NU (Nahdlatul Ulama’) Perlu Generasi Pegiat Literasi di Era Digital

By: Wawan Purwadi
Banyaknya situs yang menyajikan bacaan terhadap umat muslim di Indonesia untuk menambah wawasan keagamaan. Kini kita sebagai umat harus lebih jeli dalam memilih dan memilah untuk menambah pengetahuan. Karena banyaknya situs yang ada di Medsos (Media Sosial) tidak semuanya mengandung makna menambah ilmu, tapi malah membuat pemahaman umat semakin dangkal.

Sehingga yang terjadi adalah timbul perdebatan yang membuat antar umat muslim tercerai berai demi mempertahankan prinsip teologi mereka masing-masing. Nah, ini perlu dipahami bersama bahwa sebenarnya situs yang ada memang bertujuan ingin memunculkan perdebatan dan permusuhan di antara umat beragama, khususnya dalam umat muslim. Alih-alih ingin mencerdaskan umat, justru malah menjerumuskan kita untuk terikat dalam gelapnya pertikaian yang menyebabkan kerukunan umat menjadi terguncang.

Namun kedatangan musuh yang tak nampak ini masih sebagian orang yang mampu merasakan di antara para pengguna medsos. Malahan pengguna medsos yang tidak bijak dengan bangga mencaci maki saudaranya sendiri, padahal kenal juga tidak. Maka dengan demikian kita mudah diadu domba, yang musuh jadi saudara, yang saudara jadi musuh. Jika ini dibiarkan terus menerus kita sebagai umat muslim yang paling toleran di dunia menjadi bahan tertawaan oleh oknum-oknum yang tidak menginginkan kita hidup damai dan tentram.

Diakui atau tidak ini adalah masalah yang serius, jika kita sendiri sebagai generasi NU tidak membudayakan literasi untuk melawan gerakan ekstrimis yang mengatasnamakan pemurnian islam di berbagai situs medsos. NU harus merekrut kader-kader literasi sebanyak-banyaknya dalam melawan kejamnya dunia digital yang hari ini dijadikan alat perang untuk menghancurkan tatanan, “kemanusian yang adil dan beradab”.

Oleh karenanya, sumber daya manusia (SDM) kader sangatlah penting dalam kemajuan gerakan organisasi. Terlebih organisasi tersebut adalah bagian dari kekuatan Negara. Jika kekuatan besar tidak terorganisir maka akan hancur oleh kekuatan kecil yang terorganisir. Jadi, NU tidak hanya menyiapkan kadernya untuk berpolitik, tapi yang tidak kalah penting adalah ilmuan sekelas KH. Kholil Yahya Staquf, KH. Mustofa Bisri, KH. Ahmad Muwafiq dan yang lainnya.

Jika kita tidak mampu menyiapkan generasi sekaliber ulama yang saya sebutkan diatas. Maka NU akan kekeringan bak musim kemarau yang merindukan hujan.

Salah satu bagian terpenting adalah meningkatkan kualitas SDM generasinya untuk selalu antisipasi kekejaman di era modern. Kita sebagai organisasi yang mempunyai kontribusi besar terhadap Negara harus mampu bertarung dalam segala medan.

Mungkin untuk santri NU soal kitab kuning atau dalam menafsirkan kitab-kitab gundulan sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan diakui oleh dunia. Bahwa Ponpes (Pondok Pesantren) di Indonesia selalu menghasilkan alumni santri yang mumpuni dalam menerjemahkan kitab.

Ingat bahwa gerakan literasi juga tidak kalah penting seperti otot-ototan mempertahankan calon Gubernur Jawa Timur. NU adalah organisasi yang terhormat dan sampai kapanpun harus tetap di hormati. Jangan hanya dijadikan tunggangan mendulang popularitas sebagai tokoh parpol yang berangkat dari tubuh NU.

Misi NU adalah berdakwah syariah, juga menjalankan fungsi filantropis sebagai agen perubahan sosial dan sebagai agen pencerahan umat dengan prinsip teologinya yang membebaskan manusia dari era kegelapan menuju fajar baru peradaban (aufklarung).

Salam Literasi

*penulis adalah angggota NU Pinggiran

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: