Permainan Politik yang Mengancam

Oleh : Wawan Purwadi

Entah mengapa perasaan saya merasa gelisah melihat keadaan politik yang semakin tidak dewasa. Para elit politik tidak menggunakan kapasitas untuk berkompetisi merebut simpati masyarakat.

Mereka cenderung membuat isu yang membuat mereka merasa takut dan kecewa. Karena melihat beberapa aksi yang dilakukan oleh kubu politik, misal aksi 212 sampai aksi 22 mei 2019 yang mengatasnamakan kekecewaan atas hasil pemilu 2019 yang berujung kerusuhan.

Lagi-lagi kita harus berberang dengan saudara sendiri. Pertanyaannya mau sampai kapan bangsa ini menjadi laboratorium politik kotor. Mau ganti pemimpin atau tidak, tidak ada bedanya. Percayalah bung.!, masyarakat sudah jenuh melihat permainan kalian.

Isu yang mereka gunakan untuk membuat gaduh masyarakat banyak hal, mulai terancanmnya NKRI dari gerakan ekstrimis, isu kembali bangkitnya G30S PKI.

Hal tersebut mungkin membuat sebagian orang terbuka kembali memorinya sebagai pemain, penonton atau jadi korban kebusukan di balik G30S PKI 1965. Sehingga dengan isu tersebut ada yang tertawa juga ada juga mungkin yang menangis mengingat kekejaman tragedi itu.

Ini menunjukan kondisi politik yang tidak nampak kualitasnya sebagai negara yang menganut paham demokrasi. Bukan dari, oleh, untuk rakyat.

Tapi sebaliknya, dari, oleh, untuk pejabat elit politik. Sehingga para elit semaunya mempermainkan perasaan masyarakat yang seharusnya mereka perjuangkan haknya.   

Hari demi hari tidak menunjukan kedewasaannya dalam bersaing. Apakah bangsa ini terlalu gagap menghadapi perubahan untuk meraih sebuah tujuan?. Ketika kita kesulitan menemukan kemenangan atau jalan hanya meggunakan cara kotor politik pecah belah, memunculkan konflik disana sini. Bangsa ini begitu cemen, main bola didalam kandang sendiri.

Tentu tidak demikian jawabannya. Kita sudah banyak melewati rintangan apapun yang membuat bangsa ini menderita dari jaman Belanda, Jepang dan bahkan sampai VOC yang telah menjajah bangsa ini. Kita seolah lupa dengan apa yang pernah terjadi terhadap bangsa ini. Mereka para oknum seolah lupa dengan tetes darah yang menetes di bumi pertiwi.

Sungguh miris memang, jika kita melihat perjuangan mereka dinistakan. Entah apa yang ada dipikiran mereka,  sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.

Mari kita pahami kejadian tersebut untuk naik level, bukan malah semakin turun level. Jika kita tidak paham level yang kita lewati, berarti kita termasuk orang yang rugi. Hemat saya ini adalah bermain dengan keadaan yang mengancam.

Mungkin kita selalu menyepelekan hal-hal kecil. Sehingga dengan hal kecil tersebut, malah sering tidak terkontrol apa yang telah terjadi. Kalau Mas Azrul di Jawa Pos pada 20 September 2017 lalu mengatakan bahwa, ia sangat mengkahwatirkan hal-hal kecil obsessive-compulsiv memikirkan hal terlalu detail.

Kalau saya boleh katakan perfek adalah hal yang sangat perlu. Dengan ketelitian, segala kemungkinan akan mudah terkontrol dan ancaman bisa diminimalisir.

Sebenarnya kita sudah faham apa yang kita lakukan.  Tapi kenapa ketika terkadang tidak mampu menjemputnya. Dengan demikian masalah semakin bertambah dan tumpang tindih. Lagi-lagi harus jatuh bangun untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuat oleh kita sendiri.

Yang pasti setiap orang menginginkan perubahan yang lebih baik. Tapi bukan berarti dengan mendapatkan hal tersebut kita memunculkan masalah, bahkan sampai mengorbankan orang lain. Bisa disebut bermain dengan keadaan, sama saja kita mendatangkan petaka. Seyogiyanya kita mengedepankan pikiran kritis dalam mengambil keputusan.

Karena keputusan yang kurang tepat bisa memunculkan masalah bagi kita sendiri. Sampai kapan kita mempermainkan keadaan yang tidak dewasa ini?. Apakah rasa lelah yang membosankan ini belum cukup kita jadikan pelajaran yang berharga.

Kita seolah terlalu hebat sering menciptakan masalah. Perdebatan yang tak berarti sering menyita waktu. Dan terkadang malah menjadi masalah yang cukup lama untuk diselesaikan. Karena kita tidak tahu cara penyelesainya. Padahal masalah itu yang membuat kita sendiri.

Keadaan yang selalu membuat kita berfikir seyogianya menjadi spirit untuk menatap kembali masa demi masa yang telah lalu dan  masa yang mendatang. Atau jangan-jangan ingin menghidupkan kembali masyarakat sipil menjadi keganasan militerisme seperti yang terjadi  di Negara luar sana, seperti di Myanmar bahkan konflik Timur Tengah.

Tentu tidak, jangan sampai jerit dan tangis menjadi irama kepedihan. Sudah saatnya keadaan ini berubah menjadi lebih baik. Karena guru yang baik adalah pengalaman yang kita lewati, entah pengalaman baik atau buruk yang pernah terlewatkan. Bagian itulah yang kemudian menjadi referensi kedepan untuk merubah keadaan. Karena Allah Swt tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak berusaha untuk berubah. (*) 

,

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *