Upaca Kemerdekaan di Sawah dan Pakai Baju Petani

TUBAN – Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 warga mempunyai cara sendiri untuk menyemarakkannya. Seperti warga Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak ini, pada upacara detik-detik kemerdekaan 17 Agustus, hari ini, mereka melakukan upacara kemerdekaan di tengah persawahan yang tidak jauh dari pedesaan. Bukan itu saja peserta upacara terdiri dari para petani Desa Tlogowaru hadir dengan pakaian tani yang digunakan sehari-harinya. Seperti, mengunakan topi caping, baju lusuh yang digunakan bertani dan bersepatu boot. Yang unik, seperti teks undang-undang dasar 1945 dan Pancasila ditempatkan di kardus, tiang bendera pun mereka dirikan sendiri dengan batang bambu. Menunjukan kesederhanaan dalam pelaksanaan upacara ini khas para petani.

Meskipun dalam pelaksanaan upacara ini matahari begitu terik, peserta yang juga ada ibu-ibu dan anak-anak begitu nampak antusias.
Sudiran tokoh masyarakat Desa Tlogowaru yang bertugas sebagai komandan upacara dalam sambutannya mengatakan, momen memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus ini mengajak semua warga Tlogowaru untuk memajukan bersama pertanian di Tlogowaru.

Meskipun desa yang menjadi salah satu desa ring satu Semen Indonesia, jangan sampai meningalkan pertanian. Sebab pertanian Desa Tlogowaru sudah menjadi profesi warisan para leluhur desa. ‘’Merawat pertanian sama saja kita hormat pada pahlawan,’’ ujarnya.

Sehingga semua warga yang notabenenya adalah petani untuk membangkitkan pertanian yang sudah ada. Jangan sampai pertanian sebagai penopang pangan di Indonesia ditinggalkan. Apalagi saat ini banyak pemuda yang tidak lagi peduli dengan pertanian. Karena petani saat ini banyak didominasi oleh orang-orang tua. ‘’Kalau kita memajukan pertanian berarti kita memajukan Desa Tlogowaru,’’ pesannya.

Sementara itu, tokoh pemuda Desa Tlogowaru Ahmad Annur Bais Balya mengatakan, pelaksanaan upacara bendera di persawahan sekaligus mengunakan seragam petani ini, tidak terlepas dari latar belakang warga Desa Tlogowaru sendiri yang juga sebagi seorang petani. Sebab hampir dalam setiap satu Kepala Keluarga (KK) awalnya adalah seorang petani. Meski dia tidak menampik sebagian dalam KK itu juga bekerja di perindustrian khususnya di Semen Indonesia atau perusahaan lain yang ada di sekitar Desa. ‘’Yang bertani itu pasti yang tua dan yang muda memilih bekerja di pabrik,’’ tuturnya.

Dengan upacara bendera ini dia beserta pemuda lain yang menginisiasi pelaksanaan upacara ini, bisa mengembalikan kepedulian terhadap perania di Dsa Tlogowaru. (Fud)

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: