HOAX DAN MEDSOS “Refleksi di Tengah Pemilu”

Oleh: Alix Azizur Rohman*

A hoax is a falsehood deliberately fabricated to masquerade as the truth. It is distinguishable from errors in observation or judgment.

Sulit rasanya, membedakan antara fakta dan fiktif dari derasnya informasi yang mengalir. Berita-berita hoax bertebaran, isu-isu asumtif terlihat obyektif, gerakan virtual menggila tanpa asupan literasi.

Akurasi konten berita/informasi adalah kunci. Namun, banyak yang menggiring opini untuk kepentingan tententu. Lain lagi pengguna internet/medsos. Fanatisme Nettizen merubah sikapnya menjadi radikal. Shingga , ujaran kebencian atau hate speech sering terjadi. Wajar, jika Kapolri menurunkan surat edaran terkait hatespeech guna untuk membatasi para nitizen supaya arif dalam menggunakan media sosial.

Saat ini, Indonesia memasuki era millennial dengan tantangan industri 4.0, dimana komunikasi menjadi salah satu yang benar-benar dibutuhkan, baik verbal maupun non verbal. Akses terhadap media juga menjadi hal primer bagi setiap orang. Hal itu dikarenakan adanya kebutuhan informasi, hiburan, pendidikan dan akses pengetahuan dari belahan bumi yang berbeda.

Kemajuan teknologi yang tak terbendung merupakan suatu anugrah jika dimanfaatkan secara baik dan bijak. Namun, sebaliknya akan menjadi boomerang jika digunakan kearah yang negatif.

Ada pepatah mengatakan, “siapa yang menguasai dunia informasi, Dia lah sesungguhnya yang menguasai dunia”. Era sebelumnya, informasi hanya berjalan satu arah, dimana penguasa dapat menguasai media agar berjalan sesuai keinginan. Berbeda dengan saat ini, diera digital. Saat ini informasi dan media berjalan dua arah, informasi dapat direspon oleh jutaan manusia dalam sekejap.

Informasi adalah cara yang ampuh untuk memproaganda pikiran manusia, melalui media masa, internet, maupun medsos. Bahkan berpendidikan tinggi pun tidak menjadi jaminan atau tolak ukur bebas dari hoax. Tidak jarang juga kaum terdidik justru ikut andil dalam penyebaran hoax, entah disengaja atau tidak.

Setiap tahun politik selalu diwarnai dengan isu-isu sensitif. Banyak propaganda, penggiringan opini, hatespeech. Salah satu pemikir tersohor dunia, Ivan Illich dalam bukunya yang berjudul “Celebration of Awarenes: A Call for institutional Revolution” berpendapat bahwa, dewasa ini begitu banyak kontroversi yang memecah belah masyarakat. Ia berkeyakinan bahwa, betapa sumber-sumber alamiah dewasa ini terancam oleh industrialisasi, warisan budaya tercampur dengan komersialisasi, martabat ditumbangkan oleh publisitas, dan imajinasi dihancurkan oleh kekerasan yang mencirikan media massa. Inilah yang terjadi di Indonesia saat ini.

Pemilu tak lagi sesuai dengan fungsi dan maknanya. Penghujatan, fitnah dan penyebaran berita bohong atau hoax menjadi konsumsi sehari-hari.

Fungsi pemilu yang seharusnya menyalurkan aspirasi rakyat terkadang kebablasan melampaui regulasi yang ada. Menghujat terang-terangan yang pada akhirnya melahirkan kebencian dan berakhir di jeruji penjara. Inilah sebagian contoh yang tidak seharusnya dipertontonkan didepan khalayak umum. Sehingga banyak sebagian kaum millenial merasa muak dan apatis terhadap politik, yang akhirnya menambah angka golput.

Kaum millenial merupakan sasaran empuk bagi penebar Hoax. Karena sebagian besar kaum millenial mengakses internet dan media online.
Masa remaja adalahmasa dimana seseorang sedang mengalami gejolak secara psikologis, dengan karakter labil, emosional, dan belum bisa berpikir jernih dan menggunakan nalar dengan baik. Emosi yang mendominasi seorang remaja inilah yang membuatnya rentan termakan hoax.

Hoax tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mengganggu kestabilan politik, pemerintah, maupun lembaga-lembaga lain seperti penyelenggara pemilu.

Pada konteks pemilu 2019 misalnya, isu-isu yang menyudutkan penyelenggara pemilu cukup massif. Karena dianggap tidak netral atau menyalah gunakan wewenang sebagai Badan Penyelenggara pemilu.

Bahaya hoax membuat pembaca menjadi gelap mata. Apalagi pembaca yang fanatik terhadap tokoh tertentu atau Agama. Beberapa waktu yang lalu ada isu yang cukup membuat resah masyarakat yaitu, isu Radikalisme dan PKI. Dua isu tersebut dihembuskan oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggungjawab. Bahkan lebih parah lagi bahwa, kedua isu tersebut melekat pada kedua calon presiden yang berkompetisi saat ini.

Hal demikian memang strategi politik propaganda yang bermaksud menjatuhkan lawan. Isu agama dan PKI memang masih seksi di mata masyarakat Indonesia. Kita terbiasa membaca tanpa telaah. Sehingga tidak bisa membedakan mana info hoax atau bukan. Jadi, hidup di era new public sphare ini, kita harus bijak dalam menyikapinya. Ceck and riceck sebelum justifikasi.

*Penulis adalah Koordinator Pusat Informasi Rakyat (PIR) Kab. Jombang

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *