NALURI 007

Oleh: Wenny Arie Puji Susanti*

Setiap ada yang kehilangan sesuatu, hati ini tak pernah bisa acuh tak acuh. Tergerak untuk menguak misteri kehilangan. Sifatku ini sudah kumiliki sejak masik duduk di bangku SD, menyukai hal-hal yang berkaitan dengan misteri atau rahasia semacam agen rahasia atau detektif. Hobiku sewaktu kecil menonton kartun detective conan plus komiknya, cerpen detektif, sinema bergenre detektif semacam Mission Impossible, James bond dan lain-lain. Entahlah, bagiku sangat menarik. Apalagi jika misteri itu terpecahkan. Rasa syukur sangat kurasakan, dapat membantu orang lain.

Sifat ini sampai sekarang masih mengalir dalam darahku. Sebagai Guru BK. Problematika siswa sangat beragam, dari yang ringan sampai berat. Salah satunya, kehilangan handphone yang dialami oleh siswa.

Masalah hilang handphone sungguh menguras energi jiwa dan raga. Tidak hanya saat ketemu pelakunya, namun tindak lanjut dari tanggung jawab tersebut sungguh melatih kesabaran dan keikhlasan. Menghadapi dinamika orang tua yang juga memiliki masalah masing-masing. Sehingga, sekolah punya aturan melarang membawa handphone ke sekolah.

Namun, dengan semakin pesat perkembangan teknologi. Pada saat ulangan berbasis komputer tertentu siswa diwajibkan membawa handphone atau laptop. Siswa membawa ke sekolah.

Kecenderungan anak yang kehilangan hp adalah anak yang teledor kurang bisa menjaga barang berharga, dibiarkan ditinggal di kelas, dipinjamkan dari teman satu ke yang lain. Sehingga, terjadi kehilangan. Kehilangan terjadi karena dua hal. Pertama, dikerjain oleh teman. Kebiasaan kurang baik, bercanda berlebihan mengambil hp teman dibawa pulang menunggu sampai menangis lalu keesokan hari baru dikembalikan. Yang kedua sengaja diambil untuk keperluan pribadi. Bisa digunakan untuk keperluan pelaku mengikuti gaya hedonis. Apa itu hedonis? Hedonis adalah gaya hidup senang-senang saja. Jalan-jalan, makan-makan, hura-hura, piknik dan lain-lain.

Pelaku menggunakan perbuatan yang tidak baik itu juga untuk hal yang kurang baik. Membeli rokok, memberikan hadiah untuk pacar, makan-makan dengan kelompoknya tidak sadar diri kalau dirinya berasal dari keluarga yang perlu berjuang, bahkan mentraktir temannya saat ulang tahun. Sungguh menyedihkan.

Sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak baik, akan mengarahkan pada hal yang tidak baik. Pelaku yang sudah diketahui dilakukan pendampingan secara berkelanjutan. Tidak cukup satu dua kali, namun harus dibentuk pembiasaan baru agar perbuatannya dapat berubah lebih baik. Di sinilah yang sudah kurasakan, ketika berhasil membimbing siswa kembali ke jalan yang benar. Menjadi anak yang jujur dan berakhlak. Semakin mendekatkan diri dengan sang pencipta. Bagiku adalah hal yang amazing.

Setiap anak punya hak untuk mendapat kesempatan. Beri kepercayaan, motivasi, dampingi, dorong untuk mengasah pada kelebihannya. Sehingga kesalahan-kesalahannya yang bagaikan bintang di langit dapat terkalahkan oleh kelebihannya yang bersinar terang bagaikan sinar mentari.

Hari ini Senin, 18 Maret 2019, ada kejadian kehilangan hp. Hal ini tak bisa kubiarkan. Aku pun mulai beraksi menelurusi setiap kemungkinan. Menyusuri lorong-lorong sepi ditemani malaikat Rakib dan Atid. Ku periksa semua detail tempat yang mungkin ada si hp. Mengikuti para tersangka. Kemanapun dia pergi. Bekerja sama dengan rekan sejawat dan beberapa guru yang lain. Segala upaya kulakukan semaksimal mungkin. Ada dua kemungkinan keisengan atau kesengajaan.

Setelah semua proses ikhtiar pencarian dilakukan, kututup dengan doa mengharap Allah bisa mengetuk hati si pelaku keisengan atau kesengajaan. Lalu, di sore hari ku baca kabar gembira. Hp itu sudah berada dalam tas pemiliknya. Alhamdulillaah.

Rasa syukur karena sudah ketemu, namun ini masih merupakan PR bagiku sebagai guru BK yang punya tugas mendidik secara psikoedukatif. Perilaku iseng atau sengaja yang perlu dirubah agar menjadi pribadi yang berkarakter dalam rangka meraih tujuan pendidikan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus. Jalan yang diridhoi. Semoga. Aamiin.

Surabaya, 18 Maret 2019

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *