Kepahlawanan dalam Film Gundala: Perlawanan Kritis yang Terpatahkan

Gundala adalah sebuah film yangg asing bagi saya. Selain tidak mengikuti komiknya, saya juga bukan pecandu film superhero. Selain karena nama Joko Anwar, saya tertarik menonton –ketimbang nonton Bumi Manusia garapan Hanung –karena ia adalah Gundala, figur Super Hero yang diciptakan, oleh dan untuk, INDONESIA.

Di menit-menit awal tayangannya, jujur, saya menaruh harapan yang besar –Ini bahkan membuatku menangis. “Film ini sukses menceritakan Indonesia luar dalam,” batinku. Baik lattar-setting atau topik cerita yang diangkat berhasil menggambarkan itu.

Setting permukiman sangat sederhana atau kumuh yang berdampingan dengan pabrik besar, gerbong kereta yang digunakan tempat tinggal anak jalanan, atau kondisi kuno pasar traditional, menjadi representasi Indonesia undercover, yang kerap disepelekan.

Begitu juga, narasi eksploitasi buruh, pekerja anak, dan premanisme terhadap pedagang pasar (secuil narasi tentang pelacuran dan sejarah, juga tidak bisa diabaikan). Kita tentu tak bisa menutup mata untuk itu, sebab itu semua Ada dan Nyata. Maka, ketika di awal, ayah Sancaka (a.k.a. Gundala) berkata, “Yang tidak terketuk hatinya melihat ketidakadilan, dia bukan Manusia,” saya sungguh tertampar.

Ya, saya menangkap bahwa atsmosfer perlawanan terhadap ketidakadilan, cukup sukses tergambarkan di film ini. Bisa dikatakan lebih dari 85%. Nafas kritik politiknya pun juga bisa tercium. Dalam karakter dan sepak terjang Pengkor, seorang mafia cum bohir penguasa legislatif yang disegani oknum anggota dewan itu, misalnya. Pengkor juga digambarkan sering mendaku sebagai rakyat untuk menyentil para anggota dewan itu.

“Saya ini rakyat, masa’ saya tidak berhak untuk menemui wakil saya?” Ditambah lagi, munculnya satire atas idealisme politikus muda (Ah, di negeri ini kerap kali idealisme mampu membunuh diri sendiri, bukan?) Sayang, semua narasi itu malah jadi semacam konflik sampingan. Tidak dimanfaatkan atau dibangun sebagai klimaks. Bagi saya, itu jadi “njeketek” gegara konflik per-beras-an yang malah diusung sebagai konflik puncaknya.

Ya, kepaduan narasi yang sudah berhasil dibangun, justru runtuh gegara itu. Jika saya ibaratkan dengan masakan, rasa yang harmonis dan sudah lumer di dalam mulut, tiba-tiba saja dikacaukan dengan satu rasa aneh yang menonjol dan malah membuat masakan itu tidak begitu menarik. (Atau bayangkan, kamu memakan kerikil diantara kunyahan nasi yang pulen).

Bagi saya, munculnya konflik per-beras-an itu semacam jadi extranous variabel. Narasi klimaks dengan meracuni beras untuk ibu-ibu hamil di seluruh negeri supaya generasi mendatang Amoral menjadi mengacaukan semua itu. Saya tidak menemukan benang merah, antara konflik-konflik “kecil” di sekitar Gundala, dengan konflik utama yang harus ia selesaikan. Premis cerita Gundala kacau tersebab ini.

Saya curiga, klimaksnya dibuat seperti itu untuk memangkas durasi waktu. Alih-alih menciptakan konflik yang dibangun dengan isi yang padat, konflik ini terkesan kosong melompong. Saya jadi membayangkan konflik utama yang berbeda begini:

1. Untuk merusak generasi, tidak harus lewat makanan, tetapi bisa lewat media. Tentu ini tak perlu diragukan keampuhannya. Kalau dibuat sains-fiction, mungkin bisa digambarkan bagaimana framing informasi atau tata kalimat yang kacau itu bisa merusak struktur otak manusia dan ini bersifat seperti bom waktu. Atau bagaimana berita-berita bohong yang disebarkan dan kebenaran disembunyikan, mampu merusak akal sehat manusia. (Ah, maaf, saya memang tak handal meimajinasikan ini. Minim kreatifitas).

Tapi, toh, pemanfaatan media sebagai kendaraan politik atau agenda pribadi oleh “oknum tertentu”, sudah dilakukan dari abad-ke abad, sampai saat ini. Dan ini juga dekat dengan kehidupan Gundala yang bekerja di percetakan koran dan senang membaca. Jadi, resonansi dari konflik utama tidak terlalu jauh dengan si aktor utama. Pun, karakter Pengkor akan lebih hidup (dan kekinian) jika dia digambarkan sebagai penguasa media.

2. Menjadikan anak buah Pengkor sebagai agen permusuhan.
“Anak-anak yatim” yang dibesarkan Pengkor banyak yang berhasil dan tersebar di mana-mana, baik profesi maupun tempat peredarannya. Di sini, mereka bisa dikader dan dijadikan agen permusuhan itu. Misal, mereka semua diberi misi untuk “meracun” orang-orang di sekitarnya, yang mengakibatkan mereka jadi agresif, seperti zombie. Dan racun ini bisa menular lewat keringat atau mencium bau nafas. Akibatnya, mereka akan kehilangan perasaannya. Mereka gemar menindas, memukul, dan menjarah. Pada titik inilah Gundala beraksi dan melaksanakan misinya: Melawan penindasan dan ketidakadilan.

(Frame anak-anak yatim ini cukup mengganggu juga sebenarnya. Saya berpikir, ketimbang anak yatim, kenapa tidak anak terlantar atau buruh anak. Saya bayangkan dari dinamika psikologisnya, penderitaan dan stigma (yang diberikan kepada mereka) bisa menjadi bahan bakar yang kuat untuk menyulut api dendam. Dan inilah yang dimainkan oleh Pengkor, sehingga karakter dari anak buahnya pun akan kuat. Ini juga dapat dimainkan sebagai ancaman –berbau kritik –kepada kaum moralis, yaitu mereka yang melihat benar salah dari norma kenormalan (dalam bingkai modal), bukan kemanusiaan.

3. Kalau mengangkat peracunan beras terhadap ibu hamil sebagai konflik utama, sedari awal bisa digambarkan narasi terkait isu ibu dan anak. Baik dari kesehatan fisik, psikis, dan politik-sosial, sebenarnya ini adalah isu yang kaya. Misalnya saja, latar belakang masa kanak-kanak yang suram, yang dialami Gundala dan Pengkor bukanlah karena adanya isu perburuhan, melainkan isu kesehatan ibu dan anak.

Hm, tetapi saya membaca ini semua memang bukan dari kacamata seorang penikmat film super hero. Pun imajinasi saya juga masih minim akan hal ini. Saya tak tahu bagaimana atau dalam hal apa saja sebuah harapan akan tatanan kehidupan dunia lebih baik bisa dititipkan kepada Super Hero. Toh, Pengkor juga sudah mengingatkan, “harapan bagi rakyat adalah candu. Dan candu itu berbahaya.” Jadi, anggap saja, ini semua adalah sebuah utopia (seorang nyinyiris) belaka.

Ditulis oleh: Maryama Nihayah, (Pemerhati Psikologi Sosial)

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *