batal dan tidak jadi bengawan.Warga sekitar pun menyebutnya kejadian ini adalah bengawan wurung (bengawan tidak jadi). Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat daerah yang menyerupai sungai besar. Akhirnya, warga sekitar menyebutnya daerah tersebut dengan sebutan Kaligede.

Sekarang kita lanjut ke Dusun Winong. Dusun Winong dulunya adalah Desa Cebolek. Di Dusun tersebut ada sebuah masjid yang bernama Masjid Karomah. Dibangun oleh seorang wali Allah yang bernama K.H. Ahmad Muttakhim atau sering juga disebut Mbah Bolek. Beliau adalah seorang waliyullah yang telah berjasa dalam penyebaran agama islam. Masjid tersebut dibangun tepat berada disebelah sungai yang warga sekitar menyebutnya dam winong. Di tengah-tengah masjid tersebut terdapat pohon sawo yang sangat besar, sampai saat ini pun masih ada.

Masjid tersebut telah mengalami perbaikan beberapa kali, karena masjid tersebut pernah dilanda banjir yang sangat besar dan hampir menutupi bagian atap masjid.

Di Dusun Winong ada sebuah dukuh yaitu Dukuh Grudo, kata Grudo berasal dari kata Garuda, karena di Dukuh Grudo tersebut telah ditemukan batu yang tengahnya ada lubangnya seperti tempat minum burung garuda. Warga sekitar mempercayai bahwa, batu tersebut adalah tempat minum burung garuda, dan pasti di sekitaran Dukuh Grudo dulunya banyak burung garuda yang singgah di dusun tersebut. Maka dari itu dukuh tersebut diberi nama Dukuh Grudo.

Desa Sugiharjo sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, baik itu lahan miliknya sendiri atau menggarap lahan orang lain. Tetapi, Selain petani, sebagian masyarakat Sugiharjo juga membuka Home Industry ( industri rumahan), salah satu industri yang terkenal di Sugiharjo adalah industri kue basah.

Masyarakat memproduksi kue basah yang kemudian dijual kepasar. Selain itu ada pula usaha industri meubel, jasa pengupasan kacang, dan usaha perdagangan. Iulah mata pencaharian masyarakat desa Sugiharjo.

Secara Geografis, Desa Sugiharjo dibatasi oleh :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Mondokan kecamatan Tuban
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Boto, kecamatan Semanding
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sunurgung kecamatan Tuban
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kembangbilo kecamatan Tuban

Di desa Sugiharjo terdapat sebuah seni musik yang masyarakat Tuban menyebutnya musik “Tongklek”. Tongklek adalah sebuah musik yang terbuat dari bambu yang digunakan untuk membangunkan orang untuk sahur dibulan ramadhan.

Setelah berkembangnya kemajuan zaman, kini tongklek juga banyak yang menggunakan alat musik tradisional dan modernseperti, gambang/saron, gong, bass/gendung. Ada juga alat modern diantaranya, snaer drum, simbal, dan quarto. Salah satu tongklek di desa Sugiharjo adalah tongklek Putra Rahayu yang pernah menjuarai festival festival tongklek yang pernah diadakan di Kabupaten Tuban.

Pada tahun ini, di Desa Sugiharjo akan segera dibangun agro wisata, yang akan dibangun di Bendungan Sukun, tepatnya pada Dusun Winong yang berada sebelah selatan Masjid Karomah Winong.

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *