Hikayat Kak Bed dan Hasyim: Pemuda yang Tak Puasa

Wahyu Eka. S

Siang terik menyengat, benar-benar menyiksa. Di suatu tempat yang teduh, seorang cendekiawan ternama duduk-duduk santai, masyarakat sekitarnya cukup mengenal dia dengan sapaan Ketua Hasyim. Mungkin karena tingkat kealiman dan kebijaksanaanya mirip kharisma Suharto dan batur setianya Harmoko. Ilmunya tinggi dan tak bisa digoyah. Kecuali dengan aksi massa dan cyber attack itupun butuh waktu satu dekade lamanya.

Singkat cerita Hasyim bertemu dengan seorang pemuda Bajingan, entah darimana asalnya, tidak jelas. Hasyim yang alim tidak suka dengan kelakuan pemuda tersebut, karena di bulan ramadhan penuh berkah ini, dia dengan santainya merokok, kebal-kebul sambil sesekali nyeruput anggur kolesom.

“Mas sampeyan enggak puasa,” tanya Hasyim

Pemuda tersebut hanya mendelik menatap tajam Hasyim, sesekali menghisap rokoknya. Parahnya asap rokoknya disemburkan ke muka Hasyim. Berhubung tingkat kesabaran Hasyim setingkat Pak Harto, maka tidak marahlah dia, cukup senyum saja. Selebihnya dia hanya mengelus dada, sambil mengucapkan “Astagfirulloh.”

”Mas siapa yang suruh sembur asap ke muka saya, siapa ? Orang tuamu ya ? Pacarmu ? Pak Likmu ? Kyaimu ? Habibmu ? Gurumu ?” kata Hasyim agak kesal saat mencoba menegur pemuda jahanam tersebut.

Pemuda tersebut masih sama kelakuannya, bahkan diulangi lagi. Matanya masih mendelik, melihat Hasyim. Tampak raut mukanya tidak bersahabat, terlihat sangat marah sekali. Hasyim sebagai pemuda alim pilih tanding, kembali berujar dengan nada agak melunak. Agar tidak terjadi gesekan yang serius.

“Mas sebenarnya tak masalah jikalau sampeyan mau merokok, itu sah-sah saja, tapi mbok ya hormati yang lagi berpuasa.” Kata Hasyim

Namun lagi-lagi pemuda itu masih mendelik, bahkan berdiri menantang Ketua Hasyim.

”Tenang mas, tenang, saya hanya memberi tahu, toh kalau tidak dipakai ya enggak apa-apa” Hasyim was-was, karena jika dia marah, lalu dia sampai terpancing, maka sia-sialah puasanya.

Pemuda itu kembali duduk, rokoknya telah habis, namun ia menyalakan lagi. Hasyim semakin bingung, ini orang pasti sedang menguji kealimannya. Namun Hasyim tetap sabar, selalu beristigfar agar tak marah menghadapi manusia mbalelo macam pemuda tersebut.

Tampak dari kejauhan ada seseorang yang melambaikan tangannya, “Hoi Syim, Ketua Hasyim,” teriak orang tersebut.

” Yoo, ono opo Kak Bed, ” jawab Hasyim pada orang itu.

Perlahan orang tersebut yang ternyata lelaki kharismatik, cukup familiar, idola kita semua, pemimpin majelis cangkruiyah, Kak Bed itulah namanya.

“Ketua, sampeyan lapo ndek sini?” Tanya Kak Bed, agak penasaran bin kepo.

“Ini lo ada pemuda yang tak kasih tahu, jangan rokokan dan nganggur merah pas bulan puasa,” jelas Hasyim.

“Loh emange kenapa?” Tanya Kak Bed keheranan.”

“Ya gini lo Kak Bed, kalau dia rokokan itu akan menganggu yang lainnya,” Hasyim mencoba klarifikasi.

“Ya tidak masalah lo Ketua, masak kita puasa kalah hanya karena rokok,” sanggah Kak Bed.

Hasyim menjawab lagi sesuai dengan idealisme dia sebagai alumni pondok besar, ”ya bukan begitu, gak etis saja, gak punya rasa hormat.”

Kak Bed tampak gemas sama pernyataan Hasyim, dengan kemampuan kognisi level filsuf, Kak Bed bilang ke Hasyim, jika puasa itu tidak hanya menahan hawa nafsu atau tidak hanya sekedar makan dan minum. Lantas jika kita puasa masih memikirkan hal dasar, mempertanyakan sesuatu yang katanya menggoda. Berarti ada yang salah dengan niat puasa kita. Bukankah puasa itu melatih diri, bukan membenarkan diri untuk melakukan tugas Tuhan dan Malikatnya. Sebagai pengawas umatnya, polisi, tentara sekaligus KUHP bagi umat.

Hasyim tampak tidak terima dengan kata-kata Kak Bed. Dia mulai menduga jika pemikiran Kak Bed ini liberal, sekelas Gus Ulil, Abdul Mosqith dan Ahmad Sahal. Jelas Kak Bed menurut Hasyim, pemikirannya bertentangan dengan idealismenya, Islam yang kaffah. Dialog antara Hasyim dengan Kak Bed terus berlanjut.

“Kan yang penting sampeyan wes mengingatkan, itu sudah bagus tidak usah memaksa,” terang Kak Bed.

“Bukane begitu Kak Bed, tapi dia masih muda, tak seharusnya begitu,” terang Hasyim, yang merasa sudah tepat yang dilakukannya.

“Duh Syim- Hasyim, apa kamu sudah tanya dia itu kenapa? Minimal tanya ke orang sekitar dia itu siapa,” tanya Kak Bed.

Hasyim hanya bisa garuk-garuk kepala, seraya berkata ”Dia pemuda dan Islam agamanya.”

Kak Bed ketawa keras sekali, Hasyim kemudian mulai naik pitam dan berteriak keras ke Kak Bed, “Apa maksudmu Bed.”

Tiba-tiba Kak Bed menarik tangan Hasyim, lalu Hasyim disuruh nanya ke Ibu-ibu yang barusan pulang Sholat Dzuhur.

“Assalamualaikum Bu Siti” sapa Kak Bed.

“Waallaikumsalam Bed” Jawab Bu Siti.

Bu siti penuh keheranan bertanya kepada Kak Bed, “Ada apa Bed, kok aneh gitu.”

“Jadi begini Bu, itu si Salim sejak kapan pulang dari RSJ ?” Tanya Kak Bed.

“Baru kemarin Bed, entah sembuh atau tidak, tapi cukup baik lah, palingan yo rokoknya itu agak resek.” Jawab Bu Siti.

“Oh yasudah Bu, makasih”, Kak Bed tersenyum ke Bu Siti.

Ada yang berubah dari raut muka Hasyim, tiba-tiba merah padam.

“Kenopo kamu Syim, marah ta mbek aku.” Kak Bed langsung konfrontasi dengan Hasyim. Karena sebenarnya, Kak Bed ingin sekali nyikat Hasyim yang terkenal kaku dan suka menjadi yang paling benar. Sementara itu Hasyim masih mecucu.

“Posoku ngene iki batal enggak Kak Bed,” tanya Hasyim.

Sontak Kak Bed kaget, kok Hasyim berubah sikapnya. Ibarat kata dia mengalami turbulensi. Lalu Kak Bed berkata ke Hasyim, “Ya coba sampeyan tanya ke pemuda itu saja,” tawa Kak Bed Pecah.

“Yaudah kalau gitu, aku pamit dulu,” mendadak Hasyim pamitan ke Kak Bed karena menahan malu atas ujian puasa hari ini.

“Loh baru ketemu kok pulang Ketua Hasyim, iki lo ono Pemuda jaluk disadarno,” sindir Kak Bed.

“Asssss saaa Asssssuuu kowe Bed” Hasyim memaki Kak Bed, sehingga mengagetkan jagat persilatan, sampai-samapi Bupati yang konon sakti merasa terganggu. Namun karena dasarnya sabar, dia meminta maaf ke Hasyim dengan santun,

“Hasyim maafkan Bed yak.” Sambil pasang muka flirting.

“Ayo melu aku Bed,” ajak Hasyim.

“Kemanakah?” Jawab Kak Bed polos.

Sambil berjalan menuju motor, Hasyim seraya berkata,”Ngopi karo rokokan, sembari menunggu beduk magrib.”

Kak Bed bingung masak seorang Ketua Hasyim yang level syariatnya sudah di atas, harus mokel karena pertengkaran tadi.

“Yowes nek gak gelem. Aku budal dewe, hawane wes maghrib,” kata Hasyim sambil nyetater motornya.

Kak Bed hanya bisa meringis teringat kejadian tadi sambil garuk-garuk kepala, “perasaan ini masih dzuhur deh, hanya langit sedang mendung saja,”.

Sementara Ketua Hasyim pergi tak karuan rimbanya, Kak Bed berpikir ini sebenarnya percakapan apa. Menurutmu?

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: