Halal bi Halal & Nggacor Sak Mbledose

Minggu, 17 Juni 2018, Gerakan Tuban Menulis melaksanakan agenda tahunan, agenda Nggacor sak mbledose yang dibungkus dengan rapi menggunakan nama Halal bi Halal. Malam yang dingin ternyata tidak menyurutkan semangat untuk hadir dalam acara tersebut, terbukti dengan banyaknya peserta yang hadir, tempat acara mulai penuh sesak, perkiraan saya, malam itu yang hadir kurang lebih 100 orang.
Setelah semua berkumpul duduk melingkar dan mengisi absen yang disediakan oleh penjaga warung kopi di sebelah kami. Acarapun dibuka oleh Bung Mubin, tokoh Filsuf paling berpengaruh seantero jagad. Acara dibuka dengan penuh semangat. Ia juga memperkenalkan satu-satu tokoh penting yang hadir dari ujung Tuban bagian selatan sampai ujung utara, dari ujung Timur sampai ujung barat.

Dengan tema nggacor sak mbledose, semua yang hadir di wajibkan untuk menggacor apa saja, semaunya, bebas, dan merdeka. Sebab akan sia-sia perjuangan para pahlawan mengusir penjajah apabila dalam diri kita masih dijajah.

“Mudik itu ada 3, yang pertama mudik sosiologis, mudik kosmologis, serta mudik ilahiyah”. Dengan nada yang lantang Bung Mubin menjelaskan hakikat mudik yang memang sebelum acara di mulai ada pertanyaan dari Kaji Wahyu, “apa perbedaan pulang kampung dengan mudik?”. Mudik sosiologis adalah ketika manusia kembali ke kampung halamannya untuk bertemu dengan sanak keluarganya. Mudik kosmologis adalah ketika manusia sedang mencari leluhurnya. Sedangkan mudik illahiyah ialah pulang yang sejatinya untuk menuju kepada Allah. Bukan berarti mati, cukup diartikan bahwa setelah satu bulan umat Islam menjalankan ibadah puasa, kemudian ber idul fitri, maka sejatinya orang tersebut kembali bersih.

Kemudian dilanjut dengan Kaji Wahyu, seorang pakar lingkungan yang sudah diakui dunia. Ia menjelaskan tentang pembangunan di Tuban dari prespektif dimensional. Tuban, dari data BPS 2017, Tuban menempati urutan ke 5 kota termiskin di Jawa Timur. Industri-industri di Tuban yang sangat masif nyatanya tidak bisa menjadikan masyarakat Tuban menjadi sejahtera. Kemiskinan masih menjadi problem utama di Tuban. Sekitar 16.400 hektar lahan berali ke industri. Penghasilan daerah tidak berbanding lurus dengan pembangunan dan kesejahteraan.

Lain lagi dengan Zubaidi Khan, seorang pemuda asli Tuban yang masih memiliki gen biologis tan malaka. Baginya, dalam memaknai segala yang terkait dengan tuban harus ada sebuah gebrakan baru, termasuk budaya literasi yang di dalamnya termuat cita-cita besar sebuah perubahan. Dengan nada yang berapi-api ia mencoba membakar semangat para peserta yang lain untuk bersama-sama membesarkan budaya literasi.

Disambung oleh Nasikhin, bahwa GTM hadir sebagai awal dari revolusi budaya literasi masyarakat Tuban. Sifatnya yang hanya komunitas maka GTM menjadi wadah bagi siapapun yang menghendaki adanya sebuah revolusi budaya literasi di Tuban. Wadah tanpa batas dengan berbagai latar belakang. Apalagi pemuda-pemuda Tuban, harus menjadi garda terdepan demi terciptanya sebuah perubahan yang lebih baik.

Pembangunan tanpa adanya SDM yang matang akan sia-sia. Mindset masyarakat harus dirubah. Secara psikologis, SDM harus kita waraskan terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan. Sebab hari ini, masyarakat kita lebih senang klik tombol like atau Share masuk surga. Atau selfi-selfi tidak jelas dengan tujuan pamer untuk mendapat pujian daripada harus menyiapkan diri untuk sebuah perubahan. Masyarakat semakin hari semakin tidak bisa mengendalikan kemajuan teknologi, lebih miris lagi, anak kecil yang seharusnya menyibukkan diri berinteraksi atau bermain dengan kawan-kawannya lebih memilih berdiam diri dengan gadgetnya. Hal itulah yang sangat mempengaruhi kualitas SDM masyarakat kita. Harusnya ada tekanan dari pemerintah terkait usia anak untuk diperbolehkan memakai gadget. jelas Takul, ahli Psikologi dari Montong.

“Memang benar, ucapan maaf tidak perlu di ulang, benar juga bahwa keadilah harus tetap diperjuangkan”, kata Dafit, seorang penyair muda yang sekaligus PB PMII. Kita semua sedang berpolitik, dan politik tingkat bawah adalah dengan mengkritik terhadap kebijakan demi terwujudnya kebijakan baru yang lebih baik. Tetapi jangan lupa, bahwa kita juga harus menjadi warga negara yang baik selain hanya mengkritik. Itulah politik kita saat ini yang perlu diperjuangkan. Masalah industri adalah masalah peluang kerja yang berarti berakar pada permasalahan ekonomi. Seharusnya ada solusi terkait dengan masalah itu, harus ada solusi terhadap pembangunan yang tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan. dan itulah yang harus kita perjuangkan bersama.

Dari saudara Dafit, beralih ke salah satu tokoh kepemudaan yang sangat terobsesi dengan Luffy dalam film animasi One Peace, saudara Mahfudz. Luffy berasal dari bajak laut kecil, kemudian semakin besar hingga menjadi raja bajak. Proses untuk menjadi besar tidak selalu dengan hal-hal yang besar, kadangkala hal yang kecilpun bisa menjadikan kita semakin besar. Dan itulah yang dilakukan Luffy. GTM adalah hal kecil yang terus bergerak untuk membersihkan pemikiran manusia dari sampah-sampah pikiran netizen yang semakin tidak waras. Hal itu bisa dilihat banyak netizen yang dengan mudahnya men-Share sesuatu hanya karena adanya tulisan Share masuk surga. Sangat tidak waras. Harusnya ada pula abaikan masuk neraka jahannam selama-lamanya.
Semakin malam semakin semangat untuk terus nggacor, menyampaikan wacana-wacana bebasnya.

Bergeser sedikit, ada pemuda calon kepala desa Koro. Ia hidup di kubangan industri, ia merasakan bagaimana hidup dalam lingkaran industri yang membuatnya mencapai titik kejenuhan. Bagaimana tidak, gesekan-gesekan sesama manusia yang sedang berebut peluang kerja semakin hari semakin panas, menambah panasnya matahari musim kemarau dan polusi di desanya. Semua membuat aliansi, kepala desa membuat aliansi, karang taruna membuat aliansi, kemudian saling gesek, hantam sana hantam sini. Kita semua dibodohi kaum kapitalis, hingga meminggirkan rasa kemanusiaan kita sebagai manusia.

Selain kegundahan hati mas Tabah tadi, Imam Santoso juga merasakan langsung hidup di wilayah industri. Pemuda asal Kerek yang masih ngangsu kaweruh di Jakarta. Kalau boleh ekstrim sedikit, ideologi kita saat ini sudah tidak pancasila lagi. Kesejahteraan rakyat tidak lagi menjadi segala-galanya, kok. Mana “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang ada dalam Pancasila?. Masyarakat yang sudah merelakan tanahnya untuk industri malah menjadi babu di rumahnya sendiri. Manusia hidup harus ada 3 hal. Pandangan hidup. Dipandang baru ia hidup. Pegangan hidup, ia di pegang atau di sentuh baru ia mau hidup. dan Tujuan hidup, memiliki tujuan baru kita hidup. Kalau hanya berdiam dan tidak punya ketiganya, matilah kita.

“Rejeki kita memang sudah dijamin oleh tuhan, tetapi tuhan tidak pernah menjamin surga kita, kecuali orang-orang yang mau berjuang,” sambung Edy, pemuda yang lebih memilih bermalam minggu di kuburan dari pada kencan. Jomblo. Budaya literasi memang harus diperjuangkan di Tuban, sebab kita masih butuh orang-orang waras di tengah maraknya ketidakwarasan. Anak-anak muda Tuban sedang mengalami degradasi moral. Teknologi semakin berkembang tetapi segi pemanfaatanya semakin berkurang. Lebih suka berlama-lama di warung kopi hanya untuk main game mobile legend dari pada searching pengetahuan yang menjadikan mereka sebagai generasi pelupa. Sejarah semakin jauh dari konsumsinya. Kalau tidak percaya coba jawab ini, Jelaskan riwayat singkat Letda Sucipto? (jawab di coment). sebab itu, GTM diharapkan mejadi sebuah kendaraan menuju cita-cita besar perubahan kultur di Tuban.

Penjelasan dari Edy sekaligus menjadi penutup dari serangkain gacoran para tokoh-tokoh besar Tuban malam itu, diteruskan dengan topi berjalan mengahmpiri satu-persatu peserta yang hadir, “ayo bantingan-bantingan, nek kakean jupuk susuk dewe”.

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: