“Hidup itu Indah”

resensi
resensi

Peresensi : Mutholibin*
Judul Buku : Hidup itu Indah
Penulis : Aji Prasetyo
Penerbit : Cendana Art Media Jakarta
Cetakan : Ke-3 Februari 2016
Ketika melihat buku “Hidup itu Indah” karya Aji Prasetyo saya langsung tertarik dengan melihat covernya. Dimana covernya ada tiga seorang laki-laki yang mengendarai sepeda motor RX King dengan berboncengan tiga orang yang tidak pakai helm, dan diberhentikan langsung oleh polisi lalu lintas karena tidak tertib lalu lintas, salah satu dari tiga orang tersebut menyeletuk dengan kata-kata “Melanggar? Ayat yang mana, hadist yang mana?”, polisi langsung bengkong kayak orang linglung. Hehehe. Ini adalah hal yang simpel Aji Prasetyo menggambarkan kondisi sosial.
Sebenarnya yang ingin disampaikan dalam gambar tersebut bukan masalah masalah ayat atau hadits. Tetapi banyaknya polisi yang menilang pengendara sepeda motor dengan sesuka hatinya. Dan yang pasti banyak masyarakat yang bertanya-tanya dimanakah masuknya uang tilang tersebut? untuk Kas Negara atau untuk kas pribadi Silup.
Aji Prasetyo membuat sejenis “esai komik” atau “komik komentar sosial” mengenai keadaan sosial, politik, dan invansi budaya disekitarnya, yang ia lihat, ia baca, invasi budaya asing, karakter bangsa ini, terorisme, media massa, aktivis gerakan kiri, teman pribadinya, dirinya sendiri secara kritis, tajam, unik dengan tanpa kehilangan kelucuan yang renyah dan khas komik.
Dalam hal pendidikan Aji Prasetyo mengkritisi mahalnya pendidikan di dalam komik di gambarkan “Sekolah Pilot” hanya dengan 50 ribu anda dijamin mahir menerbangkan pesawat. Jenis apapun!! (Tambah biaya 200 juta jika ingin mahir pula mendaratkan). Ini adalah salah satu bentuk kritik terhadap dunia pendidikan yang biayanya sampai 200 juta lebih. Lihat kuliah jurusan kedokteran di semua kampus negeri maupun swasta memasang biaya pendidikan di atas 500 juta. Padahal dalam UU dijelaskan bahwa semua warga negara berhak mengenyam pendidikan.
Lanjut pengalaman AJi ketika mau meminta pembuatan surat di birokrasi pemerintahan dimana pelayanan yang diberikan sangat buruk karena kesibukan masing-masing pegawai. Di gambarkan dalam komik pegawai-pegawai sibuk dengan bermain game, arisan, membeli baju. Kemudian di sindir Aji dengan kata-kata “Suasana kerja yang menyenangkan”. Padahal banyak orang yang meminta dilayani, bukan sibuk melayani masyarakat, tetapi sibuk dengan urusannya masing-masing. Inilah gambaran birokrasi pemerintahan hari ini.
Hal yang menarik lagi adalah Aji Prasetyo mencoba mengkritisi Islam Radikal yang mulai berkembang di Indonesia. Aji menghitung kurang lebih 80% penduduk Indonesia beragama Islam, diantara seluruh pemeluk Islam di Indonesia, 80% tergolong Rakyat miskin. Kemiskinan akan berimbas pada rendahnya tingkat pendidikan, kemudian rendahnya mutu SDM, kesehatan. Maka hal ini menjadi PR besar bagi para alim ulama, cendikiawan maupun aktivis ormas Islam. “Mendirikan Negara Islam!, Khilafah Islamiyah!!, di jamin selamat dunia ahirat” celetuk salah satu ormas Islam.
Padahal seharusnya yang dilakukan ormas Islam adalah mengentaskan kemiskinan, mewujudkan kualitas SDM dan pendidikan. Dan apa hubungan antara kemiskinan dengan Negara Islam????
Hidup itu Indah sendiri menceritakan keluarga yang mempunyai mimpi-mipi indah dalam mengarungi kehidupan dan kehidupan itu Indah juga mengisahkan pasangan suami istri yang akan melakukan kikuk kikuk diganggu dengan anaknya yang masih berumur 2 tahun karena bangun tidur.
Inti dari buku ini adalah ingin memberikan pencerahan-pencerahan kepada pembaca bagaimana melihat sebuah masalah dengan banyak sudut pandang. Biar kita tidak mudah menjustifikasi kesalahan kepada orang lain.

*Ketua Gerakan Tuban menulis

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

%d bloggers like this: