Potensi Wisata Gunung Katong Banggilan Tuban

Oleh : Linda Tri Sumarno*

Gunung Katong ini berada kurang lebih 100 meter dari Belik Kembar. Untuk sampai di Gunung Katong, kita harus melewati kondisi jalan yang menanjak sekitar 45 derajat.

Gunung Katong merupakan petilasan Eyang Katong yang makamnya berada di Ponorogo. Saat ini, Gunung Katong juga digunakan sebagai Petilasan Lintas Ghaib oleh Jamaah Sholawat pimpinan salah satu putra dari pengasuh pondok pesantren di daerah Singgahan. Jamaah Sholawat di Gunung Katong tersebut melakukan pengajian dan amaliyah keagamaan. Hal inilah yang menjadikan Gunung Katong sebagai salah satu tempat yang dikeramatkan di Dusun Tawun.

Jadi, ketika kita berada di atas Gunung Katong, harus tetap menjaga sopan santun dan etika, baik dalam perkataan maupun tingkah laku, yang lebih penting, jangan sampai meninggalkan sampah dalam bentuk apapun di gunung ini. Karena, pecinta alam sejati bukan mereka yang telah menjelajah ribuan pulau, tapi pencinta alam sejati adalah mereka yang mampu menjaga alam dari segala kerusakan, terutama sampah.

Itulah beberapa potensi alam yang ada di Dusun Tawun. Sangatlah pantas, jika potensi Dusun Tawun ini dikemas menjadi sebuah rangkaian tempat wisata yang berbasis alam, yang nantinya para pengunjung akan dimanjakan oleh suasana dan nuansa pedesaan yang masih kental dan alamnya yang masih perawan.

Pengunjung akan diajak untuk menikmati sejuknya udara dan berkeliling menyusuri tempat wisata yang menarik, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor. Hal ini menjadi salah satu jalan bagi penduduk Tawun untuk bisa meningkatkan kesejahteraan hidup, apabila Tawun bisa berkembang menjadi Desa Wisata. Konsep dan tata kelola dapat ditangani oleh para penduduk yang bekerjasama dengan pihak Perhutani dan pemerintah setempat.

Mutiara di tengah hutan ini sangat disayangkan, jika masih terus tertutup oleh lebatnya dedaunan. Sudah saatnya, Tawun pada khususnya dan Tuban pada umumnya bangkit dan berbenah untuk kemajuan dan kemakmuran desa. Sehingga, angka kemiskinan dapat berkurang dan hilanglah status Tuban sebagai Kabupaten termiskin nomer lima di Jawa Timur. Kita harus mendobrak desa, menggerakkan perubahan.

Jika ingin menikmati aroma mistis dan keindahan alamnya, segera langkahkan kaki untuk sampai di tempat ini, dengan senang hati, saya akan menemani.

Tawun itu indah, maka melangkahlah. Tuban itu hijau, maka rawatlah. Indonesia itu mempesona, maka jelajahilah. Tabik.

* Linda TriaSumarno, perempuan penggerak literasi. Aktif di komunitas Kali Kening Tuban. Perempuan kelahiran Tuban, 20 Mei 1984 ini aktif menulis, beberapa karya sudah dihasilkan yang salah satunya menjadi Best Seller di Tuban, “Eutanasia”. Penulis beralamatkan di Dusun Mundri RT 02 RW 10 No. 601 Desa Sidodadi Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban 62364. Email: [email protected]

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *