Sepenggal Cerita di Buku “PAGI BERDARAH KALI KEPET”

Semua berawal ketika Negara Api menyerang..!!!!!. eh, Negeri kincir angin deh. Ya, semua dimulai ketika iring-iringan kapal Belanda mendarat di pantai Glondong pada tanggal 18 Desember 1948. Kedatangan 3 kapal besar dan 7 kapal kecil memecah keheningan di Desa Glondong Kecamatan Tambakboyo. Menjadi malapetaka dan ujian terhadap keutuhan NKRI yang baru menenggak sebuah kemerdekaan.

Melihat datangnya kapal asing yang diatasnya berkibar kain triwarna, merah-putih-biru, petugas pantai segera melaporkan kepada Letda B.K . Nadi selaku Komandan ODM. Letda B.K. Nadi bersama Camat Dwijosumarto, Brigpol martodiharjo, dan Serma Lasiban segera bergerak kearah Glondong dengan menggunakan sepeda onthel. Dalam sekejap ramai riuh di Glondong berubah sunyi senyap. Semua warga bergerak cepat meninggalkan Glondong mengarah ke selatan menuju Desa Merkawang yang berjarak sekitar 7 Km.

Pagi harinya, tanggal 19 Desember sekira pukul 10.00 WIB. Pasukan Belanda sudah siap dengan 44 kendaraan untuk berkonvoi, tetapi pergerakan cepat dari para pejuang Tuban telah berhasil menghalau pasukan tentara Belanda dengan menghancurkan jalan-jalan dan jembatan yang akan dilalui Belanda yang akan bergerak ke Bojonegoro.

Sedangkan satu rombongan konvoi lainnya bergerak mengarah ke Kota Tuban pada tanggal 20 Desember 1948. Rombongan Belanda masuk ke Kota Tuban dan langsung memporak-porandakan bangunan-bangunan yang di lewatinya. Tidak ada perlawanan yang berarti waktu itu, secara hitung-hitungan diatas kertas, pasukan tentara Tuban sudah kalah jauh dengan Belanda . sebab mengetahui kemampuan yang dimiliki Belanda sangat kuat, mengharuskan rombongan pemerintahan harus bergeser kearah selatan menuju Desa Prunggahan Wetan. Sedang pasukan KDM di bawah pimpinan Kapten R.E Soeharto berada di Prunggahan Kulon.

Tuban benar-benar kacau, dengan sekejap Kota Tuban sudah berhasil dikuasai oleh pasukan Belanda. Tuban menjadi kota penuh ancaman. Belanda sudah berada diatas angin, menguasai sepenuhnya Tuban, merenggut kemerdekaan yang sudah sangat dinantikan bertahun-tahun. Kini dirampas lagi.

Setelah mencicipi nikmatnya sebuah kemerdekaan meski hanya sekejap, cukup untuk mengumpulkan sisa-sisa semangat untuk melakukan perlawanan. Rakyat Tuban bersama pemerintah, kepolisian dan militer telah manunggal. Semakin diserang maka akan semakin kuat perlawanan yang akan di berikan. Hal ini terbukti dengan penyerangan-penyerang yang dilakukan oleh pejuang Tuban dengan cara bergerilya di beberapa titik yang ada di Tuban.

Tanggal 7 Januari 1949, terjadi aksi penghadangan yang dipimpin oleh Lettu Tambunan terhadap tiga truck Belanda dan berhasil memukul mundur tentara Belanda. Tanggal 11 Januari di tahun yang sama, 14 truck Belanda berhasil dihancurkan dengan ranjau yang sudah dipasang pejuang Tuban. Kemudian di Merakurak, di Desa Mondokan, di Kecamatan Soko, hingga Kecamatan Senori. Di Kecamatan Senori inilah Letda Sucipto gugur ditangan pasukan Belanda bersama Raji, Muridan dan Masib. Tempat meninggalnya Letda Sucipto hanya ditandai dengan sebuah tugu kecil di area persawahan di Desa Tapen yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Pertempuran demi pertempuran terus terjadi di tuban, meski banyak korban jiwa diantara para pejuan dan rakyat yang rumahnya dibumi hanguskan oleh Belanda, hingga muncuk sosok sederhana bernama H. Maksum Badroen atau biasa dikenal dengan Carik Badroen. Bersama dengan Kiai ja’far dan Serma Moestajab berhasil membantai 5 tentara Belanda dan 1 pembantunya. Semua dilakukan dengan rapi tanpa ada kesalahan sedikitpun.
Kisah selengkapnya bisa di baca di buku “PAGI BERDARAH KALI KEPET”….

Buku ini merupakan sepenggal kisah perjuangan rakyat Tuban untuk merebut kembali sebuah kenikmatan kemerdekaan. Buku tipis ini hadir sebagai rasa prihatin terhadap kondisi sejarah di Tuban yang mulai hilang. Tuban merupakan kota tua yang kaya akan kisah dan sejarahnya. Tetapi, layaknya orang yang sudah tua, penyakit pikun (pelupa) tidak bisa terhindarkan. Dan Tuban sedang mengidap penyakit lupa, hingga melupakan sejarahnya sendiri.
Negeri ini dibangun dari sebuah cerita, seekor kucing bisa berubah mencadi singa akibat terlalu sering mendengar cerita rimba, bukan berubah wujudnya, melainkan semangatnya.

“Tuhan sudah menjamin rejekimu, tetapi tuhan tidak pernah menjamin surgamu, maka berjuanglah”.

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: