Kontemplasi di Hari Idul Fitri, Menuju Manusia yang Fitrah

Wahyu Eka. S*

Taqaballahu minna waminkum, minal aidzin wal faidzin, begitulah ungkapan yang jamak kita temui kala satu syawal hadir. Ungkapan tersebut kurang lebih bermakna, semoga Allah menerima amalan (puasa selama Ramadhan) aku dan kamu.

Sementara makna minal aidzin kurang lebih, orang-orang yang kembali (fitrah) dan beruntung. Kalimat-kalimat tersebut merupakan doa, agar kita senantiasa menjadi pribadi yang baik, tentu setelah melampaui ibadah (puasa) selama satu bulan penuh.

Puasa sendiri merupakan perintah Tuhan yang tertuang dalam ayat suci Al-Quran, terutama dalam surat Al-Baqarah ayat 183-185. Namun perintah berpuasa secara spesifik ada di ayat 183 yang berbunyi:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan adalah bulan-bulan diturunkannya Al Quran. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil” (Terjemahan Kemenag RI, 2017).

Ibadah puasa merupakan salah satu rukun Islam yang ketiga, wajib hukumnya bagi pemeluk agama Islam. Secara dasar puasa sendiri bermakna meniadakan makan, minum dan sebagainya dengan sengaja. Tetapi lebih luas lagi merupakan kegiatan meninggalkan kepuasan dunia untuk berlaku sederhana, menahan hawa nafsu yang seringkali menguasai manusia, sehingga turut menjadikan manusia lepas kendali dan terjebak dalam perilaku yang merugikan.

Puasa tidak hanya dilakukan oleh mereka yang beragama Islam, mereka yang memilih untuk mengimani ajaran Yodaisme, Kristen Orthodoks, Katolik, Budha dan Hindu juga kerap berpuasa, bahkan aliran kepercayaan juga sering melakukan kegiatan tersebut. Karena secara harfiah sendiri puasa merupakan upaya dan usaha manusia untuk berlaku sederhana, jujur dan mendekatkan diri dengan sang pencipta (asketisme).

Sisi lain dari mereka yang berpuasa mencoba menyelami kehidupan, terutama bagi mereka yang kurang mampu. Di sini puasa dapat dikatakan sebagai sebuah sisi pribadi, tetapi memiliki keterkaitan dengan lingkungan sosial. Dalam Islam pun menjelang berakhirnya Ramadhan, mereka yang memeluk Islam diwajibkan berzakat fitrah. Pada umumnya berupa beras atau makanan pokok bagi mereka yang kurang mampu. Inilah mengapa puasa tidak hanya berlaku pada pribadi, tetapi memiliki relevansi dengan realitas sosial.

Di sisi lain ketika puasa berakhir, ada sebuah harapan untuk kembali menjadi pribadi yang baik, setelah menjalankan kegiatan ibadah sebulan penuh. Fitrah yang bermakna kembali ke asal, ialah mengajak kita agar tidak terjebak dalam kesesatan, kebatilan dan tindakan jahat, yang selama ini kita lakukan. Karena dengan berpuasa kita mengalami semacam mistifikasi, mencoba mendekatkan dengan sang kuasa yang ghaib (karena di luar jangkauan kita) lalu mengarahkan kita lebih menyelami diri dengan melakukan refleksi, salah satu rangkaian menuju kontemplasi.

Dari rangkaian tersebutlah kita seharusnya sadar, dan mulai berpikir realistis ketika melihat ketidakadilan yang nyata. Di mana eksploitasi telah menjadi kudapan sehari-hari, disrupsi hak asasi manusia semakin masif terjadi. Kapitalisme telah setahap lebih maju, dengan sokongan oligarki politik dan militer, ruang-ruang vital masyarakat telah dirampas untuk kepentingan segelintir elite. Mereka yang menguasai akses politik dan ekonomi.
Situasi politik yang semakin hari tenggelam dalam skema oligarki, menjelma menjadi momok menakutkan ketika ranah suprastruktur (penguasa) menghasilkan kebijakan dan regulasi (infrastruktur) yang tidak beradab dan adil. Skema neoliberalisme menjadi platform utama dalam pembangunan dan sistem politik yang hadir sekarang. Neoliberalisme ini bukan kebebasan berpikir mutakhir, namun bagimana mekanisme pasar (modal berkuasa) menentukan arah kehidupan suatu negara.

Sistem politik yang erat kaitannya dengan kepentingan oligarki. Di dalam platform neoliberalisme, demokrasi partisipatoris direduksi hanya sekedar datang ke tempat pemilihan. Dengan alur tersebut maka kapitalisme akan semakin langgeng, menjadi jalan hidup yang akan kita jumpai seumur hidup. Semakin hari semakin mengalienasi masyarakat dari politik. Bahkan di era sekarang hanya sekedar dukung mendukung, walaupun terkesan dinamis, namun hemat penulis semakin mempersempit makna politik dan demokrasi itu sendiri.

Masyarakat semakin terpinggirkan dari kehidupan kolektif. Tanah mereka menjadi tumbal, alam menjadi komoditas yang akhirnya lenyap. Menciptakan bencana alam dan kemanusiaan yang akut. Sudah seharusnya melalui ibadah puasa, kita menjadi berpikiran terbuka. Ada hal yang lebih penting daripada ibadah “egois” yang hanya memikirkan surga dan neraka. Padahal ada ciptaan Tuhan yang tertindas dan semakin teralienasi dari hidupnya. Padahal hakikat puasa adalah religius sosial, yang artinya kita mendekatkan diri pada sang pencipta, agar mendapatkan petunjuk, lalu merubah ketidakadilan yang ada.

Sudah seharusnya dengan hadirnya Idulfitri ini, kita menjadi fitrah (kembali ke asal) menjadi manusia yang baik. Manusia yang sadar bahwa hidup tidak sekedar mengabaikan saudara kita. Di luar sana masih banyak mereka yang terkena PHK sepihak, tidak mendapatkan THR, terusir dari desa dan alam yang kian rusak. Sejujurnya tidak ada maaf bagi kapitalisme, oligarki komprador, penjilat oportunis yang senantiasa menindas.

Selebihnya semoga kita terlahir kembali sebagai manusia yang sadar semakin sadar merajalelanya kemungkaran, kedzaliman dan kemaksiatan. Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat harus ditegakkan, demi tercapai kesejahteraan, kemaslahatan umat manusia dan alam raya sebagai ciptaan Tuhan yang maha kuasa.

*Sebelumnya dimuat di (Medium.com/Liso)

Penulis adalah editor Lingkaran Solidaritas, Nahdliyin Muda

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: