Petani Adalah Pahlawan Kemerdekaan

Oleh: Mutholibin

Jika diukur dari umur, usia negeri ini tidak ada apa-apanya dari usia petani. Sebelum negeri bernama Indonesia berdiri, eksistensi petani sudah jauh diakui.

Pertanian memang menjadi landasan dari seluruh peradaban. Namun demikian, ternyata pertanian itu berasosiasi dengan kemiskinan petaniannya, kecuali untuk petani yang berada di negara-negara maju. Rata-rata petani di negara maju bisa lebih makmur daripada penduduk non-petani pada umumnya. Hal sebaliknya terjadi pada petani di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Kalau demikian adanya, apa makna kemerdekaan bagi petani?

Di satu pihak, petani dan pertanian telah memerdekakan sebagian besar penduduk negara melalui penyediaan pangannya. Argumen ini dibangun atas dasar fakta bahwa orang yang paling tidak merdeka adalah orang yang kelaparan. Juga, bangsa yang tidak merdeka adalah bangsa yang kelaparan. Dapat dibayangkan bagaimana rasanya apabila untuk menyambung hidup saja kita harus bergantung pada bantuan pihak lain.

Kondisi kelaparan ini lebih parah daripada kemiskinan, walaupun kemiskinan itu sudah tak boleh ditoleransi. Pertanian sebagai pekerjaan budaya telah memerdekakan kita semua yang bekerja bukan sebagai petai karena kerja keras dan ketulusan para petani, kita tidak kelaparan.

Sekarang, apa dukungan kita kepada petani dan pertanian? Kalau pola konsumsi pangan kita menjauhi hasil produksi petani di Tanah Air, ini suatu keputusan yang menggambarkan disloyalitas kita kepada petani. Masalah enak-tidak enak, atau masalah selera, pada dasarnya juga hasil pembentukan proses kultural yang terjadi dalam jangka panjang. Selain kehebatan iklan dalam mengubah selera konsumen, peran industri pengolahan pangan dengan sistem pengirimannya melalui berbagai jaringan dagang atau jasa ke hadapan konsumen sangatlah besar.

Disloyalitas konsumen terhadap jenis pangan lokal akhirnya berkembang dengan kecepatan yang makin pesat.
Apa salahnya kalau saya tidak menyukai pangan lokal? Menarik, apabila kita melihat fenomena Jepang, yang telah menjadi negara maju. Sampai-sampai negara Jepang pernah menjadi penyuplai beras Bulog yang di bagikan kepada warga yang tidak mampu di Indonesia.(saya ingat betul dengan gambar bendera Indonesia dan bendera Jepang di karung bulog ketika zaman orde baru, soalnya mak saya pedangang beras, jadi ya ileng phool). hehehe

Pertahanan dan kemajuan ekonomi negara ini terletak pada selera konsumennya atas hasil produksi dalam negerinya. Hal ini berlaku umum pada negara maju.
Intinya adalah bahwa konsumen di negara maju pada umumnya loyal terhadap produk pertanian mereka, sehingga petaninya makmur. Kemakmuran petani ini juga didukung oleh kebijakan subsidi untuk menjaga kelimpahan pangan. Karena itu, bahasa yang lebih jelas mungkin bukan subsidi, melainkan belanja negara untuk membeli kelimpahan pangan agar selalu terjaga. Tetapi di Negara Indonesia Subsidi seperti hal yang langka, lihat saja subsidi pupuk. Petani ketika tanam padi, jagung, tembakau sangat kesulitan mendapatkan pupuk, sampai petani membeli pupuk mahal sekali. Belum lagi ketika petani Indonesia panen padi, jagung dan tanaman-tanaman lain, pasti harga anjlok, hancur se hancurnya sampai petani tidak mampu mengembalikan modal dalam pertanian.

Pertanyaannya adalah dimanakah peran pemerintah?

Perlu kita ketahui bersama bahwa Negara yang maju adalah negara yang memberikan kemakmuran terhadap petani. Karena petani adalah sumber peradaban bangsa. Ketika petani sudah merdeka dan sejahtera, maka kesulitan pangan atau terjadinya wabah kelaparan, penjajahan-ketidakmerdekaan manusia bisa diatasi.

Dalam naskah-naskah sejarah diuraikan, petani dan warga pedesaan merupakan penopang utama keberhasilan merebut kemerdekaan. Tidak hanya menyediakan tempat persembunyian, peran petani dan warga perdesaan paling penting ialah menjamin logistik para pejuang. Mustahil pejuang menang perang dengan perut kosong. Petanilah yang menjamin logistik dalam perjuangan bangsa Indonesia

Tulisan ini saya persembahkan kepada Marhaenis sejati, Mbah Kasimin dan Pak Sumani yang berada di Tuban sebelah selatan sana. Beliau bagi saya adalah Pahlawan Bangsa saat ini. Hidup Petani. Merdeka!

Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: