Meninjau Ulang Niat dan Perilaku Saat Puasa Ramadhan

*Wahyu Eka. S

Mei menjadi bulan yang sakral, baik untuk buruh maupun segenap insan penggerak pendidikan, tidak itu saja bulan Mei ini terasa istimewa bagi rakyat Indonesia, khususnya umat Islam. Menurut cerita turun temurun dari Mbah Kajiku pada bulan ini akan dilipatgandakan segala amalan dan pengampunan bagi dosa-dosa masa lalu. Sehingga terasa sangat istimewa sekali jika mampu bertemu dengan bulan Ramadhan, apalagi di bulan Mei terasa progresif sekali.

Ketika aku menulis artikel ini, bertepatan dengan hari kamis yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai awal Ramadhan. Sungguh istimewa sekali, karena aku masih diberikan umur untuk berjumpa lagi. Seperti kawanku sebut dia Kak Bed yang sangat antusias menanti bulan ini, ternyata ada cinta yang tertunda, dia berharap bulan Ramadhan benar-benar berkah untuk kisah cintanya. Berbeda dengan Bung Bin, seperti biasa dan berapi-api, bulan Ramadhan ini sangat istimewa, karena bertepatan dengan bulan Mei yang erat kaitannya dengan semangat perjuangan. Itulah ragam keunikan Ramadhan yang punya pemaknaan masing-masing, di setiap individunya.

Ramadhan sebenarnya sangat istimewa, selalu membawa berkah bagi semua orang. Entah itu secara mistik maupun rill, baik yang murni menjadi pengepul pahala ataupun tunai. Semua terbuka lebar di bulan suci ini, ibarat sebuah dunia simulasi yang memang menjadi representasi pasar baru bagi pemburu rente. Esensi Ramadhan adalah sebuah liturgi suci, ritual transendenstal antara manusia dengan sang pencipta. Penuh nilai-nilai kebajikan, melatih diri menjauh agar jauh dari kemungkaran. Berkahnya bukan semata pahala, namun lebih ke perubahan kualitatif terkait peningkatan keimanan dan ketakwaan.

Sebagaimana jika kita baca dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yang mewajibkan bagi setiap kaum muslimin untuk berpuasa, dengan tujuan mempertebal ketakwaan. Sayangnya ketika bicara terkait ketakwaan masih dimaknai secara parsial, bukan secara utuh Lillahi Ta’ala memperbaiki diri melalui sebuah internalisasi diri untuk mencapai transenden. Namun realitas yang tampak, kebanyakan masih terjebak pada hal-hal yang sifatnya reaksioner (bertentangan dengan kemajuan).

Mengapa begitu? karena saya melihat seperti masih ada persoalan yang belum tuntas terkait niat berpuasa, semacam tindakan atau kelakuan yang sudah tidak sesuai konteks ibadah puasa. Secara paragdimatik puasa ialah menahan diri dari hawa nafsu, tidak sekedar makan dan minum saja. Ketika masih ada ormas-ormas ataupun umat islam yang marah-marah, akibat Mbok Darmi masih jualan pecel, maka dipertanyakan keimanannya.

Secara logika, apakah keimanannya hanya sebatas nasi pecel ? Terus kenapa musti marah jika bisa bicara baik-baik, bukankah puasa menjaga diri kita dari godaan. Lantas jika tidak ada godaan, apakah akan ada peningkatan kualitas diri, menyatu dengan yang maha kuasa Allah ? Maka cukup korelasional dengan konteks puasa yang benar ataupun hanya pencitraan. Hakikatnya puasa tidak hanya soal makan dan minum, tapi juga menjaga diri agar tidak marah-marah. Inallaha Ma’ashobirin.

Dari Marah-Marah ke Boros-Boros

Begitu juga dengan persoalan menahan hawa nafsu, apakah puasa mengajarkan kita untuk berboros-borosan? Fenomena berlebih-lebihan atau istilah santrinya ghuluw (melampaui batas) memang menjadi tren kekinian. Boros atau dalam konteks ini berlebihan dalam berbelanja, ataupun dalam kaitannya dengan ibadah puasa. Sebagaimana dalam surat Al-Furqon ayat 67, yang berisi kurang lebih perintah Allah terkait perilaku sederhana. Agar manusia senantiasa bijak dalam membelanjakan sesuatu, tidak berlebih-lebihan.

Begitu juga jika kita mencermati Al-A’raf ayat 31, yang mempunyai makna bahwa manusia tidak boleh berlebihan dalam sesuatu, dalam makan, berpakaian atau hal apapun. Secara pemahaman awam, bahwa Islam sesungguhnya mengajarkan agar senantiasa berlaku adil, tidak melakukan hal yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Senantiasa berlaku sesuai dengan kebutuhan, dalam ini korelasional dengan konteks nilai guna.

Realitas yang kita ketahui bersama, bahwasanya ketika Ramadhan tiba merupakan kesempatan bagi para pemburu rente, untuk benar-benar menghisap pundi-pundi uang kaum muslimin. Lantas siapa yang salah? Pasalnya pasar itu tercipta karena suatu kondisi, dibentuk lewat penetrasi budaya, menjalar menjadi sebuah struktur yang secara historis melekat.

Maka tidak heran, jika ketimpangan ekonomi turut mempengaruhi kondisi ini. Golongan yang mampu terbiasa praktis, berhura-hura, menciptakan segmen baru, peluang bisnis baru. Di mana mereka yang melihat kesempatan ini, akan memanfaatkan kondisi demikian dengan tujuan pengakumulasian modal. Kondisi tersebut berulang-ulang, terus direproduksi hingga menjalar ke beberapa golongan secara tidak sadar.

Hal diatas sama ketika kita bicara nyinyir, kenapa buruh beli ninja? Karena mereka terpengaruh kelas pekerja mapan. Hasrat manusia menurut Freud dalam karyanya negation (1925) ada yang namanya biological needs, terdapat dua insting yaitu hidup dan mati. Salah satu insting manusia terkait hidup adalah pleasure atau bersenang-senang. Jadi seorang buruh membeli suatu barang karena memang sudah menjadi dorongan, mereka bekerja keras dan harus dapat hasil. Ninja merupakan salah satu manifestasi kesenangan, hasrat untuk terus hidup.

Pasar dicipta karena kesempatan, kondisi sosial yang sengaja diciptakan. Menurut Baudrillard dalam consumer society (1970) konsumsi telah menjadi hal yang mendasar, tercipta oleh suatu kondisi sosial. Ihwal soal konsumsi berawal dari konstruksi suatu nilai. Perubahan bentuk nilai dari sebuah kegunaan, menjadi sebuah simbol kelas yang fungsinya menjadi nilai tukar. Sebuah tujuan untuk mencapai sebuah eskalasi kelas, yang nantinya memperteguh prestis untuk agar diidentifikasikan sebagai kelas tertentu.

Refleksi Atas Ramadhan

Ramadhan seharusnya dimaknai sebagai ibadah yang bersifat duniawai maupun ukhrawi, memupuk rasa takwa kepada pencipta sekaligus memperbaiki tingkah laku di dunia. Tidak sekedar hidup dalam mengejar surga, namun juga peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Belajar memahami dinamika sosial, bahwa ada gerak materi yang disebut penindasan manusia dan alam. Pergeseran nilai atas makna Ramadhan yang lebih hedonis, membuktikan terdapat pergeseran makna yang sangat serius.
Menurunnya kepekaan, hingga perilaku apolitis, pragmatis dan diskriminatif menjadikan perlu meredefinisi ulang, terkait mengapa kita harus berpuasa? Terlebih jika kita masih terjebak dalam persoalan konsumerisme, tindak kekerasan, pembiaran atas penindasan kaum miskin, buruh dan petani dan perusakan alam sebagai kesatuan ekologi.

Maka perlu berkaca dan merefleksikan kondisi tersebut, sambil bertanya “Ya Allah, apakah ibadah ini memang benar-benar telah sesuai anjuranMu, ataupun melenceng dari perintaMu.”

Terlepas dari semua itu, mari kita meluruskan tujuan Ramadhan kita, sebatas ketakutan masuk neraka, tidak dapat pahala, takut dicap kafir atau periodik (hanya ikut trend), atau kembali pada Allah dengan memahami perintahnya secara utuh. Bahwasanya Allah sangat membenci penindasan atas ciptaanNya, baik manusia ataupun alam.

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: