Tradisi Gowo’an di Tuban

Oleh: Diana Ika Sistyarini*

Desa Bulujowo merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban yang terletak didaerah pesisir laut jawa. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah nelayan.

Desa Bulujowo juga memiliki wilayah yang sangat strategis yaitu berada di jalur jalan pantura. Sebagai wilayah yang strategis, Desa Bulujowo memiliki berbagai macam sejarah, tradisi dan budaya yang terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat secara turun menurun.Salah satu tradisi yang terus dilestarikan sampai saat ini adalah tradisi Gowo’an.

Tradisi Gowo’an menjadi salah satu ciri khas tradisi Desa Bulujowo.Tradisi Gowo’an merupakan salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Bulujowo untuk bayi yang baru bisa berjalan sebagai acara tasyakuran.

Tradisi Gowo’an dimulai dengan berjualan makanan atau nasi yang biasa disebut “nasi gowo’an atau sego gowo’an”. Nasi ini terdiri dari nasi dengan sayur menir yang terbuat dari daun kelor dengan lauk telur dadar, tempe, tahu atau ayam goreng dengan ditambah sambal sebagai pelengkap, dan dibungkus dengan menggunakan daun waru.Berjualan nasi gowo’an dilakukan oleh ibu sang bayi. Sedangkan pembelinya adalah tetangga sekitar dan tamu undangan.

Salah satu keunikan dalam tradisi gowo’an adalah pembeli tidak membeli menggunakan uang melainkan menggunakan pecahan genteng atau masyarakat biasa menyebutnya dengan ”kreweng”. Kreweng inilah yang menjadi keunikan dalam tradisi gowo’an sebagai alat tukar. Setelah di tukar, penjual akan meletakkan kreweng kedalam wadah berbentuk bulat yang terbuat dari tanah liat atau yang biasa disebut dengan “kuali” yang sudah diisi dengan air dan beras kuning.

Setelah menukarkan kreweng dengan sebungkus nasi gowo’an, semua akan berkumpul dan makan bersama sama.Setelah makan bersama-sama, ibu sang bayi akan memecahkan kuali yang berisi kreweng tersebut. Dengan memecahkan kuali sekaligus sebagai tanda acara selanjutnya akan dimulai. Acara yang ditunggu-tunggu dalam tradisi Gowo’an.

Tradisi Gowo’an tidak lepas dari tradisi menabur uang atau biasa masyarakat menyebutnya dengan istilah “Udik-udik’an”.

Tradisi udik-udik’an ini dilakukan dengan menabur uang recehan yang sudah dicampur dengan beras kuning. Tamu undangan yang sudah hadir dan makan nasi gowo’an akan berkumpul dan mempersiapkan diri untuk menunggu taburan uang yang akan ditabur oleh ibu sang bayi.

Berebut uang taburan dalam tradisi gowo’an adalah prosesi yang paling di tunggu dan menyenangkan. Tidak menghiraukan berapa jumlah yang didapat, namun kebersamaan, keseruan dalam beradu cepat dan berebut mengambil uang yang ditabur selalu menjadi hal yang menyenangkan dalam tradisi gowo’an.

Uang yang ditabur biasanya terdiri dari nominal yang bervariasi, namun jumlah uang yang ditabur tidak pernah ditentukan. Jumlah uang yang ditabur tergantung keinginan yang mempunyai hajat.

Tradisi Gowo’an ini sangat unik dan jarang ditemukan didaerah lain. Tidak ada yang tahu pasti, sejak kapan tradisi ini dimulai namun tradisi unik ini terus dilakukan secara turun temurun hingga sampai saat ini.

Oleh karena itu, apabila ada bayi yang sudah mulai belajar berjalan, masyarakat akan selalu menunggu Tradisi Gowo’an dari sang bayi tersebut.

Tradisi Gowo’an pada dasarnya merupakan acara tasyakuran yang biasa dilakukan masyarakat pada umumnya atau biasa masyarakat jawa menyebutnya dengan istilah “banca’an”. Tapi, Tradisi Gowo’an memiliki ciri khas yang berbeda tasyakuran.

Selain sebagai tradisi turun temurun, Tradisi Gowo’an ini juga mengajarkan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari seperti, berbagi dengan sesama sebagai wujud dari rasa syukur, kesederhanaan, menumbuhkan rasa persaudaraan, dan mengajarkan arti kebersamaan. Dengan demikian, sudah semestinya kita sebagai generasi harus melestarikan tradisi atau budaya yang sudah menjadi kebiasaan secara turun temurun yang mempunyai nilai-nilai kehidupan yang harus selalu dikembangkan.

*Diana Ika Setyarini, perempuan berbakat dari Desa Bulujowo Kec. Bancar Kab. Tuban, sebuah Desa diujung barat kabupaten Tuban. Meski berada jauh dari kota, tetapi, dalam urusan menulis, ia sangat luar biasa. Penulis bisa dihubungi di:[email protected]

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *