Tuban Adalah Kita, Sebuah Narasi yang Ironis

Oleh: Wahyu Eka S*

Tuban adalah kita, sebuah suguhan visual dan audio yang menakjubkan. Membingkai dengan cerita sudut pandang orang ketiga, sedang berbicara, mengenang, menjelaskan mengenai Tuban dalam multi-perspektif. Alangkah berdebarnya, seakan-akan merangkai rajutan Tuban yang terpisah-pisah. Ibarat sebuah diaspora, orang-orang berpencar jauh dari kampungnya. Namun ada setitik kerinduan akan Tuban.

Narasi yang dicipta dalam Tuban adalah kita, mencoba menjabarkan kondisi Tuban dengan keberagamannya, kekayaannya dan keindahannya. Namun itu semua ironi, bagiku adalah sebuah sarkasme menggelitik. Kenapa? Bagiku Tuban tak seindah itu, ada balutan problem yang kini tengah menderanya. Krisis sosial lingkungan hidup (ekologis) tengah mendera kabupaten yang mayoritas wilayahnya bercorak bebatuan karst.

Jika Tuban kaya akan sumber daya alamnya, itu memang benar demikian adanya. Tetapi, saya tegas menolak istilah sumber daya alam yang sifatnya eksploitatif, kekayaan yang hanya bercondong pada sisi manusia saja (Antroposentris). Padahal alam mempunyai hak untuk lestari, bukan hanya dieksploitasi selayaknya kondisi terkini, ketika alam hanya dimaknai untuk di ekstrasi saja.

Manusia membutuhkan alam, ketika sebuah dieksploitasi secara masif, maka kerugian yang nyata akan menghinggapi manusia. Bencana mudah datang, kekeringan, banjir, perubahan iklim, kerusakan ekosistem, bahkan faktor ekonomi dan kesehatan turun menjadi ancaman. Manusia memang diberkahi dengan akal yang kreatif, mampu memanfaatkan segala kekurangan dengan memodifikasi situasi, tapi mereka punya batasan yaitu budaya. Budaya inilah yang menjadi pembatas atas tindakan banal dan boros manusia.

Kini Tuban dipenuhi kerakusan, investor-investor yang hanya melihat kesejahteraan sebatas CSR, pekerjaan, namun realitasnya semakin mengalienasikan manusia dari kesadaran. Bayangkan pekerjaan rata-rata mempunyai kualifikasi, tidak semua bisa menjadi karyawan menengah mapan. Kebanyakan dihisap, haknya dikebiri, seperti upah dan hak-hak normatif pekerja lainnya. Belum lagi semakin menyempitnya lahan pertanian akibat konversi ke industri. Petani semakin pusing, nelayan tambah pening. Mengapa demikian? Selain tanahnya yang diambil, mereka menghadapi kondisi alam yang tak menentu, pupuk kimia yang semakin jumawa, orientasi keuntungan melupakan hakikat relasi alam dengan manusia.

Oh iya Tuban adalah Kita, merupakan sebuah kontradiksi alami, ketika oligarki pemegang kuasa mencoba menampilkan wajah bahagia. Kita pun tak bisa memakai argumentasi bahwa kemiskinan hanya sebatas angka, tingginya angka kemiskinan memang dapat menjadi argumen sampahnya industrialisasi di Tuban.

Namun itu juga menjadi dalih untuk semakin menggenjot investasi, baik pusat maupun daerah, hanya berdasarkan rendahnya angka. Ada hal lain yang perlu dilihat, yaitu kebahagiaan dan relasi sosial yang lenyap ketika munculnya industrialisasi tak tahu diri.

Bagaimana budaya gotong royong, kolektif mulai hilang, kini semua menjadi lebih pragmatis. Corak masyarakat berubah, tidak ada lagi musyawarah atau membantu tetangga, adanya simbiosis mutualisme, persaingan dan untung rugi.

Sisi-sisi inilah yang tidak dilihat sebagai suatu yang sistemik. Melihatnya hanya sebatas parsial, hanya pada satu aspek saja. Tidak melihat kemiskinan, kekacauan dalam sebuah simptom-simptom yang menjadi rangkaian utuh. Apa sih yang salah? Jelas yang keliru adalah kerakusan, investasi besar-besaran hanya akan merusak tatanan. Sisi ekonomi harus berjalan dengan sosial dan lingkungan hidup secara kompleks.

Lantas apakah Tuban adalah Kita? Ya Tuban adalah kita, tapi mereka.

Ketika demokrasi hanya diartikan sebatas milih memilih, untung rugi dalam konteks ijon politik, itu pseudo-demokrasi. Demokrasi itu ya ketika Bupati mau mendengarkan dan mengadvokasi warga Remen yang menolak tanahnya diambil. Demokrasi itu ya Bupati membantu warganya yang tanahnya diambil dengan proses licik, seperti di Gaji. Demokrasi itu ketika Bupati takut sama rakyatnya. Dan demokrasi itu ketika Bupati diajukan dari masyarakat, bukan klaim mewakili rakyat. Demokrasi itu alam dan manusia berdamai tanpa saling mendominasi.

Tuban adalah kita, ehm sebuah ironi.

*penulis adalah pemerhati lingkungan dan aktivis walhi jatim

Gambar: captured from youtube

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

One thought on “Tuban Adalah Kita, Sebuah Narasi yang Ironis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: