Islam, Netizen, Hate speech, dan Nissa Sabyan

By : Afnas*

Hai guys, akhir-akhir ini kupingmu Terasa berbunyi nging-nging nggak?.

Kalau iya, berarti kuping kalian masih peka.

Saat kalian liat TV, baca koran, berita online, medsos, mata kalian juga terasa sepet nggak?. Kalau iya, berarti mata kalian masih tajam.

Kenapa begitu?. Karena ada trending topic yang menarik.

Islam, Agama mayoritas bangsa Indonesia ini sedang naik daun guys. Coba deh perhatikan hembusan isu agama mulai dari dikotomi Islam dan Nusantara, penistaan agama, penyerangan ustadz, aksi 212, telolis, sertifikasi mubaligh, dll, mengundang jutaan komentar warganet yang agung.

Isu Islam ini bagaikan trend fashion ya guys. Begitu dipasarkan, semua menggeruduk. Apalagi di-uncalkan ke medsos, byuuuh…sekian menit, jutaan komentar menyerbu tang ting tung tang ting tung.

Sekarang ini era millenial guys, kalian harus segera beradaptasi. Jangan sampai ketinggalan info tiket surga. Kalian tahu nggak, surga itu sudah dikapling?. Kalau belum tahu, tanya ke warganet yang agung. Mereka itu hebatnya tiada tara, maha tahu, maha cerdas, dan garangnya melebihi pejantan singa.

Saya teringat kasus penistaan agama yang menyeret eks gubernur DKI ke kursi pesakitan tahun lalu. Itu awal bangkitnya Islam (padahal bangkitnya solitik propagandis) melawan kedzaliman hingga memicu perang dunia maya. Hingga saat ini, ketegangan itu masih berlanjut guys, meskipun dengan isu yang berbeda.

Sekarang ini yang lagi hits isu solitik 2019. Ingat guys, islam masih bagaikan trend fashion. Kita jangan terpancing dengan isu-isu jahat para propagandis. Kita sebagai netizen yang arif harus cerdas beneran guys, jangan kebanyakan mengkonsumsi micin dan media bodrek.

Kita sebagai manusia merdeka boleh berpihak dengan berkomentar, share and like, itu sah-sah aja, toh juga dilindungi oleh UU No. 9 Tahun 1998 tentang kebebasan berpendapat. Tapi mbok ya ojo kagetan, gara-gara beda idola, saling satru, mengelek-elekkan, debat kusir, mencaci, fitnah, mengeluarkan nama-nama binatang. Kata mbah marijan “iku gak ilok.”
Terus, apa hubungan dengan Nissa Sabyan?

Kelihatannya, bangsa ini sedang rindu akan lagu qosidah (Red: Perdamaian) guys. Sudah kenyang dan mau muntah dengan isu agama dijadikan komoditas. Tampaknya benar, lagu adalah obat yang dapat melemaskan otak. Kehadiran Sabyan inilah seakan membius ketegangan para warganet yang agung. Sabyan hadir di saat yang tepat. Selain menjelang di bulan ramadhan, genre sabyan ini menjawab kekeringan hati para netizen dan Gen Z.

Lagu-lagu sabyan yang menyejukkan, Vokalisnya pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para jomblowan. Bahkan, pengagum berat Nella Karisma, Via Valen, dan Jihan Audy mulai berpaling. Tidak mau kalah, para pesohor dangdut pantura itu pun mulai menyanyikan lagu “Deen Assalam”. Semoga lagu-lagu yang didendangkan sabyan mampu menjadikan kondisi Indonesia menjadi sejuk dan adem seperti senyum penyanyinya.

(*) penulis adalah pemerhati vokalis qosidah

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: