Ini Caleg Dapil 1 Tuban Berpeluang Jadi

Oleh : Amrullah AM —

Hari pencoblosan semakin dekat. Semua caleg telah bergerilya. Perlu hitungan yang cermat jika caleg-caleg itu ingin jadi. Memiliki uang banyak bukan garansi untuk bisa meraup suara banyak. Intinya bukan jaminan. Mereka yang tak cukup banyak modal masih punya peluang.

Oke. Tak perlu serius-serius untuk membahas perebutan kursi caleg. Sebab, mereka belum tentu ikhlas berjuang. Jika dilihat kerjanya selama ini juga belum ada sesuatu yang signifikan. Sekali lagi kurang signifikan. Kalau kerja sih sudah kerja. Tapi.. Ya begitulah.

Untuk daerah pemilihan 1 Tuban ini tergolong dapil rawan. Sebab, ada kota dan sebagian kawasan industri. Mereka harus merebut suara masyarakat Kecamatan Tuban, Merakurak, Montong dan Kerek.

Empat kecamatan ini punya karakter berbeda-beda. Kecamatan kota, sebagian ada masyarakat pendatang. Mereka berpendidikan menengah. Jadi perlu cara tersendiri untuk mengeruk suara. Sedangkan, tiga kecamatan lainnya ada desa-desa yang cukup fanatik dengan partai tertentu.

Nah, kira-kira dengan karakter masyakarat yang beragam siapa yang akan terpilih di daerah pemilihan 1, ada 11 kursi yang akan direbut. Berikut ulasannya. Tolong siapkan secangkir kopi atau teh panas serta roti bakar. Sebab, membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk menyelesaikan tulisan ini.

Akankah Miyadi dapat 8.000 suara?

Ini Miyadi

Nama ini bisa saja tidak disebut. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak disebutpun Miyadi akan dilantik. Ada alasan jika Miyadi tidak dilantik. Pertama terjadi chaos. Kedua, dikerjain oleh tim suksesnya. Jika dua itu tidak muncul. Politisi PKB ini aka dilantik.

Sebagai politisi gaek Miyadi sudah paham peta. Cara mengunci suara sudah cukup lihai. Silakan saja dicek. Tim Miyadi di lapangan cukup berada dan sejahtera. Kemungkinan, sampai ditingkatan TPS sudah punya orang untuk memantau.

Namun, jangan harap perolehan suaranya utuh seperti tahun lalu. Yakni 8.366. Sulit rasanya dengan kehadiran caleg-caleg baru yang ikut membidik suara di basis Miyadi. Perolehan suara tahun ini akan menjadi kunci apakah Pak Miya akan maju ke jenjang lebih tinggi lagi atau tidak. Ups.

Jadi, tidak perlu diulas terlalu banyak. Hanya pesan-pesan saja untuk bapak berkumis ini. Semua pasti berharap anggota dewan ora ngona ngono wae. Miyadi yang pernah jadi aktivis seharusnya bisa melakukan gebrakan. Sudah ya Pak Miya. Jaga senyuman. Uwuwuwu

Trio Montong : Imron Chludori, Achmad Chamim, dan Zuhri Ali

Imron, Chamim dan Zuhri Ali alias Jojo sama-sama caleg PKB. Mereka juga sama memiliki basis di Montong.  Imron ini gerakannya senyap. Tak banyak muncul di media massa. Meski dia pernah tercatat sebagai ketua Komisi D.

Pria kelahiran Sidoarjo ini banyak meraup suara di Montong. Dari 5.000 suara yang dikumpulkan pada 2014 nyaris 90 persen berasal dari Montong. Totalnya 4.000 suara dari montongnya. Seribu suara dari Kerek. Ini bukti pengaruh keluarganya cukup kuat di Montong.

Tapi, kini Imron tak bisa berleha-leha. Sebab, Zuhri Ali alias Jojo punya potensi merebut suaranya. Jojo adalah kades Jetak Montong. Jadi jaringannya di kecamatan ini cukup punya pengaruh.

Dhe Chamim cukup populer di Montong. Dia anggota dewan 2014. Suara yang diperoleh 5.000 dengan rincian 4.000 dari Montong. Sebab, dia punya pengaruh di Talun.

Jika masih menggunakan strategi sama dia akan tergerus suaranya. Sebab politisi PKB ini jarang muncul. Suara di Kerek pun tidak sampai seribu. Sebab, di Kerek saat itu ada Wasiun yang cukup pilih tanding sebagai caleg PKB. Di Montong dia akan berterung dengan sesama kader PKB yang ceruk suaranya sama. Awas ati-ati pakde.

Dody Fahrudin dan Saiful PKS Berebut Suara Kota

Wajahnya masih terlihat muda. Tapi, kerjanya belum tentu seperti anak muda. Sebab, saat menjadi anggota dewan belum terlihat garang seperti anak muda pada umumnya. Dody memang punya keluarga yang berpengaruh khususnya pantura perkotaan.

Dia mendapat suara paling banyak di antara caleg PKB saat 2014 di kawasan kota. Miyadi saja kalah. Suara yang diperoleh 4.400an. Suara yang tinggi. Sayang, di kecamatan lain Dody keok. Suara seorang sarjana teknik ini akan beradu dengan caleg dari partai lain. Sebab, partai lain di kota juga terus bergerak. Seperti Saiful dari PKS. Sing selow Mas Dod. Aja lali bakaran togek ya.

Lima Caleg Gerindra Bergerak, Potensi 2 Kursi

Caleg Partai Gerindra

Sengaja di poin ini kami munculkan banyak calon dari satu partai. Yakni Gerindra. Meski dalam pemilu nanti secara nasional gerindra suaranya melejit bukan berarti di daerah ikut melejit. Tapi, sedikit banyak akan berpengaruh. Khususnya pemilih militan.

Ada dua Bambang di partai ini. Bambang di nomer urut pertama pernah nyaleg di dapil yang sama di partai yang sama. Namanya Bambang Sumargo. Dia mendapat suara lumayan yakni 2.700an. Jika dilihat, dia adalah caleg lama yang maju lagi. Imam anggota dewan daei gerindra dapil 1 tak maju lagi. Dia pum berpeluang.

Bambang yang kedua itu Bambang Suhariyanto. Dulu caleg Nasdem DPR RI. Sayang, dia keok. Jika timnya masih kuat. Maka bisa saling berebut dengan Bambang Sumargo.

Tursila akan menambah gebrakan suara Gerindra di dapil 1. Setidaknya, saat diadu dengan partai lain jumlah perolehan tak kalah. Tursila adalah kades Tlogowaru Kecamatan Merakurak. Gerindra yang sebelumnya lemah di kecamatan itu akan menambah amunisi. Tinggal berapa suara yang diperoleh Tursila.

Majid, pemuda yang getol blusukan ke rumah orang ini punya energi lebih. Tinggal menambah amunisi bisa mengoyak suara lainnya. Kawasan kota terutama.

Gerindra bisa saja dapat dua kursi jika para penggedor ini bergerak. Apalagi, ada Klisen seorang pengusaha yang masuk dalam jajaran caleg. Jika tidak, maka satu kursi saja cukup.

Rasmani dan Aguk Dibayangi Paneli dan Gerindra

Rasmani dan Paneli adalah politisi dari partai yang berbeda. Rasmani dari Nasdem. Sedangkan, Paneli dari PKB. Suara Paneli mendominasi di Merakurak saat 2014. Total suaranya di angkat 4.000. Sayang karena mekanisme pembagian kursi dia tumbang. Kini dia maju lagi. Sedangkan Rasmani hanya 2.400an saat 2014. Rasmani meski seorang incumbent harus tetap waspada. Jika tidak, suara nasdem di parlemen akan digulung. Rasmani menguasai kota. Suaranya di atas seribu di kecamatan kota.

Perlu ada strategi yang ampuh mempertahankan kursi nasdem. Jika tidak, akan keok. Nasdem punya tiga kursi di DPRD periode ini. Jadi, harus kerja keras. Sing semangat pakde. Awas Paneli terus menguntit.

Aguk adalah politisi PPP. Jika tak waspada bisa saja hilang kursi PPP di dapil satu. Paneli suaranya lebih besar. Sedangkan Aguk hanya 2.200an. Jika saat jadi anggota dewan dia telaten ngopi konstituen bisa saja angka itu bertambah. Jika tidak, kursi PPP akan diguling oleh PKB ataupun Gerindra.

Adnan Bisa Saja Tergusur Kusmen atau Suryo

Sulit rasanya PDI Perjuangan mengeruk dua kursi di daerah pemilihan satu. Sebab, komposisi partai tak banyak yang bergerak. Hanya sebagian saja. Incumben Adanan Kohar yang bisa lolos di periode 2014 ini penguasaannya di daerah Montong. Kini, suara di Montong banyak yang merebut. Beberapa caleg dari partai lain ikut ubek-ubek Montong.

Jika Adnan tak cermat dalam memetakan pemilih. Kusmen dengan amunisinya bisa menggerus suara. Bahkan, bisa menambah perolehan dari tahun lalu. Jika dilihat, perolehan Kusmen cukup merata di setiap kecamatan.

Suryo ini pemain baru. Bos kolam renang ini cukup nekat hadir di tengah-tengah banteng. Dalam sejarah memang jarang partai besutan Megawati ini meloloskan orang “luar”. Tapi, dengan kondisi amunisi Suryo yang cukup sehat. Bisa saja, kursi itu akan direbut. Tinggal bagaimana Suryo bermain bersama timnya.

Rudi, Rahmad, atau Maratun Bisa TumbangĀ 

Tiga orang ini politisi lawas. Ketiganya adalah orang-orang yang pernah duduk di kursi anggota dewan. Rudi dari Golkar. Aguk dari PPP. Sedangkan, Rahmad dari PKS. Sedangkan, Maratun dari Partai Demokrat.

Rudi telah berpindah partai. Dia sekarang berada di Partai Hanura. Jelas, targetnya satu kursi. Jika dia getol bisa saja dia dapat jatah. Siapa kursi yang digeser? Bisa saja Maratun. Tapi, jika Maratun kuat dengan keluarga besarnya. Kebangbilo bisa menjadi basis. Jika tidak bisa saja akan limbung.

Rahmad bagaimana? Rahmad cukup punya jaringan ke bawah. Dia banyak turun. Kira-kira aman. Tapi, tak boleh lengah. Sebab, Ketua DPD PKS Tuban Saiful terus bergerak. Jika lengah Rahmad bisa lempar handuk. Oiya. Tiga caleg ini perolehan angkanya 3.000an saja. Tidak sampai diangkat 3.500.

Golkar Milik Mundir, Khalim atau Suratmin?

Golkar diakui atau tidak sedang krisis kepemimpinan. Apalagi setelah Bu Haeny tumbang dari kursi Bupati Tuban. Dulu kursi Golkar milik Rudi. Tapi, kini Rudi telah lompat ke lain partai. Jadi milik siapa kursinya?

Bukan berarti nomor urut satu di kertas suara menjadi jaminan. Seperti di Golkar ada nama Suprapti seorang pensiunan. Pasti energinya sudah berkurang. Lantas siapa yang masih bergerak?

Kalim adalah caleg muda. Dia anak dari Slamet Alim. Slamet pun pernah dari anggota dewan di periode 2009. Tapi keok di 2014. Hanya dapat 2000an. Kini anaknya yang maju. Pastinya kekuatan penuh akan dikerahkan.

Siapa pesaingnya. Bisa saja Mundir. Politisi Golkar yang muda juga. Gerakannya masif. Pengalaman organisasinya cukup apik. Dia pernah nyaleg di dapil Senori. Tapi suaranya tak ngakat. Di dapil kota. Dia optimis. Sedangkan, yang patut dipertungkan lagi yakni Suratmin. Politisi ini pernah nyaleg juga. Suaranya di bawah Slamet orang tua kalim. Jadi, milik siapa kursi Golkar setelah ditinggal Rudi?

,

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *