​Pagi yang tenang dengan balutan sinar mentari tersenyum cerah. Kicauan burung-burung menjadikan melodi beriring merdu. Udara berkabut selimuti daun yang masih tertidur pulas.

Rasa lelah bercampur kantuk masih terlihat jelas diwajah tuanya. Pagi buta menuntutnya untuk beraktivitas. Langkah kaki yang mulai keriput menuju pada suatu tempat di mana beliau mencari nafkah untuk keluarga. 

Nggarap sawah/ladang adalah tempat yang setiap harinya dikerjakan oleh beliau. Tak peduli panas dan hujan. Beliau adalah sosok pekerja keras, pantang menyerah demi anak-anaknya. Istri yang selalu menemaninya, meskipun itu lewat sesuap nasi, adalah bentuk perhatian kecil yang diberikan oleh isterinya. Rasa sayang dan cinta mereka pupuk setiap harinya, meskipun dengan cara yang sederhana. 

Rumah yang masih beralas tanah, dengan tiang yang masih terbuat dari kayu, menjadi tempat berlindung mereka. Biar pun sederhana, tapi kasih sayang cukup kaya. Beliau mempunyai lima anak, namun tiga di antaranya sudah berumah tangga. Dua diantaranya masih sekolah. Anak-anak adalah alasan pertama bagi kedua orang tua untuk sukses kelak. Apapun akan dilakukan, asalkan tugas mereka sebagai orang tua terlaksana dengan baik. Hidup yang serba pas-pasan tak membuat keluarga ini menyerah. Begitu pun dengan salah satu anaknya, ia berbakat di bidang olahraga. 

Namanya Tiwi. Tak ada yang menyangka, bahwa dia mahir memainkan bola volley, termasuk orangtuanya. Gadis kalahiran tuban 10 april 1993 itu membuktikanya lewat permainan yang apik dalam sebuah kompetisi. Tiwi mengenal bola volley sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kelas 3. Itu berawal dari menonton kakak kelasnya yang kerap main volley. Jadi, ia ikut-ikutan latihan.Namanya tak pernah absen dalam segala event berbau bola volley. Prtestasinya tak hanya berhenti ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, tapi juga saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Misalnya dalam kejuaraan POPDA mewakili Tuban di Surabaya. Terkadang dia di Bon main kesana-kemari, dengan bayaran yang tak seberapa. Sejauh apapun itu, dia tidak peduli, karena sesungguhnya yang dicari adalah sebuah pengalaman dan punya banyak teman. Banyak prestasi, tapi jangan pernah menyombongkan diri, adalah nasehat yang selalu diajarkan oleh kedua orangtuanya.

Tiwi adalah pribadi yang mandiri, setiap harinya, dia membantu orangtuanya berkebun. Lingkungan tempat dia tinggal, kebanyakan dari mereka, pekerjaan cowok menjadi pekerjaan cewek juga. Dia tak pernah segan untuk membantu ayahnya pergi mencari rumput. Meskipun demikian, dia mampu mengatur waktu, antara hobby dan membantu orang tuanya. 

Jiwa yang tak mau memperlihatkan wajah sedih di depan teman-temanya adalah karakternya, dengan kepribadian yang sedikit tertutup. Setiap kali mendapati masalah, dia memilih untuk diam dan merahasiakannya. Senyum ceria diperlihatkannya, agaknya sebagai jurus, agar tidak ada banyak pertanyaan dari teman-temannya. Dia yang sedikit tomboy, cuek, dan humoris dikenal baik oleh teman-teman, maupun orang di sekitarnya. Sungguh pribadi yang sangat polos dan Pribadi yang unik, untuk gadis seusianya yang belum mengenal parfum.Berangkat sekolah dengan rambut dikuncir satu, sederhana dan tanpa make-up. Dan belum ada niatan untuk merubah sedikit penampilannya. Menurutnya, “aku ya aku, ini aku bukan kamu”. Kalimat yang simple tapi terkadang sulit untuk kita tiru. 

Menjadi orang sukses dengan hobby yang tetap berjalan lancar sekaligus membahagiakan orang tua adalah cita-cita terbesarnya. Begitu pun kedua orang tuanya yang ingin melihat dia sukses dengan pekerjaan tetap. Terkadang, rasa pesimis itu muncul, ketika kaki yang tulus dan bersungguh itu sedikit terhenti. Tapi dia percaya, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dia berpikir, bahwa setiap kerja keras pasti membuahkan hasil. Semangat yang berkobar itu untuk kedua orangtuanya. Karena orangtua adalah alasan utama untuk sukses.

Ketika masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas, dia dinobatkan menjadi pemain terbaik dalam rangka Polres Cup di Tuban. Tak hanya itu, namanya mulai melambung tinggi tahun 2011, dia ikut KEJURDA atas nama Blora. Semua itu dipersembahkan untuk kedua orangtuanya. Bermain di luar wilayah Tuban merupakan pengalaman pertamanya, sekaligus merupakan kebanggaan. Ia telah dipercayai oleh sang pelatih. Tahun 2011, dia lulus sekolah. Wajah gembira bercampur haru nampak pada dirinya dan teman-temanya. Ketika ditanya mau melanjutkan kemana?,  Tiwi hanya diam dan tersenyum manis. Karena,  saat itu belum terpikirkan dia mau melanjutkan kemana. Sampai suatu hari, dia ditawari oleh pelatih Kudus untuk melanjutkan kuliah di Semarang, dengan tidak membayar uang sepeser pun. Tempat tinggal juga sudah disediakan oleh sang pelatih. Pada saat itu keputusan orangtua terserah padanya,karena orangtua hanya bisa mendukung. Tak hanya dukungan dari kedua orangtua saja,semua pelatih maupun guru-guru dari SMP,SMA mendukungnya untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya tawaran dari sang pelatih di setujui. Tiwi mengambil S1 Pendidikan geografi di IKIP Veteran Semarang. Pertama kali disana belum punya teman atau saudara yang ada disana,tapi seiring berjalanya waktu dia banyak menemukan keluarga baru termasuk pelatihnya. Banyak suka duka yang dirasakan saat berada disana. Tapi bersama teman-teman volley,dia bisa berbagi dan mampu untuk melewati setiap masalah itu. . Memang kuliah gratis,tapi untuk kebutuhan sehari-hari dia harus mencari. Latihan,latihan dan latihan selalu dia kembangkan untuk menjadi yang lebih baik lagi. Terkadang rasa lelah itu membuyarkan mimpinya,dan sempat dia ingin vakum dari volley karena permainannya jelek.Tapi dia berfikir lagi,dia seperti sekarang ini karena volley.September 2014 dia dinobatkan menjadi spike cewek terbaik di Makasar. Dia seperti artis yang manggung kesana-kemari tapi tidak dipanggung melainkan dilapangan. Menjelajahi kota mulai dari Jawa Timur,Jawa tengah sampai ke Masamba(SULSEL). Itu adalah pengalaman yang sangat luar biasa,tapi ketika dia main volley orangtua belum pernah melihatnya secara lagsung,padahal dalam hati dia ingin orangtuanya melihat langsung saat bermain.Bayaran maen kesana kemari dia kumpulkan untuk biaya kuliahnya,dia tidak pernah meminta kepada orangtuanya karena keluarganya tidak mampu membiayai untuk hal tersebut. Namanya juga tenar di kampusnya,salah satu prinsipnya adalah “Dimana aku berada tujuanku adalah memperbanyak teman.” Prinsip sederhana tapi belum tentu semua orang bisa melakukan itu. Sesekali dia memberi kabar kepada orangtuanya,begitu pun sebaliknya. Bukan karena dia tidak sayang tapi itulah dia,cuek tapi sangat sayang kepada orangtuanya.Dia tidak pernah berani curhat tentang kehidupan disana maupun suka dukanya,karena dia tidak ingin melihat orangtuanya sedih ataupun cemas. Yang selalu dia ingat ketika telepon adalah orangtua selalu mengingatkanya untuk sholat,jaga diri dan jangan sombong. Terkadang dia terharu mendengar nasihat orangtuanya yang begitu tulus. Dia tidak berani pulang kalau tidak membawa uang untuk keluarganya,jika pun terpakasa untuk pulang dia harus menyimpan malu karena tidak membawa uang.Pernah suatu hari dia pulang tidak membawa uang,kebetulan saat itu orangtuanya sedang panen,dia diberi uang saku Rp 200.000,00 hatinya ingin menangis melihat orangtuanya yang memberi uang saku. Batinya bukan memberi uang malah meminta uang. Mau tidak mau tiwi menerima pemberian orangtuanya. Dia berjanji untuk selalu membahagiakan orangtuanya yang selalu senantiasa mendo’akan dengan pekerjaan apapun itu yang penting halal.ingattt..“Kerja teras tidak akan menghianatimu”

About Tuban Literasi

Komunitas Gerakan Tuban Menulis
View all posts by Tuban Literasi →