Kafir, Non-Muslim dan Kesalahan Rezim yang Tidak Pernah Diusut

Oleh: Edi Eka S.*

Sudah hampir 2 bulan ini saya jarang sekali nonton televisi. Bukan karena apa-apa, saya hanya malas saja melihat orang-orang yang gaduh hanya karena beda pilihan menjelang Pilpres nanti. Semua saling beradu argument, merasa bahwa yang didukung adalah orang yang paling berhak menjadi pemimpin di negeri ini. Lintune mboten.

Apalagi baru-baru ini, semua orang gaduh gara-gara hasil Konbes NU di ponpes Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat yang merekomendasikan agar tidak lagi menggunakan istilah “kafir” terhadap orang selain Islam, tetapi menggunakan istilah Non-Muslim. Lho, inikan sangat bagus untuk menjaga kesatuan bangsa, lantas apa yang digaduhkan?

Kayak baru hidup di Indonesia 2 hari saja kalau ada orang yang bertanya seperti itu. Semua ini jelas gara-gara rezim yang berkuasa saat ini.

Semenjak Jokowi naik jadi presiden, Indonesia semakin gaduh dengan hal-hal yang sepele, semua disetting sedemikian rupa oleh oknum khusus pembuat gaduh agar terjadi ketegangan. Misal, lambang Bank Indonesia yang ada di uang kertas yang katanya mirip simbol PKI, Jokowi adalah PKI, demo berjilid-jilid hanya untuk memenjarakan salah satu kontestan pemilu yang dianggap menistakan agama, teroris dan baru-baru ini adalah sebutan Non-Muslim yang menggantikan kata kafir.

Andai saja pak Jokowi tidak jadi presiden, semua ini tidak akan terjadi, mungkin pak Jokowi bisa menikmati hidup bersama keluarga, bisa bermain dengan jan ettes. Tapi ya sudahlah, saya tidak heran, bahwa setiap kali akan ada pemilu selalu ada hal baru yang digodok, digoreng, lalu ditiriskan, dihidangkan setengah matang, yang kalau dimakan akan membuat orang awam mencret.

Untuk sebutan Non-Muslim sebagai pengganti Kafir yang direkomendasikan oleh PBNU ini sangat menarik dan saya sangat setuju. Sebab, untuk menjaga perasaan saudara-saudara kita dalam berbangsa bukan dalam hal aqidah, andaikata ada istilah yang artinya sama dengan kafir di agama mereka, orang Islam juga kafir bagi mereka. Kenapa musti diributkan. Malah kalau bisa, ini kalau bisa lho ya, jangan lagi Non-Muslim, sebab ini seolah meniadakan agama yang lain, kenapa tidak langsung spesifik bahwa “dia Hindu, dia Kristen, dia khonghucu, dia Budha, dia Protestan” dan lain sebagainya sebagai bentuk eksistensi bahwa di Indonesia memang bukan hanya ada agama Islam. Jadi tolong tenang, seperti tenangnya ketika ada ujian, itukan hanya sebutan, gaduhlah ketika NU mengganti Surah Al Kafirun menjadi Surah Al Non-Muslimun.
Ini Indonesia slor, berani hidup di Indonesia juga harus siap mentaati peraturan dan budaya yang ada. Jangan seenaknya saja. Lha sebelum kamu lahir Indonesia sudah beragam suku, budaya dan agama kok.

Sekarang kok mau merusak bangsa ini dengan perpecahan. Sesekali ketika Hari Raya Nyepi, pergilah ke Bali. Oiya sebelum itu, saya mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi bagi saudara-saudara yang beragama Hindu, Rahajeng Rahina Nyepi, selamat menjalani catur brata penyepian, saka 1941. Meski setelah ini akan banyak yang menganggap saya kafir dengan ucapan itu, eh Non-Muslim deh…

Kenapa saya katakan harus ke Bali waktu Nyepi. Di sana ketika hari raya Nyepi, benar-benar sepi, tidak boleh menyalakan api, tidak boleh bepergian, tidak boleh kerja, tidak boleh bersenang-senang. Itu berlaku kepada semua orang yang ada di Bali, tanpa kecuali. Baik turis sekalipun. Semua harus taat terhadap aturan yang ada di Bali. Kalau melanggar akan didenda oleh Pecalang atau polisi adat. Bali adalah gambaran kecil Indonesia, bahwa, siap hidup di Indonesia harus siap dengan budaya yang ada. Jangan malah merusak dengan kekonyolan-kekonyolan oknum yang gila jabatan itu.

Satu lagi, kesalahan rezim yang sampai sekarang tidak pernah diusut padahal dampaknya sangat luar biasa bagi generasi bangsa. Pertama, yakni mengganti gambar pahlawan di uang kertas menjadi gambar Litle pony sehingga anak-anak kecil kita tidak mengetahui siapa pahlawannya.

Kedua, anak anak terlalu sering mengkonsumsi telur palsu Kinderjoy yang dijual luas di mini market, telur yang tidak ada gizi dan vitaminya sama sekali. Dan yang terakhir, pemerintah sampai sekarang belum bisa membuktikan bahwa tiga permen Milkita setara dengan satu gelas susu. Tolong ini diusut sampai tuntas. Ini menyangkut generasi bahgsa. Jangan melulu meributkan suatu hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan secangkir kopi.

Salam.

Tuban, Caitra, 1941 Saka.

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *