Bau Busuk Sampah Dalam Medsos

Oleh: Wawan Purwadi*

Untuk menanggapi geliat kata-kata kasar di laman Media Sosial (Medsos), banyak pengguna yang membuat meme bermacam-macam sebagai sikap kontrol terhadap politik yang semakin tidak karuan.

Meme tersebut Tentang sikap para tim pemenang atau oknum yang membosankan membuat status adu domba. Kata-kata yang tertulis dalam laman tersebut kurang labih demikian, “Nek Wes Rampung Pemilune Kabari Aku Yo, Aku Wes Kesel Moco Status Mu Ngelek-elek Wong Lio”.

Mungkin ststus tersebut adalah sikap kebosanan melihat situasi politik yang menebar kebencian di setiap buka laman Medsos. Bisa dikatakan laman-laman Medsos mirip tempat sampah yang setiap orang bebas membuang kotoran apapun. Sehingga menyeruak bau busuk. Kenapa saya analogikan tempat sampah?.
Karena orang bebas melontarkan kata-kata kotor untuk membuli, menjelekkan dan melakukan persekusi tanpa mengenal malu.

Bisa dikatakan pada hari ini banyak orang yang kurang mengenal Medsos dengan baik. Sehingga merasa bangga membuat komen atau status yang sebenarnya bisa dinilai tidak pantas untuk dikonsumsi publik.

Kalau kita pahami, sebenarnya Medsos cukup bagus untuk media silaturrohim. Namun, kenyataan itu tidak berbanding lurus manfaat adanya Medsos. Karena, masih banyaknya oknum yang membuat status tidak pantas untuk dikonsuksi oleh khalayak umum.

Sebelum kita gagal paham, coba kita menilik sejarah berdirinya facebook. Biasakan baca samapi selesai cek gak goblok nemen-nemen. Sehingga batas kewarasan selalu terukur.

Okey kita mulai. Asal mula facebook, berawal ketika Mark Zuckerberg saat itu mahasiswa semester II Harvard University membuat sebuah situs kontak jodoh untuk rekan-rekan kampusnya. Zukerberg yang terinspirasi dari situs hot or not situs buatannya Facemash.com. metode situs ini yaitu menampilkan dua foto pasangan pria dan wanita.

Secara singkat, facebook berdiri pada 4 februari 2004. Zukerberg membuat sebuah situs baru bernama, “The Facebook” yang beralamat URL….http://www.thefacebook.com. Cukup mulia bukan niat zukerberg, walaupun orang yahudi. Lalu, bagaimana dengan ente yang ngaku lebih Islam?. Sudah cukup lah membuat hal yang negatif untuk propaganda orang-orang. Biarkan kami hidup tenang dengan suasana damai.

Biasakan Membaca

Membaca adalah hal yang membosankan menurut sebagian orang. Dengan berbagai alasan, gak ada waktu, ngantuk dan sebagainya. Sehingga tanpa mereka sadari kekritisan mereka terkikis atas kesalahan mereka sendiri.

Kita mungkin tahu bahwa, orang yang kurang membaca, tingkat kekritisannya berkurang. Kondisi tersebut juga bisa membuat orang mudah menapsirkan kata-kata secara praktis. Mudah tersinggung dan gagal paham. Jadinya apa-apa kotor, jelek, goblok, kafir dan kata-kata kasar yang mungkin kurang pantas untuk dikonsumsi publik.

Membiasakan membaca merupakan bentuk kontrol kebodohan dan menambah wawasan. Sehingga semakin banyak membaca maka akan semakin mempunyai sikap dewasa.

Bisa dikatakan, orang yang mempunyai wawasan lebih, punya pandangan luas. Mungkin orang yang kurang membaca mempunyai beberapa masalah. Pertama, mudah stres. Kedua, tidak tegas pada diri sendiri. Ketiga, tidak mengenal emosinya sendiri. Keempat, mudah berasumsi dan sangat mempercayai asumsinya sendiri. Kelima, menyimpan dendam. Keenam, sering jatuh dalam kesalahan yang sama. Ketujuh, sering salah paham pada orang lain. Kedelapan, tidak mengenali dirinya sendiri. Kesembilan, menyalahkan orang lain apa yang dirasakan. Kesepuluh, gampang tersinggung. Itulah beberapa ciri orang yang kurang membaca.

La nek isomu ngono opo bedane karo sampah. Bisanya hanya berkata-kata kotor dan menebar kebencian. Luwong sampah iso didaur ulang. La kelakuanmu opo sing arep didaur ulang.

Gek ndang uwes jo paijo..!

Darurat Masyarakat Kritis

Minat baca masyarakat indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Dari 61 Negara, Indonesia menempati urutan ke-60 Negara, dengan minat baca, demikian menurut Duta Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. ”Berdasarkan hasil survey bahwa saat ini minat baca masyarakat indonesia sangat rendah. Sebab minat baca masayarakat indonsia menduduki peringkat 60 dari 61 negara”, kata presenter Mata Najwa di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) jumat (11/8/2017), dikutip dari Antara. Ini menunjukan bahwa kurangnya membaca bisa menjadi penyebab apa yang telah terjadi pada hari ini. Bisa dikatakan sebagai penyebab kurangnya orang Indonesia kritis dalam bersikap.

“Ingat kawan, hidup tak selamanya indah”.

Bedakan Kata-Kata Kotor Dan Sampah

Kepekaan seseorang mampu membedakan antara benar dan salah adalah hal yang sangat istimewa dari Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimana tidak, dari bisa membedakan sebuah hal orang tidak akan mudah terperdaya oleh sesuatu yang tidak bisa diterima oleh banyak orang.

Kalau istilah kerenya sekarang adalah Hoax. Berita bohong atau sesuatu hal yang belum tentu kebenarannya. Dengan demikian kita tidak mudah melontarkan komentar kotor di medsos. Biasa membuat kata-kata kotor tidak ada bedannya dengan sampah. Bukan begitu jo..!

Data lembaga Nielsen yang menyebutkan penduduk Indonsia yang setiap hari dapat menghabiskan waktu berselancar di dunia maya menggunakan komputer selama empat jam 42 menit. Browsing ditelpon genggam selama tiga jam 33 menit dan menghabiskan waktu di sosial media dua jam 51 menit (Tirto.id,01 Maret 2017). Ini seharusnya menjadi aktifitas yang cukup produktif untuk membaca. Karena berbagai menu bacaan di Medsos juga cukup banya tersedia.

Namun kecendrungan masyarakat kita hanya sebagai fasilitas gaya hidup. Sehingga mudah tersulut api emosi ketika membaca atau melihat hal yang beum tentu kebenarannya. Ingat, gunakan otak, jangan gunakan lutut.

Salam Literasi.!
Salam Waras

*Penulis adalah pegiat Gerakan Tuban Menulis

,

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *