Resensi: Mahbub Junaidi & Khittah NU

Peresensi: Muhammad Rouf

Judul buku: Mahbub Junaidi & Khittah Plus NU

Tanamkan ke kepala anak-anakmu bahwa hak asasi itu sama pentingnya dengan sepiring mas“(Mahbub Djunaidi)

Belakangan ini, demam buku-buku karya Mahbub Djunaidi semakin mewabah seiring berjalannya waktu dan mudahnya mengakses sebuah informasi. Banyak buku-buku Mahbub Djunaidi yang di cetak ulang. Semakin memudahkan untuk lebih mengenal mahbub dari karya-karyanya. Sejurus dengan itu, semakin banyak pula orang-orang yang menulis buku tentang Mahbub Djunaidi. Buku memoar tokoh NU yang terlupakan terbitan Tebuireng, buku “Bung” memoar tentabg Mahbub Djunaidi terbitan Yayasan Obor Indinesia yang ditulis oleh putranya, Isdandiari Mahbub Djunaidi dan Iwan rasta, dan yang terbaru adalah buku “Mahbub Djunaidi dan Khittah Plus NU” yang saya tulis sendiri dari sudut pandang saya sendiri sebagai pengagum, hanya pengagum, tak lebih.

Buku ini muncul atas keprihatinan terhadap generasi yang kurang mengetahui sosok Mahbub Djunaidi. Sosok luar biasa yang kemudian seolah hilang di telan peradaban. Mahbub Djunaidi memang tidak sepopuler Gus Dur. Tapi jangan salah, urusan bangsa, urusan tulis menulis, urusan NU, Mahbub tidak kalah dengan Gus Dur. Saya tidak mencoba ubtuk membanding-bandingkan bung Mahbub dengan Gus Dur. Saya hanya ingin menyetarakan. Bahwa bila anda tahu Gus Dur tapi tidak tahu Mahbub saya rasa ini sebuah kesalahan kita semua. Mengapa kita tidak mempelajari dan lebih mengenal sosok Mahbub dengan mudahnya nengakses informasi dan karya-karyanya yang sudah tidak sulit lagi.

Mahbub Djunaidi adalah seorang tokoh yang lahir di Jakarta pada 27 juli 1933 dari paaangan H. Djunaidi dan ibu Muchsunati. Mahbub adalah anak pertama dari 13 bersaudara. Jarang sekali orang yang tahu siapa saja saudara Mahbub, karena informasi yang ada tidak pernah menjelaskan dengan detail sosok Mahbub termasuk saudara-saudaranya. Ok, saya akan menyebutkan saudara Mahbub dengan singkat. Anak pertama adalah Mahbub Djunaidi, kemudian Muhibbah, Mohammad Izzi, Masfufah, Kuupa, Masyrafah, Opah, Sofie, Masykur, Yayoh dan saudara kembarnya (tidak ada informasi mengenai nama saudara kembarnya Yayoh).

Dalam urusan menulis, sudah tidak bisa diragukan lagi keahlian Mahbub dalam dunia tulis menulis. Pendekar pena sebutannya. Jemarinya sangat lihai dalam menulis yang sudah banyak menghasilkan karya-karya hebat dengan gaya khasnya. Humor gaya betawi sangat melekat dalam setiap tulisannya. Sayang, karya-karya mahbub sangat sulit di akses, seolah tertimbun sangat dalam. Akhir-akhir ini saja semua karyanya mulai di cetak ulang dan memenuhi pasaran. Bagi pengagum karya Mahbub hal ini adalah sebuah harta karun yang bisa dinikmati setelah bertahun-tahun (di)hilang(kan). Seperti bukunya Pram, mulai muncul kembali dan banyak berjejer di rak toko buku kesayangan pemiliknya masing-masing.

Mahbub djunaidi sebagai sosok yang membangkitkan gairah dan semangat kepemudaan di Indonesia, bukti nyata adalah dengan turut sertanya beliau mendirikan organisasi kepemudaan di tingkat mahasiswa. PMII lahir dari buah pemikiran dan campur tangan Mahbub. Beliau tokoh pendiri yang sekaligus ketua 2 periode. Tapi sayang, bagi masyarakat umum Mahbub di kunci dengan PMII. Sebagian bahkan kebanyakan orang menganggap bahwa Mahbub adalah orang PMII, memang tidak ada yang salah dengan anggapan itu, tp harus diketahui juga bahwa Mahbub adalah pengurus HMI sebelum diculik oleh NU dan mendirikan PMII. Mahbub bukan hanya milik PMII, ia milik HMI, Mahbub milik wartawan Indonesia, Mahbub milik NU, Mahbub milik kita bersama, Mahbuh milik orang Indinesia bahkan dunia.hehehe

Soal pemikiran, ada beberapa pemikirannya yang sangat luar biasa dan dapat mempengaruhi sebuah tatanan. Hanya ikan mati yang akan selalu mengikuti arus, tapi bagi ikan hidup ia akan terus melawan arus. Gambaran itulah yang pantas untuk Mahbub. Mahbub yang memotori terbentuknya undang-undang pokok pers, mahbub pula yang memunculkan gagasan bahwa indonesia adalah negara maritim disaat pemerintah tidak memanfaatkan kekayaan alam di bidan kemaritiman. Dan satu lagi pemikiran yang sangat luar biasa yang muncul ketika NU kembali ke Khittah 1926. Pemikiran itu muncul dengan istilah “Khittah Plus”.

Khittah Plus NU adalah bukti bahwa Mahbub adalah ikan hidup. Ia berani melawan aeus deras kubu Khittah 1926. Ia tahu resikonya, karena NU baru saja membuang baju politiknya (politik praktis) dan kembali menuju ” trayek” awal berdirinya sebagai organisasi sosial keagamaan. Masyarakat NU berEuforia karena kejenuhan politik NU yang selalu di dzolimi ketika peraturan pemeribtah membonsai partai politik dan mengharuskan NU fusi ke PPP. Pemikiran yang muncul pada tahun 1987 itu harus layu sebelum berkembang. Karena bagi mahbub, dengan meninggalkan politik praktis akan menjadikan NU yang punya masa terbesar di Indonesia harus menjadi penintin saat berlangsungnya Pilkada. NU menjadi perawan cantik yang di tarik ulur kontestan partai politik untuk mendulang suara. Mahbub setuju dengan Khittah tapi mahbub tudak setuju kalau NU meninggalkan pilitik praktis. Memang secara individu khittah tidak melarang berpolitik tetapi secara organisatoris NU tidak berpolitik. Tapi apakah itu berjalan mulus?

Nyatanya tidak. Setelah NU kembali ke Khittah dan menyatakan netral dari partai politik NU melakukan penggembosan tehadap PPP dan menggembungkan GOLKAR.

Adapula SK PBNU NO.01/PBNU/I-1995, 11 januari 1985 tentang rangkap jabatan dan penguatan Khittah 1926. Yang intinya melarang pengurus NU di semua tingkatan untuk tidak merangkap jabatan di partai politik. Kemudian di jelaskan pula di SK NO.015/A.11.04d/III/2005, yang menjelaskan pelarangan merangkap jabatan politik. Jabatan politik adalah meliputi presiden dan wakilnya, Menteri, Gubernur dan wakilnya, Bupati dan wakilnya, Walikota, DPR RI/DRPD. Sekarang kita bisa lihat bersama siapa saja tokoh pengurus NU yang menduduki posisi jabatan politik. Saya tidak usah menjelaskan satu persatu? Anda pasti sudah tahu yang saya maksud.

Pemikiran Mahbub tentang Khittah Plus NU adalah sebuah keunginan Mahbub agar tokoh tokoh NU bisa menduduki pos-pos penting dalam pemerintahan yang harus si dukung oleh suara NU. Seperti jabatan langganan NU yakni Menteri agama. Pemikiran yang dianggap kontroversi ternyata diam-diam diamalkan oleh NU. Peraturan pemerintah tentang fusi partai yang turut menghalangi pemikiran Mahbub. Buktinya, ketika reformasi, NU kemudia mendirikan PKB yang di dalamnya di isi oleh pengurus NU. Dan mengaklaim bahwa PKB adalah partainya orang NU. Apakah ini tidak melanggar khittah NU 1926 dan SK PBNU. Jadi pemikiran siapa yang relevan untuk kasus ini? Saya rasa anda sudah bisa menyimpulkan sendiri.

Dan satu lagi, pemikiran tentang Khittah Plus hilang dari sejarah NU. Tidak penah di diskusikan di ruang-ruang sempit akademisi NU. Ada apa ini?

Saya rasa cukup untuk menjelaskan siapa Mahbub Djunaidi dan perannya. Saya harap setelah ini anda bisa mengenal Mahbub layaknya anda mengenal Gus Dur dan tokoh terkenal lainnya

Oiya, saya juga berharap adapula orang- orang yang setiap tanggal 27 Juli mengucapkan selamat ulang tahun kepada Mahbub seperti yang saya lakukan 5 tahun belakangan ini, meski beliau sudah wafat 23 tahun yang lalu…

Lahul faatihah…..

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: