Napak Tilas Desa Dikir dan Isro’ Miroj Nabi Muhammad SAW

Wawan

Sedikitnya 1.500 dari berbagai unsur masyarakat bertumpah ruah menghadiri Pengajian Umum dalam rangaka meringati Isro’Mi’roj Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan oleh Ta’mir Masjid Baitul Amin Desa setempat (03/04/2019).

Pengajian bersama KH Agus Sunyoto.

Dari 1.500 tersebut mulai dari Jama’ah tahlil dan masyarakat tetangga sebelah. Pengajian umum tersebut adalah acara rutinan yang selalu dilaksanakan dalam bulan Tajam.

Pengajian tersebut dihadiri oleh tokoh nasional Prof. Dr. KH. Agus Sunyoto, M.Pd, yang sekaligus juga Pengurus Pusat LESBUMI PBNU.

Menurut ketua pelaksana Muridan, Kyai Agus kami undang adalah tokoh yang tepat untuk membuka tabir asal usul / napak tilas desa Dikir. Dengan niat meneguhkan amalan Ahlussunnah Wal Jama’ah didesa Dikir. Sehingga mengambil tema, “ Uri-Uri Tradisi NU (Nahdlatul Ulama’) Sebagai Penguat NKRI”.

Tujuan tersebut adalah untuk napak tilas perjuangan para ulama’ di desa setempat. Jika ini bisa konsisten kita lakukan, harapannya adalah utuk meningkatkan ukhuwah islamiya di desa Dikir.

Sementara itu, Kepala desa juga menyampaikan semoga acara semacam ini selalu bisa kita laksanakan dan semoga terus meningkat kualitas keagamaan kita sebagai masyarakat yang majemuk.

“Kades juga menyinggung bahwa ikhtiar ini adalah untuk membawa desa dikir lebih baik dalam tataran agama yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah”. Sedangkan acara ini adalah menguatkan warga NU dan untuk mengigat kembali para tokoh pejuang agama di desa Dikir.” katanya.

Pada acara inti Kyai Agus menyampaikan. Sejarah nusantara, tradisi acara orang nusantara yang kemudian d reduksi menjadi budaya islam itu bukan soal budaya Hindu dan Buda. Tapi, adalah media wali songo untuk mengislamkan orang jawa yang paling sulit diislamkan oleh para wali.

Ditaklukan manusia lahir melewati tujuh tahap, Ajaran Wali songo adalah serat aksara Jawa dalam memberikan ajaran islam d tanah jawa, bukan bahasa arab. Dan jangan sampai ajaran islam dihilangkan.

Karena ajaran tersebut memenuhi konsep rahmatan lil’alamin. Para wali dalam memberikan ajaran juga memberikan bahwa, para wali tidak menghilangkan penghormatan terhadap orang hidup maupun mati. Sehingga ajaran wali songo harus tetep dipegang teguh dan tetap diamalkan.

Dalam penutupnya, menyampaikan bahwa orang islam NU harus tetap memgang teguh ajaran islam yang damai dan orang islam harus pandai bersyukur karena Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah ajaran islam yang paling damai. Karena ajaran tersebut adalah ruh islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW (*)

,

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *