Bedah Buku Pemikiran Islam Metodologis: Model Pemikiran Alternatif Dalam Memajukan Peradaban Islam

Oleh: Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag*

Kondisi umat Islam dahulu maupun sekarang ini dipengaruhi oleh model berpikirnya, yang belakangan ini sering disebut mindset seseorang. Pemikiran ini bekerja menggerakkan anggota badan untuk melakukan sesuatu tindakan. Karena itu yang merombak dunia ini bukan hafalan, tetapi pemikiran. Pengembangan sains dan teknologi begitu dinamis bahkan progresif karena didorong oleh pemikiran saintis dan teknolog yang senantiasa mencari terobosan-terobosan baru dengan melakukan inovasi-inovasi yang cemerlang. Mereka selalu melakukan tafakkur (kontemplasi) dan eksperimen dalam mengembangkan sains dan teknologi baru.

Tafakkur merupakan ekpresi pemikiran, sedangkan eksperimen merupakan realisasi dari aksi seseorang. Memang pemikiran ini harus disertai aksi yang nyata. Sebab pemikiran tanpa aksi nyata hanyalah merupakan pengendapan wawasan filosofis yang berbentuk wacana-wacana semata. Maka pemikiran harus ditindaklanjuti melalui aksi nyata, agar pemikiran itu dapat teraktualisasikan secara dinamis kemudian berpengaruh langsung terhadap dinamika produk-produk hasil pemikirannya itu.

Untuk kepentingan inilah, saya memilih, menetapkan dan merumuskan judul buku yang dibedah ini, yaitu Pemikiran Islam Metodologis: Model Pemikiran Alternatif dalam Memajukan Peradaban Islam. Istilah pemikiran Islam metodologis berarti pemikiran-pemikiran mengenai ajaran-ajaran Islam dengan cara menggali, menemukan dan mengembangkan strategi, metode, teknik, cara, pendekatan, kiat-kiat, langkah-langkah, prosedur dan mekanisme untuk mempercepat kemajuan peradaban Islam. Pengertian ini mengandung kekuatan ganda, yakni: pertama merupakan aktivitas penelitian yang mengarah pada temuan sebagai kegiatan yang dinamis, dan kedua, objek penelitiannya ditujukan pada rumpun strategi. Keduanya memiliki potensi dalam mengawal kemajuan. Apalagi keduanya bertujuan mempercepat kemajuan peradaban Islam.

Upaya mempercepat kemajuan peradaban Islam sebagai tujuan pemikiran Islam metodologis (PIM) ini selanjutnya dapat dirinci menjadi tujuan yang lebih spesifik lagi yang meliputi: (1) untuk membangun kesadaran berpikir positif; (2) untuk membangun kesadaran berpikir dan bertindak secara efektif dan efisien; (3) untuk membangun kesadaran berpikir dan bertindak secara aktif, kreatif, dan produktif; (4) untuk membangun kesadaran berpikir dan bertindak strategis; (5) untuk membangun kesadaran berpikir dan bertindak pengembangan; (6) untuk membangun kemandirian baik dalam merumuskan metode maupun konstruksi-konstruksi teori keilmuan; dan (7) untuk mempercepat kemajuan umat Islam dan peradabannya. Tujuan-tujuan ini mempengaruhi karakteristik, bangunan tradisi maupun rumusan pemikiran Islam metodologis.

Sebagai sebuah model pemikiran alternatif, PIM memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dengan model pemikiran Islam lainnya. PIM berbeda dengan pemikiran Islam tradisional, modernis, fundamentalis, liberal, moderat dan transformatif. PIM memiliki kedekatan dengan model pemikiran Islam transformatif, tetapi masih terdapat ciri-ciri yang membedakan keduanya. Sebaliknya model pemikiran Islam yang jauh dari PIM adalah pemikiran Islam tradisional, sedangkan yang paling jauh adalah pemikiran Islam fundamentalis. Implikasinya, dalam kasus tertentu PIM bisa berdampingan dengan pemikiran Islam transformatif, namun berseberangan dengan pemikiran Islam fundamentalis.

Adapun karakteristik PIM ini cukup banyak, antara lain: (1) berorientasi pada cara-cara pengembangan; (2) bergerak menuju temuan-temuan inovatif-konstruktif; (3) melakukan penelusuran model secara komparatif-selektif; (4) bebas dari keterikatan dengan pola pikir aliran teologis, madzhab fiqh maupun figur-figur pemimpin tertentu; (5) berusaha menghindari sasaran-sasaran pemikiran yang sensitif; (6) menekankan kemandirian melalui kreativitas secara berkesinambungan; dan (7) mensinergikan antara pemikiran dengan aksi. Intinya, karakteristik PIM ini adalah menatap pencerahan masa depan, sehingga memiliki orientasi kuat ke masa depan (future oriented).

Dengan demikian, langkah berikutnya yang perlu ditempuh adalah upaya membangun tradisi PIM, agar PIM bisa tumbuh, berkembang, mengakar dan bertahan hidup (survive) di kalangan masyarakat Muslim sehingga dapat terhindar dari kecenderungan musiman. Di sini tampak bahwa tradisi yang dibangun ini diposisikan sebagai saluran pembudayaan PIM di dalam semua lapisan masyarakat Muslim, dengan menyesuaikan berdasarkan kadar kemampuan mereka.

Membangun Tradisi Pemikiran Islam Metodologis

Tradisi pemikiran Islam metodologis berarti kebiasaan-kebiasaan berpikir tentang cara-cara membangun, mengembangkan, menyempurnakan, meningkatkan, merubah ke arah positif, atau mentransformasikan sesuatu pemikiran, tindakan, adat-istiadat, slogan, norma, budaya maupun pandangan hidup yang berlaku di masyarakat. Tradisi berpikir ini berusaha mengarahkan inisiatif, ide-ide cemerlang, dan gagasan-gagasan pembangun dan pengembang sehingga berwatak kreatif, dinamis, produktif bahkan progresif.

Bangunan konseptual tradisi PIM ini berbeda dengan tradisi pemikiran Islam yang selama ini berkembang di kalangan masyarakat Muslim. Tradisi PIM ini merupakan tradisi rintisan yang berupaya mengubah tradisi pemikiran Islam lama menjadi tradisi pemikiran Islam baru yang menjanjikan kemajuan mereka dan peradabannya di masa depan. Tradisi PIM ini memiliki komitmen yang kuat dalam membangkitkan kemajuan umat Islam, mensejahterakannya dan mengangkat derajat serta martabatnya di tengah-tengah pergumulan dengan umat dan bangsa lain di dunia ini.

Oleh karena itu, tradisi PIM ini harus diinternalisasikan ke dalam masyarakat Muslim melalui berbagai macam pembiasaan, antara lain:

1. Membiasakan istilah-istilah metodologis (istilah yang membangkitkan kreativitas yang perlu dibudayakan mulai kanak-kanak hingga lanjut usia, mulai orang awam hingga masyarakat terpelajar).

2. Membiasakan berpikir dan bertindak produktif-strategis (umat Islam khususnya para pemimpinnya dituntut berpikir melipatgandakan hasil pemikiran, kerja, tindakan dan produk-produk yang dihasilkan, sebagai wujud pemikiran dan tindakan produktif dan strategis. Produktif maksudnya mampu menghasilkan pemikiran dan tindakan yang sangat banyak melebihi kebiasaan sebelumnya, sedangkan strategis maksudnya hasil-hasil itu memiliki fungsi yang besar untuk meraih kemajuan).

3. Menelaah tokoh sebagai model/modelling (menelaah cara-cara yang ditempuh tokoh dalam mewujudkan keberhasilannya. Misalnya, jika kita tertarik pada sosok Imam Ghazali, maka seharusnya kita meniru strategi, pendekatan, dan metode yang dipakai al-Ghazali dalam mengukir prestasi intelektual dan keulamaannya)

4. Menirukan karakter para pengembang peradaban (masyarakat Muslim khususnya para cendekiawan, sarjana dan intelektual Muslim seharusnya mampu mengikuti jejak-jejak para pengembang peradaban baik sebagai perintis, penggali, penemu maupun pengembang. Imam Syafi’i sebagai perintis ushul al-fiqh, Ibn Hazm dan Ibn Taimiyah sebagai perintis metode induksi, al-Jahid, Ibn Miskawaih dan Jalaluddin Rumi sebagai perintis teori evolusi. Para penggali hadits telah berhasil membukukan hadits berjilid-jilid; al-Khawarizmi sebagai penemu angka nol, al-Biruni penemu hukum gravitasi, dan Ibn Haitsam sebagai penemu teori vision; Imam Hanafi mengembangkan metode ijtihad yang disebut istihsan, Imam Maliki mengembangkan maslahah mursalah, dan Imam Syafii mengembangkan istishab)

5. Membiasakan rintisan peradaban alternatif (peradaban alternatif merupakan model peradaban yang memberikan kedamaian bagi manusia sesuai dengan misi utama pembentukan suatu peradaban, sehingga bukan science for science, tetapi seharusnya science for peace of society maupun science for human welfare)

6. Membiasakan praktek kesungguhan (kesungguhan dalam melaksanakan kebaikan sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Kesungguhan ini menjadi kunci kesuksesan sebagaimana pepatah Arab, man jadda wajada, barangsiapa yang bersungguh-sungguh ia akan menuai hasilnya).

7. Membiasakan pencarian prestasi dan solusi sebagai pengganti khilafiyah /perselisihan pendapat (lantaran khilafiyah telah merambat pada tindakan-tindakan yang membahayakan keutuhan umat Islam, maka kita harus mencari alternatif strategis dengan memperbanyak prestasi dan mencari solusi terhadap khilafiyah tersebut).

8. Membiasakan bermadzhab secara manhaji/metodologis (kebiasaan bermadzhab manhaji ini memiliki manfaat yang besar bagi berbagai kalangan meskipun yang mampu melakukan model bermadzhab ini hanya kalangan intelektual. Kebiasaan ini merefleksikan pengaruh terhadap pola pikir, pola sikap, pola hidup, gagasan, pemikiran, pandangan, persepsi, perbuatan dan perilaku masyarakat Muslim).

9. Membiasakan ijtihad peradaban (maksud ijtihad peradaban adalah mengerahkan segala kemauan dan kemampuan untuk meneliti, menggali/istinbath, menemukan dan mengembangkan peradaban Islam berdasarkan inspirasi dan petunjuk al-Qur’an maupun sunnah Nabi).

Semua bentuk pembiasaan ini memberikan inspirasi, stimuasi dan motivasi untuk bergerak cepat meraih kemajuan pemikiran, tindakan dan gerakan, sebagai suatu tahapan hierarkhis dalam merealisasikan kemajuan peradaban Islam. Sebagai sebuah tradisi, pembiasaan-pembiasaan tersebut secara langsung membekali masyarakat Muslim melalui pembekalan kultur yang tinggi (high culture) yang menyusup ke dalam alam bawah sadar mereka. Pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus pada gilirannya akan menjadi sifat, sedangkan sifat akan mengekpresikan suatu tindakan secara spontanitas dan reflektif.

Pembentukan tradisi PIM ini di kalangan masyarakat Muslim sebagai langkah awal yang agak abstrak dan terkadang kurang disadari oleh mereka. Dalam perkembangan berikutnya, PIM ini harus makin konkret mewarnai kehidupan mereka, sehingga dibutuhkan upaya merumuskan PIM dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Merumuskan Pemikiran Islam Metodologis

Pembahasan ini menekankan pada cara-cara merumuskan pemikiran Islam metodologis sehingga bersifat teknis inspiratif, yakni teknik-teknik menjabarkan, menyusun dan merumuskan konstruksi pemikiran Islam metodologis yang membangkitkan semangat mengembangkannya lebih lanjut. Teknik-teknik itu dibutuhkan dalam mempertegas dan mengkonkretkan budaya Muslim yang masih abstrak tersebut, di samping berguna dalam mengembangkan high culture yang telah dimiliki mereka tersebut.

Rumusan pemikiran ini untuk membantu memudahkan seseorang mengenali secara mendalam tentang bentuk-bentuk operasional dari pemikiran Islam metodologis dalam kehidupan sehari-hari; memberikan pedoman dasar bagi umat Islam dalam mempraktekkan pemikiran ini; dan membukakan akses, kesadaran dan semangat baru khususnya bagi intelektual, ilmuan dan cendekiawan Muslim untuk menyempurnakan konstruksi pemikiran tersebut menjadi lebih lengkap lagi. Adapun rumusan pemikiran ini dapat dijabarkan melalui langkah-langkah berikut:

1. Merumuskan pola-pola berpikir metodologis (pola konstruktif, integralistik, transformatif, korelatif, kritik, penawaran solusi, tipologik, futuristik, strategik, dan pengembangan).

2. Mentransformasikan pemahaman wahyu menjadi teori-aplikatif (wahyu yang normatif harus dirumuskan dalam bentuk konstruk-konstruk teoritis).

3. Mentransformasikan pemahaman wahyu menjadi metodologi (inspirasi wahyu ditangkap sebagai bekal dalam merumuskan bangunan metode keilmuan).

4. Mentransformasikan pemahaman wahyu menjadi aktivitas penelitian (menindaklanjuti petunjuk wahyu sebagai sinyal maupun stimulan dalam melakukan kegiatan penelitian).

5. Mentransformasikan pemikiran menjadi aksi (upaya merubah pemikiran menjadi aksi teologis, aksi intelektual, aksi metodologis, aksi sektoral, aksi sosial, dan aksi moral).

6. Merumuskan paradigma Islam (dari segi alur pembentukannya meliputi paradigma internal dan eksternal; dari instrumen pembentukan ilmu meliputi paradigma teoritis, metodologis dan penelitian; dari segi karakteristik pemahaman ulama meliputi paradigma Islam konservatif, tradisional, modern, fundamentalis, liberal, moderat, transformatif dan lain-lain; dari segi fungsinya meliputi paradigma petunjuk, konfirmatif dan informatif).

7. Merumuskan pengembangan ilmu-ilmu keislaman (sebagai suatu disiplin ilmu diharuskan senantiasa mengalami dinamika, sehingga suatu ilmu tidak boleh mandeg. Maka ilmu keislaman seperti ilmu kalam, fiqh, tasawuf, tafsir, studi hadits, tarikh, filsafat Islam dan sebagainya).

8. Menghaluskan bahasa teologis (sosialisasi suatu pemikiran teologis di luar aliran Ahlussunnah waljama’ah dirasakan sensitif sekali jika menyebutkan nama aliran tersebut, maka ketika dipandang perlu melakukan sosialisasi pemikiran yang menyemangati kerja yang berasal dari aliran lain sebaiknya tidak perlu menyebutkan nama alirannya. Namun cukup menyebutkan substansi pemikirannya seperti rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, dan bersih pangkal sehat dimana semua ini merupakan ekpresi dari pemikiran aliran Qadariyah).

9. Merumuskan “strategi akar” (strategi yang menekankan pada penyelesaian secara menyeluruh sehingga tidak lagi menimbulkan masalah lain sebagai masalah susulan atau masalah baru sama sekali di kemudian hari. Intinya strategi penyelesaian masalah secara tuntas dengan cara membereskan variabel penyebab utama).

10. Mempertajam rumusan pertanyaan bagaimana dan jawabannya (pertanyaan bagaimana ini mengandung muatan metodologis karena terkait dengan suatu proses atau mekanisme dalam melakukan sesuatu kegiatan. Bila pertanyaan bagaimana ini dipertajam akan diperoleh jawaban-jawaban yang mengandung informasi-informasi tentang cara, metode, pendekatan, teknik, kiat-kiat, strategi, langkah-langkah, mekanisme dan sebagainya. Selanjutnya kita harus memperhatikan jawabannya yang mengarah pada operasionalisasi cara itu. Misalnya penyebab kemunduran umat Islam – pendidikan – kesadaran – cara membangkitkan kesadaran – menunjukkan kebutuhan-kebutuhan yang sangat penting untuk dipenuhi).

11. Merumuskan langkah-langkah dekonstruksi-rekonstruksi (usaha merombak pemikiran yang berorientasi masa lampau ke masa depan, merombak pemikiran normatif kemudian menggantinya dengan pemikiran strategis, merombak pemikiran yang bercorak aksiologis menuju pemikiran yang bercorak epistemologis, merombak pemikiran ideologis-politis menuju pemikiran pemberdayaan, merombak pemikiran formalistik menuju pemikiran transformatif, merombak tindakan konsumtif menjadi tindakan produktif, merombak tindakan imitatif menjadi tindakan konstruktif, merombak tindakan ketergantungan menjadi tindakan kreativitas kemandirian, merombak tradisi mendengar dan berbicara menjadi tradisi membaca dan menulis, merombak tradisi unjuk kekuatan (show force) menjadi tradisi yang mengutamakan hasil maksimal (maximum result), dan merombah tradisi memproduk karya yang telah banyak dihasilkan orang lain menjadi tradisi merintis karya-karya baru yang benar-benar asli.

Strategi Sosialisasi Pemikiran Islam Metodologis

Dalam memberlakukan pembudayaan PIM pada masyarakat Muslim, dibutuhkan strategi khusus dalam melakukan sosialisasi. Strategi ini memiliki peran penting dalam menghindari resistensi mereka. Ada beberapa strategi yang layak ditempuh dalam melakukan sosialisasi PIM tersebut, yaitu:

1. Menyiasati kegagalan dan keberhasilan pembaruan Islam (kegagalan pembaruan di Mesir, Turki, Arabia, dan Pakistan disebabkan tema-tema pembaruannya bersifat normatif dan tidak ada tema yang mengarah pada metodologi pembaruan terutama strategi pembaruan. Khusus kasus kegagalan pembaruan di Mesir dan Turki karena terjebak pada westernisasi. Sedangkan keberhasilan pembaruan di Iran karena kelangsungan tradisi intelektual dan kualitas pendidikan, kemandirian, semangat mengalahkan Amerika Serikat, dan dukungan teologi Syiah).

2. Menelaah karakter masyarakat Muslim arus utama/mainstream (mereka menjadi sasaran paling penting dan menentukan terhadap keberhasilan maupun kegagalan sosialisasi PIM ini. Hasil telaah menunjukkan bahwa arus utama umat Islam secara teologis berkarakter moderat, dari segi pendidikan berwatak konservatif, dari segi intelektual memiliki pemikiran yang tumpul sehingga menjadi konsumen, dari segi ekonomi mereka relatif miskin, dari segi politik terjadi polarisasi sikap, dan dari segi sosial budaya masih rendah. Kesimpulannya, dari berbagai perspektif, mereka serba tertinggal).

3. Menerapkan pendekatan-pendekatan populis (pendekatan persuasif, pendekatan kultural, pendekatan penyesuaian, pendekatan interaktif, pendekatan gradual/bertahap, pendekatan perubahan berdaya, pendekatan proses berkelanjutan, dan pendekatan intensif).

4. Menggunakan saluran-saluran strategis (yakni saluran-saluran yang dipandang mampu menjadi penyebar pengaruh model PIM secara efektif sehingga saluran-saluran itu harus berinteraksi dengan orang banyak dalam posisi sebagai subjek/pemberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung. Saluran ini meliputi figur-figur profesional, kegiatan, media, jabatan pimpinan, budaya dan kebijakan-kebijakan).

5. Memperkuat peranan kelas menengah (kelas menengah ini diukur dari segi penguasaan terhadap ajaran agama Islam. Kalangan menengah ini perlu diberikan peran yang makin besar sebagai penyalur, pelanjut, penghubung/penyambung lidah, penguat, “penerjemah”, penangkal, dan “jembatan”).

6. Mendorong implementasi dalam berbagai lini kehidupan Muslim (model PIM ini diusahakan dapat memasuki seluruh lini kehidupan baik akidah, ibadah dan akhlak, keilmuan, pendidikan, ekonomi, hukum, politik, kesehatan, teknik, sosial, budaya, pertanian, perdagangan, perindustrian, kewirausahaan, penjualan jasa, hiburan, kepegawaian, perkantoran, perhubungan, pariwisata, kedokteran dan sebagainya. Semua pihak yang menangani masing-masing sektor kehidupan ini diikat oleh komitmen dan misi menggali dan menemukan metode, teknik, pendekatan, cara, strategi, prosedur, kiat-kiat, langkah-langkah, dan mekanisme pengembangan masing-masing pekerjaannya demi memberikan kontribusi yang efektif terhadap kemajuan umat Islam dan peradabannya).

7. Menghindari penolakan masyarakat Muslim (ada cara-cara khusus yang perlu ditempuh untuk menghindari penolakan masyarakat Muslim terhadap sosialisasi PIM, yaitu: menghindari sikap memaksakan kepada masyarakat, menghindari hal-hal yang sensitif, menghindari kesan seebagai pemikiran yang tersesat, menghindari kesan sebagai pemikiran yang melangit, menghindari konstruksi pemikiran yang kabur, dan menghindari konflik dengan masyarakat).

Demikianlah, secara substantif, model PIM ini lebih menekankan ranah epistemologis daripada ontologis maupun aksiologis. Kecenderungan ini sangat kuat dan dominan mengarah pada sasaran-sasaran epistemologis sebab konstruksinya dipenuhi rumpun metode atau strategi dalam memberikan pemecahan-pemecahan peradaban Islam. Sasaran-sasaran epistemologis ini memiliki kekuatan lokomotif yang luar biasa besarnya.

Oleh karena itu, model PIM ini mengambil dan menyumbangkan fugsi strategis dari kecenderungan epistemologis tersebut, sehingga model PIM ini didesain dan dikonstruk demi “merebut” posisi dan peran-peran strategis serta berusaha memajukan peradaban Islam.

(*) Pria asli Tuban kelahiran Sumurgung Palang. Menyelesaikan sarjana muda dan sarjana lengkap di IAIN Malang (UIN Maliki Malang), s2 di IAIN Sunan Ampel Sby (UINSA Sby) dan S3 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta).

Kini ia menjadi Guru Besar Pemikiran Modern Dalam Islam di IAIN Tulungagung Jatim.

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: