Keranda Pemilu 2019

Terimakasih KPU, telah melaksanakan tugas sebagai penyelenggara Pemilu dengan baik, pun juga masyarakat yang menggunakan hak pilihnya pada tanggal 17 April 2019 lalu.

Jumlah pemilih di Jawa Timur pada pemilu 2019 meningkat cukup signifikan dari pemilu sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa, kesadaran politik masyarakat di Jawa Timur bertambah, dan proses demokrasi semakin matang.

Pemilu kali ini, pertama kali dalam sejarah pemilu di Indonesia yang diselenggarakan secara serentak. Sebelumnya, proses ini dipandang efektif dan efisien dengan pertimbangan meminimalisir anggaran. Secara politis pun juga meminimalisir adanya politik identitas. Politik identitas tidak berlaku di pemilu serentak, karena kompetitor akan merusak suara kubu sendiri jika menggunakannya. Sedangkan, pengkutuban terlihat jelas, kubu 01 atau 02.

Namun, ada sisi lain yang terlupakan. Selain pertama kali diselenggarakan secara serentak, pemilu 2019 ini ternyata memakan korban terbanyak dalam sejarah. Berdasarkan catatan KPU, ada 287 KPPS/PPS meninggal dunia dan 1470 dalam perawatan di rumah sakit. Sedangkan, di Jawa Timur sudah tercatat 58 Jiwa yang melayang. Belum lagi penyelenggara-penyelenggara yang saat ini melaksanakan proses pemilu atau penghitungan ulang. Wajar, karena mereka bekerja lebih dari 24 jam nonstop.

Pemilu selalu meninggalkan jejak-jejak perilaku politik. Ternyata, disamping meningkatnya jumlah partisipasi pemilih di Jawa Timur, banyak yang belum paham cara mencoblos, membedakan warna surat suara, dan tidak mengenal peserta pemilu, khususnya pada DPD.

Sedangkan dari sisi penyelenggara, masih banyak terjadi salah menghitung jumlah Form C1. Seperti halnya di Surabaya, Bawaslu kota Surabaya merekomendasikan kepada KPU untuk menghitung ulang Form C1 karena terindikasi salah hitung di berbagai daerah di kota Surabaya. Di susul indikasi hilangnya kertas suara dan banyak kertas suara yang tercoblos secara misterius di beberapa daerah di Jawa Timur.

Perilaku politik amoral sangat disayangkan dalam proses pemilu. Ini akan merusak demokrasi yang sudah terbangun di Indonesia, dan juga menghianati masyarakat yang berharap besar kepada calon-calon pemimpinnya atas masa depan bangsa yang lebih baik.

Sebagai pemantau Pemilu, kami akan mengawal proses demokrasi ini sampai tuntas. Jangan sampai proses ini diciderai oleh oknum-oknum yang gila kekuasaan. Kami telah mencium adanya praktik-praktik amoral oknum politisi di beberapa Kota/Kabupaten di Jawa Timur yang melakukan tindakan tidak sehat seperti, menjatuhkan kompetitor lain dengan propaganda & hoax, upaya penggelembungan surat suara, dan mengatur jumlah suara salah satu peserta pemilu.

Kami harap upaya demikian tidak dilakukan oleh peserta maupun penyelenggara pemilu 2019 di beberapa Kota/Kabupaten tersebut. Kita harus menjaga obyektifitas dan marwah demokrasi. Jika upaya tersebut terbukti dilakukan, kami sebagai lembaga pemantau pemilu akan bertindak sesuai prosedur hukum.

Afdolu Nasikin

Ketua Pusat Informasi Rakyat (Lembaga Pemantau Pemilu Jawa Timur)

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *